Media Digital: Agen Mobilisasi di Kota Nanas

Media digitalisasi
Sumber telkomuniversity.ac.id

Media memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan sosial. Dennis McQuail (2010) menyebutkan lima fungsi utama media massa: informasi, korelasi, kesinambungan budaya, hiburan, dan mobilisasi. Fungsi-fungsi ini kini terasa semakin relevan, terutama di era digital ketika masyarakat lokal tidak lagi terisolasi, tetapi terhubung dengan arus informasi global yang deras.

Kabupaten Subang sedang bergerak cepat. Kawasan industri dan infrastruktur strategis bermunculan, termasuk proyek besar seperti Pelabuhan Patimban yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).

Transformasi ini membawa Subang ke panggung ekonomi nasional, namun di sisi lain memunculkan tantangan baru: bagaimana masyarakat lokal memahami dan merespons perubahan besar ini. Di sinilah media lokal memainkan peran penting. Ia bukan sekadar corong berita, tetapi juga arena di mana isu-isu pembangunan, identitas kultural, dan aspirasi masyarakat berkelindan.

Mengacu pada gagasan ruang publik Jürgen Habermas (1989), media adalah tempat di mana warga dapat berdiskusi secara rasional tentang isu-isu bersama. Dalam konteks Subang, ruang publik itu kini hadir di dunia digital. Grup Facebook warga, portal berita daring, hingga kolom komentar di media sosial menjadi ruang diskursus politik dan sosial yang dinamis.

Namun, dinamika ini juga menghadirkan paradoks. Sering kali, diskursus publik terseret ke polarisasi, disinformasi, bahkan drama lokal yang viral. Di sinilah pentingnya literasi digital: agar ruang publik digital tidak berubah menjadi pasar opini yang bising, tetapi tetap menjadi tempat pertukaran gagasan yang sehat.

Sosiolog Manuel Castells (2000) menyebut masyarakat modern sebagai network society—masyarakat yang saling terhubung melalui jaringan digital. Fenomena ini jelas terlihat di Subang. Isu lokal, seperti kebijakan pemerintah daerah atau proyek pembangunan, bisa dengan cepat viral di tingkat regional, bahkan nasional.

Perubahan Sosial

Identitas masyarakat pun perlahan terbentuk melalui interaksi digital ini. Media sosial bukan lagi sekadar alat hiburan, melainkan ruang baru bagi warga Subang untuk mengartikulasikan identitas, kepentingan, dan pandangannya terhadap perubahan.

Perubahan sosial di Subang bisa diamati dari beberapa sisi. Dalam ranah politik, media daring membuat warga lebih terlibat dalam mengawasi kebijakan publik. Kritik terhadap proyek pembangunan atau layanan pemerintah semakin sering muncul—bukti bahwa ruang publik digital berfungsi sebagaimana dibayangkan Habermas.

Dalam bidang ekonomi, media lokal berperan sebagai agen mobilisasi. Banyak media Subang kini aktif mempromosikan UMKM, wisata desa, dan peluang investasi. Ini sejalan dengan pandangan McQuail bahwa media bisa menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Sedangkan dalam pola konsumsi informasi, generasi muda Subang kini lebih banyak mengakses berita melalui portal daring dan media sosial ketimbang koran cetak. Ini menegaskan pandangan Castells bahwa identitas dan persepsi sosial kini terbentuk dalam jaringan digital.

Perlunya Literasi Digital

Meski potensinya besar, media lokal di Subang belum lepas dari tantangan. Rendahnya literasi digital membuat sebagian warga mudah terpapar hoaks dan konten provokatif. Di sisi lain, masih ada media lokal yang belum profesional dalam menjaga kredibilitas dan verifikasi berita. Belum lagi algoritma media sosial yang kerap memprioritaskan konten sensasional, bukan yang informatif. Akibatnya, ruang diskusi publik yang seharusnya sehat justru bergeser menjadi arena kehebohan semata.

Subang hari ini sedang berada di persimpangan antara tradisi dan modernitas, antara lokalitas dan globalisasi. Media—terutama media lokal—berperan penting dalam menentukan arah perubahan itu. Dengan mengacu pada McQuail, Habermas, dan Castells, kita bisa melihat bahwa media bukan sekadar alat penyampai pesan, tetapi aktor sosial yang membentuk cara masyarakat berpikir, berpartisipasi, dan berinteraksi.

Tantangannya kini adalah memastikan media lokal Subang tidak sekadar menjadi penonton dari derasnya arus digital, tetapi menjadi motor penggerak perubahan sosial yang kritis, inklusif, dan berdaya.

Literasi digital, profesionalisme jurnalisme, serta kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku media menjadi kunci agar Subang bisa tumbuh tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga secara sosial dan kultural.

M. Lutfi Ulinuha
M. Lutfi Ulinuha

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *