Tiga Macam Istilah yang Kerap Disematkan pada Mahasiswa

Sumber duniadosen.com

Mahasiswa itu merupakan salah satu komunitas penting di masyarakat. Banyak perubahan didapat pada status ini. Parahnya, banyak yang tidak menyadari. Dan justru masih tampak seperti berstatus di sekolah menengah atas.

Masuk kuliah, mengerjakan tugas, pulang dan masuk kuliah lagi. Semua aktivitas menoton itu, mboknya segera disingkarkan. Sebab, bisa menghambat perkembangan pola pikir, kesadaran dan tanggung jawab.

Tidak salah, namun hal tersebut tentu mereduksi peran mahasiswa itu sendiri, baik sebagai agent of change, agent of social control , agent of moral force dan lain sebagainya.

Padahal, sejak menjadi mahasiswa baru, mulai dari tingkat universitas, fakultas dan prodi telah banyak menjelaskan peran dan fungsi mahasiswa. Namun, hal itu masih kurang cukup menyadarkan. Hanya saja semua itu soal pilihan, mau jadi apa dan bagaimana.

Nah, untuk memudahkan melihat macam mahasiswa, ada beberapa istilah yang sering disematkan.

Mahasiswa Kupu-Kupu Beserta Aktivitasnya

Mahasiswa yang masuk pada kluster ini adalah mereka yang punya aktivitas monoton yakni setelah kuliah pulang. Mirip aktivitas menyetrika pakaian.

Mereka cukup menggugurkan kewajiban seperti saat sekolah menegah, sudah merasa selamat dunia-akhirat. Padahal, dunia kampus tidak sesempit itu. Banyak kegiatan-kegiatan yang sebenarnya bisa menunjang karir, namun masih kalah dengan serunya melanjutkan drama China.

Mahasiswa semacam ini, kelak akan mendapat banyak penyesalan dan kerumitan saat berada di masyarakat maupun dunia kerja. Sebab, mereka tidak mencari pengalaman sebanyak-banyaknya saat bersatatus mahasiswa.

Serius, mahasiswa semacam ini banyak menimpa teman-teman saya waktu kuliah sarjana.

Mahasiswa Kura-Kura dan Aktivitas yang Sering Kelewat Batas

Mahasiswa ini disematkan bagi mereka yang aktif di organisasi intra maupun ekstra kampus, yang mana aktivitasnya setelah kuliah–rapat. Mereka memanfaatkan waktu untuk mencari sebanyak-banyaknya pengalaman dan koneksi.

Biasanya, orang-orang menyebut mereka “aktivis”. Mereka juga menunjukkan kesadaran akan peran dan fungsi sebagai mahasiswa. Saking aktifnya berorganisasi, sampai kadang sering kelewat batas.

Mereka pamitan kepada orang tua untuk kuliah, bukan untuk ikut organisasi. Bagi saya, hal tersebut merupaka suatu accident akademis yang seharusnya tidak terjadi. Saya dulu juga seorang aktivis mahasiswa, tetapi, tidak sampai mengambil pilihan yang timpang.

Saya punya teman, saya tahu sampai menyelesaikan kuliahnya di kampus lain, padahal mereka adalah para mahasiswa aktivis yang cukup cerdas. Hanya saja lalai dalam menajamen waktu.

Mereka lupa tanggung jawab meraka orang tua dan diri sendiri. Sehingga banyak dari mereka yang kemudian menjadikan aktif di organisasi ekstra kampus  adalah salah satu penyebab mereka tidak sampi lulus kuliah.

Di beberapa organisasi mahasiswa ekstra kampus punya budaya akademis yang cukup baik. Mereka sering melakuka kajian-kajian rutin baik secara pendekatan kelimuan program studi atau fakultas, bahkan mereka juga sering melakukan kajian-kajian analisis sosial.

Belum lagi soal manajemen organisasi dan kepemimpinan, simulasi sidang, manajemen aksi dan banyak lagi, tinggal pilih yang mana.

Mahasiswa Kunang-Kunang yang Tidak Begitu Suka Kuliah

Mahasiswa ini punya ciri setelah kuliah nangkring atau nongkrong. Aktivitas mereka banyak di habiskan di warung-warung kopi atau tempat nongkrong lainya, terkadang image yang melekat pada mereka yakni suka ngopi tapi tidak suka kuliah.

Kebiasaan ini kemudian membentuk stereotip yang cukup kuat di lingkungan kampus. Nongkrong dianggap sebagai pelarian dari rutinitas akademik yang mulai terasa membosankan. Padahal nongkrong bisa menjadi tempat bertukar pikiran, tetapi di sisi lain juga kerap dipandang sebagai simbol kemalasan.

Saya melihat fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari kejenuhan yang dialami mahasiswa, terutama mereka yang sudah berada di tahap akhir perkuliahan. Tuntutan skripsi, tekanan waktu, hingga kebingungan menentukan arah setelah lulus membuat sebagian mahasiswa memilih menghabiskan waktu di luar kelas.

Meski begitu, saya tidak sepenuhnya memandang aktivitas nongkrong berdampak negatif. Dalam beberapa kasus, justru dari obrolan santai di warung kopi lahir ide-ide segar dan diskusi yang produktif.

Menjadi Mahasiswa yang Ideal Saja

Bagi saya,  menjadi mahasiswa harus ideal. Ya bisa masuk menjadi mahasiswa kupu-kupu, kura-kura dan kunang-kunang. Sehingga mampu menempatkan diri sesuai kondisi dan situasi yang ada.

Prestasi akademik dan lulus tepat waktu itu penting. Dilain sisi ada fenomena bahwa mahasiswa dituntut lulus cepat antara 3,5 sampai 4 tahun. Hal itu punya pengaruh yang besar terhadap mengecilnya volume mahasiswa dan menjaga prestasi index kampus.

Selain itu, penting juga berorganisasi. Tetapi, jangan sampai menjadi alasan kita secara permisif menerima hasil nilai yang tidak bagus. Sebab, membangun koneksi sangat bermanfaat setelah kita lulus kuliah.

Perlu diakui memang, banyak alumni mahasiswa yang dulu aktif berorganisasi memiliki kemudahan akses untuk meniti karir.

Artinya bahwa prestasi akademik dan berorganisasi harus seimbang, tujuannya adalah memudahkan untuk merubah nasib, entah lanjut magister ataupun kerja.

Ahmad Burhan Hakim
Ahmad Burhan Hakim

Dosen Hukum Tata Negara. Universitas Sunan Drajat Lamongan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *