Nostalgia dan Maskulinitas dalam Puisi-Puisi Kuda Mardi Luhung

Sumber Foto Pribadi

Pintu bar Warung Angkringan Kampung Seni (AKAS) memang sudah terbuka, namun suasana masih tampak sepi. Penjaga terlihat sedang gopoh mempersiapkan perkakasnya. Sebab, sore itu, 18 April 2026, akan berlangsung rutinan Guneman Sastra#30, bedah buku Tiga Kuda di Bulan Tiga dan Lampirannya (2022). Selang tiga puluh menit berjalan, seketika berubah.

Sembari menunggu, saya membuka buku dan berniat menyelesaikan beberapa puisi, tanpa memesan terlebih dahulu. Sesekali mengamati dan memastikan siapa yang datang. Beberapa menit kemudian, seorang penyair besar asal Gresik, Mardi Luhung beserta anaknya, Aji Ramadhan, menaiki kudanya dengan gagah memasuki pelataran AKAS.

Saya cukup canggung bisa bertemu langsung dengan mereka berdua. Dua orang yang benar-benar tak pernah terbayangkan, bisa dan berkenan hadir di Guneman Sastra#30.

Tidak lama berselang, Pak Lurah Cedak.id, Dadang Wiratama datang mengenakan kaos bertuliskan Cedak.id yang tampak gagah dan estetis, membuat setiap orang yang pernah menulis di sana ingin memilikinya. Disusul Ahmad Farid Yahya dengan sekardus berisi buku-buku koleksi kesayangannya yang akan ia jual kelewat miring. Lalu, Alfiandika Arif P, salah satu penulis di Cedak.id, AHJ Khuzain sang fenomenal, juga Sazma Aulia Al Kautsar, anak Pak Herry Lamongan, penyair besar yang tinggal dan berproses di Lamongan.

Saya tidak mengira akan ada yang datang melebihi tiga orang di acara Guneman Sastra#30 saat itu.

Nostalgia dan Setoran Hasil Bacaan

Mereka lantas duduk melingkari meja dan ngobrol santai sambil menikmati sore yang sebentar lagi pamit. Sementara itu, Ahmad Farid Yahya sedang menata buku di sebuah meja lapaknya. Sedangkan, saya mengambil dan menggelar tikar di tengah-tengah podium, tempat di mana nanti orang-orang yang datang bisa khusuk duduk melingkar dan mengikuti obrolan buku dengan santai dan tentunya nyaman.

Dan meski waktu kelewat molor, mereka yang hadir tetap semangat setor membicarakan beberapa karya yang ditulis sendiri atau tulisan yang sedang dibaca. Dimulai dari Dadang Wiratama, membicarakan esainya yang berhasil tembus di Terminal Mojok. Alfiandika Arif P. dengan polemik etanol. Saya membacakan puisi yang baru saya tulis.

Ahmad Farid Yahya membicarakan problem kontemporer pasar perbukuan dan jalur affiliate barangkali jadi solusi. AHJ Khuzain dengan proyek noveletnya Melawan Bayangan Sendiri dan tokoh-tokoh fabel di dalamnya yang memunculkan beberapa pertanyaan. Sazma Aulia Al Kautsar dengan disorientasi menulis dan kehidupan penyair post menikah. Aji Ramadhan tak ingin mengatakan apa-apa.

Dan, terakhir Mardi Luhung dengan track record literasi di Lamongan. Bagaimana usaha-usaha Alm. Nurel Javissyarqi menerbitkan karya penyair asal Gresik itu, yang dikerjakan swadaya dan sebisanya, namun tidak terkira mendapat penghargaan KLA (Khatulistiwa Literary Award) pada tahun 2010.

“Kita baru selangkah, ayo cari naskah dan terbitkan lagi.” Kata Pak Mardi Luhung pada Alm. Nurel waktu itu, sebelum akhirnya Nurel dipanggil Sang Pencipta.

Dari cerita sang penyair itu, setidaknya kami mengerti bagaimana gambaran literasi di Lamongan pada waktu lampau. Dan, sedikit tahu juga, siapa saja orang-orang yang berperan di dalamnya. “Harus ada yang melanjutkan langkah itu!” Imbuh Mardi Luhung pada kami.

Membincangkan Puisi-Puisi Kuda Karya Mardi Luhung

Memasuki acara inti, Ahmad Farid Yahya membuka diskusi melalui resensinya yang pernah dimuat lensasastra.id berjudul “Semesta Kuda Mardi Luhung”. Farid menjelaskan keterkaitan kuda dengan masa lalu sang penyair, khususnya pada sosok kakek dari garis ibu yang pernah memelihara kuda.

Jejak ini, menurut Farid, tidak berhenti hanya sebagai ingatan, melainkan menjelma menjadi bagian penting dari perjalanan Mardi Luhung. Selain itu, ketertarikannya pada kuda semakin menguat ketika Ia membaca puisi-puisi Umbu Landu Paranggi yang juga pernah menulis tentang kuda.

Mardi Luhung kemudian menelusuri berbagai bacaan tentang kuda, yang realis maupun surealis.

Farid, bertemu puisi berjudul “Memang” , di sana terdapat larik yang menyebut makhluk bertubuh ayam berkepala kuda. Dalam sebuah mitologi, makhluk itu dikenal sebagai hippalectryon. Melalui simbol itu, “aku” lirik mempertentangkan dualisme dalam dirinya. Jelas Farid yang juga melapak buku.

Buku Tiga Kuda di Bulan Tiga dan Lampirannya ini, menurut Farid merupakan semesta kuda Mardi Luhung. Ia memaparkan banyak kuda dengan sifat juga bentuk si kuda yang beragam. Dari yang realis hingga surealis bahkan magis. Di beberapa puisi memang ia menyebut kuda dengan warna dan bentuk yang tak lazim.

Ketika Puisi Membuka Lanskap Baru dalam Diri

Sementara kesan pembacaan saya atas buku Tiga Kuda di Bulan Tiga dan Lampirannya, berhasil membuka lanskap baru pada pandangan saya terhadap puisi yang masih terbatas. Buku ini melunturkan jerat persepsi saya akan sebuah puisi yang rigid, padat, penuh tuntutan, dan ketakutan.

Buku ini juga berhasil mengobati kegamangan saya dalam menulis puisi. Jerat kesakitan yang seakan menali saya mulai sedikit melonggar. Dada saya mulai lega dan ada udara segar yang masuk ke dalam paru-paru ini. Perasaan ini sudah saya dapat bahkan ketika baru membaca pengantar buku: Kuda, Waktu Kecil, dan Ladam.

Pengantar ini menceritakan nostalgi penyair sewaktu ia masih kecil. Ketika dalam hidupnya pernah bersinggungan dengan kuda. Ada pertanyaan-pertanyaan kecil tentang kuda dan ihwal lain di sekitarnya yang belum terjawab. Dan ia enggan menanyakan itu pada siapapun atau apapun.

Lalu waktu lah yang datang memberi jawab. Juga pertalian antara penyair dengan Umbu Landu Paranggi, dan Mira MM Astra.

Sementara itu dalam puisi berjudul “Denyut”, saya merasa beberapa lariknya tampak begitu dalam. Dan barangkali menjadi analogi atau refleksi terhadap realitas. Kita akan membaca lariknya: Kudamu yang telah melewati apa yang tak berani dilewati oleh setiap penambahan dan pengurangan.

Larik di atas, barangkali juga relevan dengan apa yang terjadi pada kebanyakan ironi hari ini. Bahwa dalam realitas kehidupan manusia, mereka seringkali meletakkan penambahan dan pengurangan itu sebagai batas pertimbangan di kepala mereka.

Bagaimana sebuah angka, atau jumlah, menjadi perkara yang menakutkan di tiap kepala manusia. Dan kuda di sini seakan memberi gambaran dari suatu kehendak berani yang tak mempertimbangkan angka, jumlah, atau akumulasi apapun yang seringkali menjadi kecemasan kita.

Menemukan Wajah Baru Puisi Lewat Kuda

Dalam buku puisi ini, kita juga akan melihat bagaiamana suara yang berangkat dari tanah kelahiran penyair mampu memberi suara yang universal.

Ia seakan mewakili beberapa keresahan, yang juga dimiliki oleh orang-orang di luar sana. Melalui kuda, penyair juga seakan sedang melakukan atraksi bersama kuda dalam sebuah puisi. Jika kita menganggap puisi itu hanya terkait dengan hal-hal yang melankolis, membuat kita menangis, sedih dan semacamnya. Maka, segera rubahlah.

Paling tidak puisi-puisi dalam buku ini merupakan antitesis akan semua anggapan itu. Sebab, kuda adalah hewan yang menggebu-gebu, energik, dan boleh dibilang simbol dari maskulinitas. Dan kali ini ia masuk ke dalam puisi. Apa jadinya?

Memang tidak seluruh puisi dalam buku ini, melulu menyoal kuda. Dalam bab ‘Lampirannya’ kita akan membaca puisi-puisi yang kehilangan kuda di dalamnya. Sebab puisi dalam bab ini, Mardi Luhung tujukan pada Mira MM Astra, yang menjadi napas tengah antara puisi-puisi di buku ini dengan Umbu Landu Paranggi.

Puisi-puisi dalam buku ini, adalah puisi-puisi yang telah dibaca Umbu Landu Paranggi, baru setelah itu terbit dalam kumpulan puisi ini, Tiga Kuda di Bulan Tiga dan Lampirannya.

Akhirnya Guneman Sastra#30 sore itu ditutup dengan foto bersama. Setelah obrolan panjang tentang kuda, puisi, sastra atau literasi yang pernah berlaku di Lamongan. Guneman sore itu paling tidak telah memberikan kita banyak wacana tentang puisi juga lelaku literasi yang pernah tumbuh dan berjalan di sekitar kami. Terakhir kami ucapkan terimakasih dan sampai jumpa di guneman sastra selanjutnya.

Fatah Anshori
Fatah Anshori

Lahir dan tinggal di Lamongan. Penulis novel Melalui Mimpi, Ia Mencari Cinta yang Niscaya (Frase Pinggir, 2021), masuk 20 besar Anugerah Sastra Nongkrong.co. Puisi terpilih dalam 5 besar Payakumbuh Poetry Festival 2022 & 2023. Sampai sekarang masih bergiat di Guneman Sastra, Songgolangit Creative Space dan KOSTELA.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *