Perempuan yang Tak Pernah Usai Dibincangkan

Sumber Peserta Diskusi

Di tengah kebisingan hilir mudik pengendara sore itu, ada perempuan yang menunggu dibincangkan. Kebetulan, 15 April 2026 kemarin Lamongan cerah. Tanpa disadari memberi antusias kepada peserta yang datang di warung kopi songgolangit creative space untuk mengulitinya.

Acara Cedak Buku Jagongan#6 kali ini, dimoderatori Dadang Wiratama yang memandu jalannya diskusi dengat hangat dan komunikatif. Sementara itu, Dhenes Puji Lestasri sebagai pemantik, yang memberi isu dan perspektif untuk memancing peserta terlibat aktif dalam diskusi.

Ditambah pula yang hadir tidak hanya perempuan, ada laki-laki juga, ini membuat perbincangan semakin panas. Perempuan memang makhluk yang tak pernah usai dibincangkan. Keberadaanya tak luput dipertanyakan dan dipermasalahkan. Padahal mereka juga diberi kebebasan memilih dan cara bertahan hidup.

Selain itu, masyarakat Indonesia dalam mempergunakan nama perempuan cukup unik dan beragam. Hal itu bisa kita ketahui melalui penamaan hantu-hantu. Bila direnungkan, iya juga ya. Namun, generasi penerus abai dan bahkan lupa mempertanyakannya. Padahal peristiwa ini pastinya memiliki rekam jejak yang utuh di masyarakat.

Semua itu, berhasil dituliskan dalam kumpulan cerpen Intan Paramadhita berjudul “Sihir Perempuan” (2023). Saking bagusnya, cerpen ini berhasil menyabet penghargaan. Dan kini, menjadi buku yang banyak dicari.

Kecantikan yang Membuatnya Dimutilasi

Dhenes, membagikan hasil bacaan dari buku Sihir Perempuan. Ia terpikat pada judul cerpen “Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari”, dalam kisah itu, kecantikan bukan justru malah mengangkat perempuan, namun, justru memutilsai.

Dhenes menuturkan bahwa judul ini membuat tergiang-ngiang atas realitas yang dialami tokoh dalam cerita itu. “Cerita dalam cerpen ini, membuat saya menaruh keraguan terhadap siapapun, khususnya terhadap lelaki yang tidak mampu menjaga kehormatan”.

Kebringasan yang ditampilkan, membuat seseorang mencaci makinya. Ini menjadi kritik sosial atas realitas yang hidup disekeliling kita. Ini memperlihatkan, kedekatan relasi tidak menjamin menghilangkan pelecehan.

Situasi sosial tidak lagi ramah. Kejahatan bisa datang dari mana saja, orang terdekat maupun jauh. Kenyamanan bersosial kian makin terkikis dan tergantikan oleh kebringansan yang semakin merajalela.

Dadang, menambahkan bahwa kenyamanan dalam lingkungan sosial menjadi tanggungjawab kita bersama. Selain selalu mensosialisasikan, juga perlu bekerjasama dengan organisasi sosial dan lembaga terkait untuk saling menjaga dan menciptakan kaharmonisan.

Perempuan yang Mencari Kesetaraan Gender

Suatu masyarakat yang masih melestarikan budaya patriarki, menjadikan perempuan hanya sebagai objek. Perempuan tidak memiliki keleluasaan dalam ruang-ruang publik. Ini yang mengakibatkan perseteruan kian semakin memanas.

Realitas seperti itu, berhasil dinarasikan secara baik dalam cerpen berjudul “Sang Ratu”. Kisah cerpen itu memperlihatkan secara jelas bagaimana perempuan dipandang hanya sebagai pemuas nafsu, perempuan akan mudah luluh oleh iming-iming material.

Dhenes, menuturkan bahwa perempuan dianggap hanya sebagai alat pemuas birahi. “Kisah ini, saya kira, menjadi kenyataan yang sangat memilukan, perempuan masih dipandang memiliki kedudukan lebih rendah”.

Lebih jauh, Dhenes, mengajak peserta untuk tidak hanya melihat kasus sebagai cerita individual, tetapi sebagai bagian dari persoalan sistemik yang memerlukan kesadaran kolektif.

Salah satu peserta, Eka Sulistiya mempertanyakan bagaimana sikap saat menerima sebuah ketidakwajaran yang telah dianggap biasa oleh masyarakat, padahal sebenarnya itu mengganggu. Setidaknya dilihat secara moral.

Sikap yang tepat adalah tetap bijak dan berani secara terukur, dengan memahami konteks serta menyampaikan pandangan melalui cara yang baik seperti diskusi atau memberi contoh positif.

admin
admin

seorang admin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *