Pendidikan Penyadaran ala Paulo Freire

Sumber The Columnist

Penyadaran pada hakikatnya tidak mengenal batas akhir. Mengingat proses itu membawa tujuan membentuk manusia yang berkualitas. Pembentukan akan dilakukan secara berkelanjutan, variatif dan konstruktif serta membenahi perilaku. Model penyadaran seperti itu sudah pernah dicoba dicari, dirumuskan dan diterapkan oleh para tokoh pendidikan.

Masyarakat dihampir seluruh belahan penjuru dunia, berada dalam cengkraman kolonialisme, imperialisme dan diktatorianisme. Perhantian terhadap pendidikan kurang terperhatikan.  Bila hal ini dibiarkan terus menerus, maka pembodohan akan langgeng dan kekuasaan yang korup tak tergantikan.

Dalam sejarah pemikiran pendidikan, kita mengenal sejumlah tokoh besar yang memberikan kontribusi penting, di antaranya adalah Muhammad Abduh (1849–1905), John Dewey (1859–1952), Rasyid Ridha (1865–1935), Ki Hajar Dewantara (1889–1959), Paulo Freire (1921-1997). Masing-masing dari mereka hadir bukan hanya sebagai pendidik, melainkan juga sebagai pejuang yang mengabdikan hidupnya untuk mengangkat martabat manusia melalui jalur pendidikan. Bagi mereka, pendidikan bukanlah sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan sebuah jalan panjang untuk membebaskan manusia dari keterbelakangan, kebodohan, dan belenggu penindasan.

Kesamaan pandangan yang mereka miliki adalah keyakinan bahwa penyadaran pendidikan harus dilakukan secara massif, sistematis, dan terukur. Artinya, pendidikan harus dirancang dengan perencanaan yang matang, dilaksanakan secara menyeluruh, dan berorientasi pada tujuan jangka panjang, yakni mencetak manusia yang mampu menjaga keberlangsungan suatu bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Lebih dari itu, mereka menekankan bahwa pendidikan tidak boleh tercerabut dari akar budaya bangsa sendiri. Hanya dengan berpijak pada nilai, tradisi, dan kebudayaan asal, pendidikan dapat berfungsi sebagai sarana pembentukan identitas yang kuat sekaligus sebagai pilar untuk menghadapi perubahan zaman.

Denis Collins dalam bukunya “Paulo Freire: Kehidupan, karya dan Pemikirannya” (2011) menjelaskan, Freire yang lahir pada 19 September 1921 itu menjadi salah satu pelopor kebangkitan menumpas kebutaan aksara di Brazil. Kesadaran ini tentunya dipengaruhi oleh pemikir pendahulu, dalam filsafat, Plato berhasil mempengaruhi cara berfikir filosofis, sedangkan dalam menganalisis realita, Marx berhasil memikat dan mendorongnya. Dalam filsafat pendidikan ada Mariatin, Bernanos dan Mounier.

Ia mengembangkan konsep pendidikan kritis kepada masyarakat. Menyadarkan bahwa kebodohan harus dilenyapkan. Mereka diberikan bekal agar kelak dapat mencapai kesejahteraan, melalui hasil kesadaran manusia yang sejati.

Kita mengetahui bahwa kolonialisme dan imperialisme membawa berbagai macam paham dan sengaja ditanamkan pada masyarakat negara terjajah, ini artinya secara perlahan mencerabut akar kebudayaan asli dan krisis indentitas pun terjadi. Untuk itu perlu diadakan sebuah gerakan yang dapat membentengi keaslian, melestarikan dan memperkenalkan keunikan suatu bangsa. Bukan justru malah dihilangkan dengan kebengisan.

Dari pengamatan yang terjadi di masyarakat, Freire, menemukan banyak keganjilan yang dilakukan oleh penguasa. Masyarakat terbiarkan pada alam kebodohan, dieksploitasi dan dirampas kedaulatannya. Represi yang terus dilakukan membuat masyarakat tidak berani berimajinasi dan berubah.

Pendidikan yang diterapkan oleh imperialisme dipandang tidak memberikan dorongan ke arah penyadaran, namun, justru seakan terkesan sebagai eksploitator dan anti-kritik. Ruang dialog konstruktif seakan absen dalam proses pembelajaran antara guru dan murid. Praktik demikian menciderai hakikat pendidikan yang mana diadakannya pendidikan ialah tidak lain memberikan penyadaran.

Freire membangun filsafat pendidikan dimulai dari manusia. Manusia adalah makhluk historis. Kedudukan manusia berada dan menjadi, yang artiya manusia diciptakan dan menciptakan realitas sejarah. Pandangan itu bertumpu pada manusia secara fitrah mempunyai kapasitas untuk mengubah dirinya, dan kesanalah arah pemikiran pendidikan Freire yakni mengantarkan manusia menjadi subjek.

Dari situlah, kita mengetahui pada dasarnya dialog adalah fitrah manusia yang melekat pada dirinya. Tidak mungkin membungkam manusia untuk tidak berkata-kata. Dialog merupakan jembatan yang mempertemukan sesama manusia untuk mengubah. Hanya dengan itu, pendidikan yang humanis dapat tercapai untuk melepaskan diri baik sebagai orang tertindas atau orang yang menindas.

Freire dalam buku “Pendidikan Kaum Tertindas” (2025) melakukan kritik terhadap model pembelajaran gaya bank yang disebut sebagai alat penindasan. Sebagai solusi yang ditawarkan, Freire mengajukan sebuah konsep pendidikan yang di istilahkan hadap-masalah (alat pembebasan). Praktik ini lebih realistis dan objektif yang mencoba mengajak masyarakat melepas dari ketidaktahuan yang mendasar.

Secara singkat, Freire dapat dipandang sebagai tokoh pendidikan yang menekankan pentingnya peran kesadaran dalam proses belajar. Bagi Freire, pendidikan bukan hanya sarana untuk menyalurkan pengetahuan, tetapi juga jalan untuk menumbuhkan kesadaran diri manusia agar menjadi pribadi yang utuh.

Ada 3 kesadaran menurut Freire: Pertama, kesadaran magis, yaitu kondisi ketika ketidakadilan sosial dianggap sebagai sesuatu yang wajar, alami, dan tak terelakkan karena diyakini sebagai takdir Tuhan. Kedua, kesadaran naif, yaitu keadaan ketika masyarakat mulai menyadari adanya persoalan sosial di sekitarnya dan memahami gejala yang muncul, namun belum mampu menemukan atau memberikan solusi yang tepat. Ketiga, kesadaran kritis, yakni tingkat kesadaran yang lebih matang, di mana masyarakat dapat menafsirkan masalah secara mendalam serta melihat bahwa akar persoalan berasal dari sistem yang berlaku.

Kesadaran bukan sekedar intrumen, melainkan juga tujuan akhir pendidikan. Melalui kesadaran itulah manusia mampu memandang dunia sebagai ruang dialog, menyadari keterbatasannya, sekaligus berupaya terus-menerus untuk menjadi lebih manusiawi.

Kehidupan dan perjuangan Freire sebagai seorang pendidik tetap dipenuhi optimisme, meskipun ia harus melewati masa-masa sulit berupa kemiskinana, penjara, dan pengasingan. keteladanannya tercemin dari komitmen kasih, serta harapan besarnya terhadap dunia pendidikan.

Tinggal di wilayah yang sebagian besar penduduknya mengalami kelaparan, hidup dalam keterpinggiran dengan “kebudayaan bisu”, Freire hadir untuk membangkitkan kesadaran setiap orang agar berani mengambil tindakan mengubah kenyataan yang menindas.

Dadang Wiratama
Dadang Wiratama

Lurah Cedak.id

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *