Kerusuhan Demonstrasi: Negeri ini butuh kaum Rausyan Fikr

Demonstrasi
Sumber kbannews.com

Di tengah situasi yang kian memanas akibat unjuk rasa di berbagai wilayah Indonesia, negara kita kini kembali berduka. Ada sembilan nyawa yang melayang (bahkan lebih) dan beberapa demonstran yang hilang. Kebebasan berpendapat menjadi suatu tindakan yang mengerikan karena taruhannya adalah nyawa manusia. Memang ironi, tapi itulah yang terjadi di negara demokrasi seperti Indonesia.

Di dalam UUD (Undang Undang Dasar) Negara Republik Indonesia tahun 1945, kebebasan berpendapat diatur pada pasal 28E ayat 3 yang berbunyi “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Artinya, kebebasan berpendapat merupakan suatu tindakan yang dilindungi oleh negara melalui hukum tertinggi. Namun yang terjadi adalah hukum bukan sebagai pelindung melainkan menjadi alat untuk menindas, sehingga mereka para oknum aparat melakukan tindakan pengamanan dengan sewenang wenang.

Seharusnya bentrokan pada unjuk rasa kemarin terjadi antara rakyat sipil dan para wakil rakyat yang duduk di dalam gedung DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), justru malah rakyat sipil melawan aparat keamanan. Hal ini tidak apple to apple. Bukan kah mereka para demonstran menuntut suatu perubahan kepada para DPR?

Mereka menuntut antara lain; menolak kenaikan tunjangan kinerja dan membatalkan kebijakan tunjangan rumah DPR, menolak upah murah dan menghapus sistem outsourcing, menaikkan upah minimum, hapus pajak THR dan lain – lainnya.

Titik kulminasi memanasnya aksi demonstrasi beberapa pekan lalu yaitu pada saat tewasnya salah satu pengemudi “ojol” (ojek online) yang bernama Affan Kurniawan akibat dilindas oleh kendaraan rantis milik brimob. Alih – alih aparat keamanan seharusnya mengamankan, melindungi dan menertibkan jalannya aksi demonstrasi, justru malah merenggut hak asasi manusia.

Banyak aktivis mahasiswa, influencer, artis dan tokoh publik turut berempati terhadap kondisi negara yang chaos pada beberapa pekan lalu akibat demonstrasi. Mereka pun ikut serta turun ke lapangan untuk melakukan unjuk rasa.

Salah satunya bung Ferry Irwandi yang menjadi sorotan publik. Ada yang mengatakan beliau adalah Bung Tomo nya gen- Milenial dan Z, pahlawan revolusi abad modern dan lain lainnya. Beliau memang dikenal oleh publik sebagai sosok yang kritis terhadap kebijakan pemerintah yang menindas rakyat. Selain itu beliau dikenal sebagai pendiri Malaka Project yang memiliki konten – konten digital tentang edukasi politik, pendidikan dan fenomena fenomena sosial terkini lainnya.

Saya tidak akan membahas publik figur di atas secara mendalam, karena tulisan ini bukan untuk hal tersebut. Saya ingin melihat bagaimana kondisi negara yang chaos agar dapat segera membaik. Kita semua tidak ingin kekacauan berlangsung secara terus menerus. Sebab, jika kekacauan itu berkepanjangan, yang dirugikan bukan hanya pihak yang terlibat, akan tetapi rakyat yang tidak terjun ke dalam aksi demonstrasi pun akan terdampak. Bukan kah kita semua menginginkan adanya perubahan ke arah yang lebih baik?

Memang harus diakui bahwa permasalahan dari zaman dahulu sampai dengan era modern seperti sekarang ini, nilai substansinya tetap sama yaitu kezaliman, namun suasana, alat alat dan caranya saja yang mungkin berbeda.

Di dalam buku Idelologi Kaum Intelektual, Ali Syari’ati mengungkapkan bahwa kita adalah keturunan Qabil (yang disebut sebagai pembunuh pertama manusia di dunia), maka DNA (deoxyribonucleic acid) Qabil menurun kepada anak dan cucu cicitnya, tentu sifat jahatnya tidak dapat dihindari kepada semua keturunannya. Lebih lanjut, Ali Syari’ati mengungkapkan bahwa simbol Qabil terdapat di dalam Al Qur’an yang dibagi menjadi empat macam manusia, antara lain fir’aun, bal’am, qarun dan haman.

Fir’aun disimbolkan sebagai penguasa yang zalim, korup, penindas yang selalu merasa benar sendiri. Bal’am sebagai kaum agamawan yang menggunakan agama untuk melegitimasikan kekuasaan yang zalim dan korup serta digunakan untuk meninabobokan rakyat. Qarun sebagai cerminan kaum kapitalis, pemilik kekayaan yang menghisap seluruh sumber daya alam demi kepentingan pribadi dan golongannya, tidak peduli seberapa besarnya kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh simbol Qarun ini. Haman mewakili kelompok teknokrat, ilmuwan atau akademisi yang melacurkan keilmuannya demi kekuasaan tirani pemerintah. Empat macam manusia tersebut selalu ada di setiap zaman.

Pertanyaannya adalah “Bagaimana cara untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di suatu negara jika ada sosok – sosok manusia seperti yang disebutkan?” Ali Syari’ati menjawab bahwa kita butuh kaum Rausyan Fikr. Siapa Rausyan Fikr itu?

Rausyan Fikr diambil dari kata Persia yang artinya “Pemikir yang tercerahkan”. Rausyan Fikr bukan ilmuan, karena ilmuan hanya menemukan kenyataan, hal hal objektif, namun Rausyan Fikr peranannya menemukan kebenaran. Ilmuan hanya menampilkan fakta sebagaimana adanya, namun Rausyan Fikr memberikan penilaian sebagaimana seharusnya. Ilmuan menggunakan bahasa universal dan istilah – istilah ilmiah lainnya, namun Rausyan Fikr menggunakan bahasa kaumnya. Ilmuan harus bersikap netral, namun Rausyan Fikr harus melibatkan ideologi.

Ali Syariati mengatakan sejarah hanya dibentuk oleh kaum Rausyan Fikr. Mengapa demikian? Karena Rausyan Fikr adalah kaum yang setiap ada permasalahan yang terjadi di suatu lingkungan atau lebih luas lagi Negara, mereka merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi serta menawarkan strategi dan alternatif pemecahan permasalahan.

Kaum Rausyan Fikr dapat dikategorikan kaum yang meneruskan misi – misi kenabian yakni memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat yang tidak stabil, bisa jadi karena sistem pemerintah yang tiran dan zalim, atau karena perbuatan amoral masyarakatnya.

Negeri ini membutuhkan kehadiran Rausyan Fikr di tengah – tengah masyarakat, sesosok yang dapat memperjuangkan kebenaran serta keadilan, juga ia senantiasa berada di pihak kaum mustad’afhin (kaum yang lemah)khususnya pada saat kondisi kerusuhan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Wildan Romadhon
Wildan Romadhon

Penulis saat ini sedang menempuh gelar Magister Administrasi Publik di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *