Apakah Sastra di Lamongan Sudah Habis?

Sumber Foto Pribadi

Pasca KOSTELA (Komunitas Seni dan Teater Lamongan) meraih penghargaan Sutasoma untuk kedua kalinya sebagai komunitas sastra terbaik se-Jawa Timur tahun 2022, sastra di Lamongan sempat mandek. Kepindahan S Jai ke Jombang turut memengaruhi kelesuan diskusi sastra. Namun, jika diamati, gerakan sastra pada tahun-tahun sebelumnya pun sebenarnya sudah terseok-seok. Mengapa?

Jawaban pastinya adalah pandemi covid-19. Afrizal Malna dalam bukunya “Racun Tikus; Seni, Wabah, Bencana dan Perang”(2021), memaparkan garis waktu yang begitu panjang tentang betapa berpengaruhnya wabah terhadap kesenian dan kebudayaan.

Pada awal pandemi, Lamongan mengalami gairah kebangkitan sastra yang kuat sekali. Saya kira hal ini juga banyak dialami oleh kota-kota lain. Selain itu, toko buku-toko buku indie atau alternatif mulai bermunculan. Jalur distribusi buku konvensional mulai bergeser ke arah digital.

Namun, hal ini tak lama. Sebab pada akhir tahun 2023, toko buku raksasa, Gunung Agung, menutup semua gerainya. Pergeseran jalur distribusi buku ke arah digital menyebabkan penjualan buku konvensional semakin lesu, sementara beban finansialnya tetap sama besar. Lantas apa hubungannya dengan kelesuan gerakan sastra?

Antusiasme di Awal Pandemi dan Ledakan Aktivitas Sastra

Pada tahun yang sama, semua sektor baru benar-benar merasakan dampak krisis dari pandemi covid-19. Mencari uang semakin sulit hingga muncul istilah “in this economy”. Kelesuan terjadi seolah seperti tertanam di alam bawah sadar. KOSTELA vakum hingga saat ini.

Seperti yang saya bilang tadi, bahwa di awal pandemi seluruh dunia seolah memiliki gairah untuk melakukan gerakan-gerakan kebudayaan. Kondisi itu juga menimpa komunitas bernama Songgolangit Creative Space yang saat itu diketuai Afif. Komunitas ini memiliki beberapa divisi, salah satunya divisi sastra bernama “Guneman Sastra”.

Penjaga gawang Guneman Sastra ini, seorang sastrawan muda yang waktu itu baru lulus kuliah dan bekerja sebagai layouter penerbit Pustaka Ilalang milik Pak Alang Khoiruddin . Sastrawan muda itu bernama Fatah Anshori .

Sebagai seorang layouter dari pendiri KOSTELA, tentunya Fatah Anshori pun ikut bergabung dengan KOSTELA. Akhirnya yang terjadi pada waktu itu adalah banyaknya komunitas sastra yang membuat kegiatan diskusi sastra dan proses kreatif.

Diskusi Chandrakirana di KOSTELA semacam perang gagasan yang menukil nama-nama besar dari Albert Camus hingga Eka Kurniawan. Bahkan seringkali perdebatan terjadi sangat alot. Sedangkan Guneman Sastra di Songgolangit Creative Space lebih kepada pertanyaan-pertanyaan semacam bagaimana para penulis indie bekerja.

Artinya, pada periode covid-19, KOSTELA dan Guneman Sastra berjalan dalam waktu yang bersamaan. Chandrakirana KOSTELA menggelar kegiatan pada malam hari saat bulan purnama, sedangkan Guneman Sastra memulai kegiatan pada sore hari di Songgolangit Creative Space. Dua-duanya pun mengalami kelesuan dalam kurun waktu yang kurang lebih bersamaan.

Kebangkitan Baru dan Upaya Menyusun Ulang Gerakan

Beberapa waktu terakhir, gerakan sastra di Lamongan sudah mulai muncul kembali. Di pantura, Deni Jazuli menginisiasi diskusi rutinan yang telah diatur selama setahun. Di Lamongan kota, munculnya Dadang Wiratama, Zahruddin Fanani, Eka Sulistiya, Insan Fitria dan Alfiandika AP pemilik media Cedak.id memberikan gairah baru pada dunia literasi dan sastra.

Mulai banyak lagi gerakan-gerakan dan diskusi-diskusi sastra di Lamongan. Selain dua di atas, ada juga Lamongan Bookstory, sebuah klub baca yang diinisiasi oleh Divan Ade Prayogo. Kemudian, Progresif Institut yang dinahkodai M. Eko Nugroho.

Akhir dari tulisan ini adalah bangkitnya gerakan-gerakan diskusi sastra, terutama Guneman Sastra dari Songgolangit Creative Space yang saat ini telah memiliki ketua baru yakni Anas. Pada tahun 2023 hingga 2024, Guneman Sastra tak memiliki banyak agenda selain kolaborasi-kolaborasi singkat. Namun, pada tahun 2025 Guneman Sastra berkesempatan menjadi salah satu tempat singgah tour perayaan 100 tahun Pramoedya Ananta Toer oleh Soesilo Toer.

Meski begitu, momen itu tak lantas membuat Guneman Sastra bangkit dan aktif sebab di sisi lain penjaga gawangnya sendiri sudah memiliki kesibukan yang lain yakni menjadi perawat dan telah berkeluarga. Munculnya Dadang Wiratama dan para pegiat kebudayaan yang lainlah yang seolah memberikan kekuatan tambahan seperti melengkapi puzzle yang kosong sehingga kegiatan diskusi bisa berkelanjutan. Entah itu dari Cedak.id, Guneman Sastra, atau Lamongan Book Story serta Progresif Institut.

Jika kita mengingatnya, perjalanan Guneman Sastra ternyata sudah sangat panjang. Kami menghadirkan beberapa nama besar dalam diskusi yang pernah kami adakan, di antaranya Denny Mizhar, Mahfud Ikhwan, Soesilo Toer, dan yang baru saja hadir, penyair Mardi Luhung.

Ahmad Farid Yahya
Ahmad Farid Yahya

Penulis asal Lamongan. Tulisannya dimuat di berbagai media: Majalah Gelanggang, Radar Bojonegoro, sastra-indonesia.com, Jawa Pos, lensasastra.id, sastra.co.id, nyangkem.id, serta cedak.id.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *