Lamongan Dilewati

Minim Literasi
Sumber Kompasiana

Sampai sekarang, kabarnya belum berubah. Padahal, acara sudah hampir selesai. Sorak-sorai masih terdengar dari kejauhan. Anak-anak berlarian, orang dewasa mondar-mandir, sebagian sibuk mencari buku incaran, sebagian lagi hanya menikmati suasananya. Melihat semua itu, rasanya adem. Semangat yang tumbuh untuk membaca ternyata masih punya tempat di hati masyarakat Indonesia.

Gebyar acara OOTB (Out of The Boox) pertama kali menggelar acara tahun 2018, letaknya berada di gudang buku Mizan Group, Bandung. Waktu itu, skalanya masih sempit dan hanya berkolaborasi dengan beberapa penerbit. Tapi, dari situ mereka terus berkembang. Konsepnya semakin matang dan menyedot jangkauannya makin luas. Mereka berkeliling ke berbagai kota di Indonesia sambil membawa semangat literasi dan menjual buku berkualitas dengan harga lebih murah.

Di tengah maraknya pembajakan buku, OOTB hadir sebagai angin segar. Banyak orang masih menganggap buku bajakan itu “nggak apa-apa”, padahal mereka sebenarnya mengambil karya orang lain tanpa izin. Alias maling. Sungguh menyedihkan sekali. Orang-orang itu mencari keuntungan dan tanpa berbelas kasihan terhadap penulis, padahal, tindakan semacam itu sekaligus mematikan ekosistem pengetahuan. OOTB berusaha melawan kebiasaan itu dengan cara sederhana: membuka akses buku asli yang harganya tetap terjangkau.

Tapi, keistimewaan OOTB tidak berhenti di situ. Mereka tidak hanya menjual buku, tapi juga menghadirkan suasana belajar yang hidup. Di setiap kota yang mereka datangi, menyiapkan rentetan perlombaan untuk anak-anak, seperti; sesi bercerita, menggambar, dan kesempatan ngobrol langsung dengan penulis. Jadi, acara ini bukan cuma soal transaksi, tetapi juga tentang menumbuhkan kecintaan terhadap literasi sejak dini.

Lamongan pernah menjadi tuan rumah acara literasi seperti ini pada tahun 2021 di Plaza Lamongan. Namun setelah itu, acaranya tidak muncul lagi. Sudah empat tahun berlalu dan Mizan Group belum juga kembali. Sementara kota-kota tetangga seperti Gresik, Tuban, Sidoarjo, dan Surabaya masih rutin menyambut acara serupa setiap tahunnya. Sebagai orang Lamongan, jujur saja, saya merasa iri.

Saya percaya, literasi tidak cukup hanya diperingati lewat Hari Buku Nasional. Literasi harus terus dihidupkan setiap hari, kita sebarkan sampai akar rumput serta kalau bisa dibalut semenarik dan semenyenangkan mungkin.

Sebab, gemerlap diskotik, kafe estetik, atau scroll TikTok lebih memuaskan. Sedangkan, membaca memang kalah tenar dan ramai, tapi dampaknya jauh lebih panjang.

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi menyimpan makna besar. Apakah Lamongan kurang menarik? Saya rasa tidak. Komunitas baca di sini tetap tumbuh. Banyak anak muda yang nongkrong di warung kopi sambil diskusi buku. Ada juga yang membuka lapak baca di alun-alun, taman-taman atau menggelar kegiatan literasi di sekolah. Semangatnya masih ada, tapi mungkin belum cukup kuat untuk menarik perhatian pemangku gebyar acara OOTB.

Padahal, Lamongan punya modal besar. Banyak pesantren dan sekolah berdiri dari TK sampai perguruan tinggi. Setiap hari, ribuan orang belajar di sana. Sayangnya, tidak semua sadar pentingnya menghargai pengetahuan lewat buku bacaan. Saya jarang mendengar sekolah yang mengajak siswanya membeli buku atau sekedar berdiskusi tentang karya penulis. Mungkin, hal-hal semacam itu masih dianggap urusan kecil dan tidak bermutu.

Ironisnya, Lamongan yang terkenal karena kulinernya—pecel lele sebenarnya punya banyak penulis hebat. Mereka menulis puisi, cerpen, esai, dan novel. Beberapa tetap tinggal di sini, yang lain merantau tapi masih membawa nama Lamongan. Mereka rutin berdiskusi, bertukar bacaan, dan membuat kegiatan literasi. Anggotanya datang dari berbagai profesi: guru, tenaga kesehatan, penjual kopi, pelajar, sampai pegiat budaya. Tapi tetap saja, semua itu belum cukup untuk menarik OOTB kembali mampir.

Jawaban tentang alasan itu tidak bisa saya temukan di internet. Saya harus bertanya langsung ke panitianya. Mungkin karena dulu penjualannya tidak terlalu bagus. Atau karena biaya sewanya terlalu mahal ?. Wajar kalau penyelenggara akhirnya mundur, karena acara seperti ini tetap butuh hitungan untung dan rugi.

Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Lamongan baru melakukan survey dan mencatat adanya peningkatan literasi sebesar 4,67% dari tahun 2023-2024. Data itu diambil dari warga yang berusia 10 sampai 69 tahun. Artinya, banyak orang di Lamongan yang menyediakan waktu untuk membaca. Angka itu memang kecil, tapi cukup dapar menunjukkan jika semangatnya belum padam dalam merawar bacaan.

Kalau minat baca meningkat, seharusnya toko buku juga bertambah. Komunitas literasi bisa berkembang lebih luas, dan OOTB punya alasan kuat untuk kembali. Karena membaca bukan cuma hobi, tapi kebutuhan otak. Tanpa bacaan, pikiran bisa kaku, bahkan mudah tersulut emosi.

Setiap orang pasti ingin tinggal di kota yang damai, nyaman, dan beradab. Tapi kedamaian tidak datang tiba-tiba. Kita harus membangunnya lewat kebiasaan berpikir dan memahami. Dan membaca adalah jalan untuk menuju ke sana. Lewat literasi, masyarakat bisa belajar mengenal diri, memahami dunia, dan membedakan mana fakta.

Lamongan punya potensi besar untuk menjadi kota literasi. Tapi potensi tanpa gerakan itu seperti buku yang dibiarkan berdebu di rak—diam, terlupakan, dan kehilangan makna. Maka, kita harus mulai melangkah. Sekolah bisa menumbuhkan budaya membaca. Komunitas bisa terus membuka ruang diskusi. Masyarakat bisa memilih untuk membeli buku asli meskipun sedikit lebih mahal.

Bukan karena ingin terlihat keren, tapi karena cinta terhadap pengetahuan adalah warisan terbaik yang bisa kita tinggalkan. Dari cinta itu, peradaban tumbuh. Kita bisa mulai dari hal sederhana: membaca satu halaman setiap hari, menulis satu paragraf refleksi, atau datang ke acara buku dan mengobrol.

Mungkin dari percakapan kecil itu, semangat besar akan muncul lagi. Dan siapa tahu suatu hari nanti, Mizan Group kembali datang. Bukan karena Lamongan akhirnya menarik, tapi karena Lamongan sudah belajar mencintai pengetahuan dengan sepenuh hati.

Dadang Wiratama
Dadang Wiratama

Lurah Cedak.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *