
Kurasa, semua orang harus punya urgensi untuk membawa pulpen dan buku saat menghadiri misa, jumatan, atau pengajian. Aktivitas semacam itu mengharuskan pesertanya untuk mendengar, dan mendengar tanpa melakukan aktivitas lain rentan mengundang rasa kantuk. Menulis, seperti yang telah kulakukan bertahun-tahun lamanya, mampu secara efektif mengusir rasa kantuk itu.
Minggu lalu aku menghadiri misa Jumat pertama di kampusku mengajar. Sebelumnya, aku tinggal di daerah dengan agama Islam sebagai mayoritas. Kali ini, berkesempatan tinggal di daerah dengan mayoritas penganut Katolik, membuatku antusias untuk memperlebar pengetahuanku mengenai agama lain. Itulah sebabnya aku tertarik untuk ikut misa.
Aku masuk ruangan misa sekitar pukul 11 siang, setelah sebelumnya meminta izin dan diperbolehkan oleh penyelenggara. Karena aku merasa sebagai anak bawang, aku duduk di kursi paling belakang, menyendiri tak bersanding dengan jemaat lain. Posisi ini ternyata membuatku dapat mengobservasi seluruh elemen yang ada dalam ruangan.
Tak berapa lama, mulai kudengar lantunan lembut memandu jemaat bernyanyi. Senandung memenuhi ruangan, lalu setelah beberapa lagu, penceramah yang dipanggil romo naik mimbar. Kusimak baik-baik apa yang disampaikan, mencatatnya, dan merasa ter-wah-wah akan informasi baru yang kudapati.
Dari apa yang disampaikan romo, aku mengenal kalender Katolik, aku jadi tahu arti dari nama bulan-bulan masehi, seperti September yang berasal dari kata Septema berarti tujuh, Oktober dari kata Okto yang berarti delapan, November dari kata Novema yang berarti sembilan, hingga Desember dari kata Desima yang berarti sepuluh. Ajaran-ajaran Katolik yang disampaikan romo dalam khutbahnya pun tak luput kutulis dalam catatan yang memang sebelumnya sengaja kubawa.
Sambil mendengarkan, sesekali aku mencuri pandang. Aku memerhatikan para jemaat lain yang duduk di depanku. Tanpa prediksi apapun, kudapati sebagian besar dari mereka duduk menghadap ke depan sambil sesekali mengangguk – karena menahan kantuk. Ada juga yang sengaja menyandarkan kepala pada bahu rekan sebayanya. Saat kucermati, ternyata mereka bersandar sambil fiddling gawai yang dibawanya. Aku bergeming, lanjut menyimak khotbah.
Sesaat setelah misa selesai dan aku tiba di ruangan kerjaku, sebagian besar rekan dosen yang menjadi jemaat misa sudah bercerita ini itu. Kudengar sekelebat pengakuan mereka bahwa misa tadi membuat mereka begitu mengantuk, bahkan salah satunya berhasil tidur dengan lelap. Sementara aku, dengan masih sambil memegang pulpen dan catatan, menuju ke mejaku yang sontak membuat beberapa rekan dosen menyapaku, “Bu Aiq tadi ikut misa ya, tidak mengantuk ‘kah? Itu catatan apa?” Sambil tersenyum kujelaskan bahwa saat mendengar khotbah tadi aku mencatat apa yang romo sampaikan. Mereka ber-oh lalu mengomentariku rajin. Kubilang pada mereka bahwa aku menulis bukan karena rajin, melainkan karena aku tidak ingin mengantuk.
Rasa kantuk, meski oleh Tuhan diciptakan dengan tujuan menentramkan manusia, merasainya pada saat dan di tempat yang tak tepat dapat menimbulkan kerepotan. Bahkan jika kita tidak berhasil menanggulanginya dengan benar, maka bukan rasa tentram yang kita dapat, melainkan malu yang akan terus diingat. Aku sudah beberapa kali mengalami hal demikian, dan rasa malu yang kurasa hingga sekarang tak berhasil kuhapuskan.
Tak benar kiranya jika pertanyaan, “Biar ga ngantuk gimana ya?” selalu dijawab dengan jawaban “Tidur.” Sebab pada momen tertentu, perlawanan akan ngantuk tak bisa dilakukan dengan tidur. Orang-orang yang datang misa, pengajian, jumatan, atau pertemuan lain yang berpotensi besar untuk mengantuk, rapat DPR misalkan, tak bisa serta-merta tidur saat mengantuk, sebab waktu dan tempatnya tidak diskemakan untuk tidur.
Melalui pengamatan kilat penulis, upaya melawan rasa kantuk dengan menulis luput dimuat dalam artikel manapun, itu sebabnya tulisan ini hadir mengisi keluputan itu. Dari tulisan ini kita harapkan bersama bahwa semua orang dapat dengan luwes menanggulangi rasa ngantuknya, sehingga tak kita temui lagi para oknum-oknum yang tertidur saat hadir misa, jumatan, pengajian, atau pagelaran rapat. Dengan bertambahnya satu upaya penanggulangan ngantuk ini, kita juga harapkan bersama supaya tak lagi ada oknum-oknum yang saat ditanya wartawan, tak mampu menjawab hanya karena, “Saya agak ngantuk dikit.”



