Tahlilan yang Menjelma Petaka

Sumber nursyamcenter.com

Seandainya Nabi Muhammad tahu ini bisa jadi beliau bersabda dan mengharamkan tahlilan.

Pada saat saya masih kecil momen menunggu bapak saya pulang dari hajatan adalah momen yang membahagiakan. Karena sebentar lagi akan makan enak dengan lauk telur rebus atau syukur-syukur lauknya ada ayam ingkungnya. Lalu makanan dari tahlilan (Baca: Berkat) itu kami santap sekeluarga, tidak jarang aku berebut rempeyek dengan adikku. Sungguh membahagiakan.

Sebagai anak yang tumbuh di lingkungan masyarakat NU maka disela-sela pertumbuhan gizi saya ada asupan berkat serta lauk pauknya dari tentangga yang mengadakan tahlilan. Tradisi tahlilan sudah sangat mengakar kuat hingga saat ini. Saya tidak akan membahas hukum tahlilan yang masih saja diperdebatkan entah sunnah,  bid’ah, musryik atau apapun itu.

Setelah dewasa ini banyak tahlilan yang saya ikuti atau bahkan keluarga saya sendiri yang melaksanakan tahlilan sebagai tuan rumah. Saya menemukan sisi lain dari tradisi tahlilan yang telah mengakar kuat ini.

Saya melihat bahwa tahlilan bukan sekedar orang berkumpul lalu melantunkan surah Yasin dan tahlil. Bukan sekedar pelafalan doa dan pengampunan bagi orang yang telah meninggal. Tidak, jauh lebih rumit dari itu.        

Suatu ketika saya sudah dewasa dan ikut sinoman yang bertugas untuk membantu sebagai pelayan (Jawa: Pladen) diacara tahlilan kematian tetangga, saya mendengar keluahan seorang ibu. “Besok di kasih lauk apa ya, belum mikir snek dan berkatnya. Harus cari pinjeman”, sambatnya dengan lesu.

Bayangkan saja orang yang baru saja ditinggalkan keluarganya masih harus memikirkan suguhan bagi para jamaah. Belum lagi ini akan berlangsung hingga tujuh hari, empat puluh, seratus, setahun hingga seribu hari.

Dalam pikir saya, bukannya tahlilan ini bersifat sunnah yang tidak ada ikatan wajib didalamnya. Tujuannya juga untuk mendoakan arwah orang yang telah meninggal juga bersedekah yang pahalanya untuk orang di alam kubur. Tapi kenapa kok orang harus susah payah mencari pinjaman untuk melaksanakan kesunahan ini.

Kalau saya perhatikan lagi, ternyata pelaksanaan tahlilan hari ini sudah sangat berbeda dari saat saya kecil. Dulu berkat yang dibagikan kepada para tamu undangan sangat sederhana, dengan wadah besek dan kresek hitam. Isinya pun sangat sederhana, nasi dibagian bawah lalu ditutup potongan daun pisang diatasnya ada telur rebus satu butir, tumisan kacang, mie dan rempeyek layu di pojoknya.

Sekarang ketika tahlilan kematian semacam ada peraturan tak tertulis yang mengharuskan isi berkat bagi para tamu undangan. Tidak lagi dengan besek tapi baskom yang lebih gede, nasi dan lauknya pun lebih mewah. Tidak lagi dengan telur rebus tapi potongan daging minimal ayam bisa juga kambing atau sapi, sambel kentang ati, mie, rempeyek juga amplop putih isi lima ribu (Baca:Kerah). Ada kalanya  orang terlebih kaya atau ingin dilihat kaya bisa pakai rantang susun bukan lagi baskom.

Kalau tahlilan berubah menjadi kewajiban dan ajang adu pamer seperti ini akan berdampak buruk bagi masyarakat. Iya, kalau keluarga menengah keatas untuk bersedekah dengan mewah disaat tahlilan tidak ada salahnya. Bagaimana dengan keluarga petani miskin yang hidup serba pas-pasan ?!. Mereka akan dipaksa untuk berhutang agar terhidar dari celaan tetangga.

Evolusi tahlilan ini saya rasa bisa membawa dampak buruk bagi sosio-ekonomi masyarakat. Kalau dibiarkan terus, orang yang memiliki ekonomi tinggi akan seenak jidatnya hadir dengan ide-ide kreatifnya memodivikasi isian berkatnya saat tahlilan.

Sedangkan masyarakat ekonomi rendah petani kecil akan bersusah payah untuk mengejar standart tahlilan yang kian meninggi dengan segala lilitan hutang piutangnya. Kalau masih menyajikan dengan berkat yang sederhana akan disambut rasan-rasan tetangga lainnya.

Bisa jadi tradisi tahlilan yang tujuan awalnya mulia berubah menjadi fenomena yang meresahkan. Bukan pahala yang diterima arwah orang yang didoakan malah beban hutang piutang karena gengsi belaka.

Harus Ada yang Bertindak

Seperti yang saya katakan di awal, Nabi Muhammad kalau melihat fenomena ini akan bersabda dan mengharamkan kegiatan ini. Karena Nabi Muhammad tidak akan membebankan umatnya seperti ini. Bukankah harusnya bersedekah dengan semampunya, bukan bersedekah dengan segala gengsi dan penilaian sosial masyarakat.

Sebelum kekacauan ini semakin meluas dan menjadi-jadi, harus ada yang bertindak. Tidak bisa lagi kita melihat fenomena ini dengan sepele.

Hal ini bisa kita tanggulangi kalau ada peraturan yang mengatur regulasinya. Kalau sulit dari tingkatan atas menunggu MUI atau Kemenag, kita bisa mulai dari lapisan arus bawah. Melalui RT yang langsung bersinggungan dengan masyarakat. RT bisa bekerja sama dengan kyai kampung untuk membenahi ini semua. Memberi pengertian kepada masyarakat tentang tahlilal.

Anjuran mengadakan tahlilan yang semampunya, larangan mencela suguhan berkat yang telah disediakan. Larangan untuk jangan memaksa hutang guna melaksanakan tahlilan.

Dengan begitu keluarga kelas menengah kebawah tidak akan malu lagi menyuguhkan dengan kemampuan ekonominya. Tidak ada rasa ketakuatn akan di maki dan digunjing dengan ibu-ibu tetangga lainnya. Juga kita bisa lebih menghargai pemberian orang lain. Mari kita kembalikan tradisi yang baik ini sebelum menjadi petaka yang mengerikan. Begitu kiranya.

Muh. Ganis Fauza
Muh. Ganis Fauza

Mas-mas biasa yang masih bernafas

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *