Pendidikan yang Sibuk Mengatur, Tetapi Lupa Mendengar Anak

Sumber Foto Pribadi

Pola pendidikan anak di Indonesia yang tidak baik-baik saja. Sore itu, 14 Mei 2026, Cedak Buku #Jagongan7 membincangkan pendidikan di Humanity.kopi, Lamongan. Mereka membawa resah dari menjadi anak dan siswa.

Acara Cedak Buku Jagongan#7 kali ini bertajuk “Saat Pendidikan Terjebak Masa Lalu dan Tak Kunjung Maju”. Peserta diskusi yang hadir berasal dari beberapa komunitas dan latar belakang yang berbeda-beda. Membuat sudut pandang semakin beragam.

Alfiandika Arif Pratama memoderatori acara tersebut, sementara Devan Ade Prayogo menjadi pemantik diskusi. Buku karya Herman JP Maryanto berjudul “Terpenjara Luka Lama” (2015) sebagai bahan pembahasan. Dalam buku ini, Maryanto menceritakan pengalamannya selama menekuni dunia pendidikan, baik yang ia temui dari guru maupun orang tua.

Maryanto menemukan cara mendidik yang itu sebenarnya berdampak fatal pada anak. Sehingga perlu adanya sikap yang lebih lunak.

Pendidikan yang Masih Bertumpu Pada Rasa Takut

Tidak sedikit guru yang sebenarnya memiliki niat baik, tetapi terjebak pada pola pendidikan lama. Banyak orang menganggap bentakan sebagai bentuk ketegasan dan menjadikan hukuman fisik sebagai cara mendisiplinkan anak. Padahal, anak bukan mesin yang bisa dipaksa bekerja dengan ancaman. Mereka memiliki rasa cemas, kecewa, dan luka yang sering kali tidak terlihat.

Devan menilai pola didik yang bertumpu pada rasa takut masih banyak digunakan di sekolah. “Anak-anak akhirnya belajar takut kepada guru, bukan mencintai proses belajar,” ujarnya.

Menurut Devan, banyak guru sebenarnya berniat baik, tetapi masih terjebak cara lama. Bentakan dan hukuman dianggap sebagai bentuk ketegasan. Padahal, cara tersebut justru membuat anak kehilangan rasa aman di sekolah.

Ia juga menyoroti kebiasaan sekolah yang hanya mengukur kecerdasan lewat nilai rapor. Akibatnya, murid sibuk mengejar angka dan takut melakukan kesalahan. “Pendidikan seharusnya membuat anak merasa dihargai saat belajar, bukan justru dipermalukan,” katanya.

Sikap Orang Tua Kepada Anak Saat Dirumah

Devan mengatakan bahwa menjadi orang tua tidak selayaknya memaksakan kehendak kepada anak. “ya seharusnya menjadi orang tua ia harus bisa mendampingi, mengawasi dan mengarahkan kepada anaknya”, ujar founder Lamongan book.story Lamongan.

Pada dasarnya, setiap anak memiliki kecenderungan masing-masing dan tidak bisa mengikuti kehendak orang tua secara paksa, sebab mereka mempunyai dunia dan masanya sendiri.

Selain itu, orang tua harus rajin mengajak ngobrol anak tentang apapun, bisa dari aktivitas sekolah maupun waktu bermain. Tujuanya, memberikan rasa nyaman dan membuka ruang dialog bersama anak.

Jika itu berhasil dilakukan, maka, tidak ada pemaksaan diantara orang tua dan anak. Sebab, menjaga kewarasan itu tidak kalah pentingnya dengan membelikan jajan atau mainan.

Pada Intinya, Guru dan Orang Tua Harus Tetap Belajar

Di sekolah, murid yang diam kerap dianggap paling tertib, sementara anak yang banyak bertanya justru dicap mengganggu. Padahal, setiap anak memiliki cara belajar berbeda.

Di tengah diskusi, salah satu peserta, Fanani, mengangkat tangan dan mempertanyakan kebiasaan orang dewasa yang lebih mudah menyalahkan anak daripada mengevaluasi cara mendidik mereka. “Kenapa ketika anak dianggap nakal atau malas, guru dan orang tua selalu ingin memperbaiki anaknya lebih dulu, bukan cara mereka mendidik?” tanyanya.

Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak hening. Devan menjelaskan bahwa banyak orang dewasa masih memandang pendidikan sebatas soal kepatuhan. Akibatnya, banyak orang dewasa menuntut anak mengikuti aturan tanpa memberi ruang bagi mereka untuk menyampaikan perasaan atau kesulitannya.

Hal serupa juga terjadi di rumah. Banyak orang tua terburu-buru memarahi anak ketika nilai pelajaran menurun, tanpa mencoba memahami apa yang sedang mereka hadapi. “Mendidik anak bukan hanya memberi aturan, tetapi juga belajar memahami emosi mereka,” katanya.

Perbincangan sore itu seolah menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang anak yang belajar. Guru dan orang tua juga harus terus membuka diri terhadap cara pandang baru, sebab anak tidak membutuhkan orang dewasa yang merasa selalu benar, melainkan mereka yang mau belajar bersama.

admin
admin

seorang admin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *