
Dari 31 puisi dalam Satu Bumi Dirusak Bersama, M. Faizi menempatkan meja makan sebagai pusat gravitasi kesadaran ekologis. Strategi ini bisa dikata cukup berbeda dari puisi-puisi lingkungan pada umumnya yang menjadikan hutan, laut, atau gunung sebagai objek permenungan atas kerusakan. Ruang yang paling domestik itu bagi penyair adalah siklus produksi-konsumsi-limbah berlabuh dalam ritual yang kadang kala tidak disadari, yaitu aktivitas makan.
Seperti pengakuan sang penyair di pengantar buku ini, puisi-puisi Satu Bumi Dirusak Bersama sebagian merupakan transposisi dari artikel-artikel lingkungan yang sebelumnya ia kumpulkan dalam buku Merusak Bumi dari Meja Makan. Namun M. Faizi menyadari bahwa puisi tidak bekerja dengan logika argumentasi dalam bentuk tulisan semacam artikel atau esai. Ia mengatakan bahwa puisi melewati fase sublimasi dan pemampatan. Dengan kata lain, ia tidak sedang mengganti bentuk esai dengan baris-baris berirama.
Sang penyair mengoperasikan rezim representasi yang sama sekali berbeda: kepadatan metaforis, disrupsi sintaksis, dan keengganan terhadap kesimpulan eksplisit (seperti karakteristik puisi pada umumnya).
Buku dibuka dengan puisi “Selamat Pagi, Bumi”, sapaan yang segera terdekonstruksi menjadi evaluasi ekologis. Setiap sapaan berpasangan dengan kabar kerusakan. M. Faizi menggunakan anafora “Selamat pagi” sebagai ironi struktural, yaitu pengulangan yang seharusnya membangun keakraban menjadi mempertegas jarak antara subjek yang berbicara dan alam yang ia sapa.
Di ujung puisi, ia menodong pertanyaan dalam bahasa Arab yang dikutip langsung dari Al-Qur’an (QS. Al-Waqi’ah: 64): ءَاَنْتُمْ تَزْرَعُوْنَهٗٓ اَمْ نَحْنُ الزّٰرِعُوْنَ (Apakah kamu yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkan?). Interteks ini berfungsi sebagai hipogram teologis yang membatasi klaim manusia atas agensi ekologis. M. Faizi mengingatkan bahwa di balik teknologi pertanian dan rantai pasok pangan, tetap ada ketidakmampuan manusia untuk menciptakan kehidupan dari nol.
Jejak Kerusakan di Atas Meja Makan
Bagian lain dari buku ini adalah rangkaian puisi yang berlokasi di dapur dan meja makan. “Ikan Bakar Untukmu”, “Doa Sebelum Makan”, “Renungan dari Meja Makan”, “Yang Berdiam di Dalam Kulkas”, dan “Percakapan di Meja Makan” membentuk sebuah siklus yang bisa dibaca sebagai etnografi konsumsi pascaindustri. M. Faizi semacam menggambarkan “kebutaan” kita terhadap rantai sebab-akibat yang menghubungkan suapan di mulut dengan kerusakan di tempat lain.
“Ikan Bakar Untukmu” memperlakukan ikan bakar sebagai tubuh catatan. Irisan cabai, jeruk nipis, rempah, dan kecap sebagai pelapis yang menutupi jejak kematian di laut gelap, terumbu karang yang hancur, atau sampah plastik yang mengambang. Ia memberikan suara pada ikan tersebut: “Mengapa aku tidak dibiarkan saja hidup di laut sana / jika kalian hanya akan mencapampakkanku di atas meja?” Personifikasi tersebut bekerja sebagai mekanisme defamiliarisasi yang membuat pembaca melihat ikan bakar sebagai subjek yang memiliki biography, alih-alih semata sebagai komoditas yang menghiasi meja.
“Doa Sebelum Makan” merevisi genre doa makan dari ucapan syukur menjadi “audit” nafsu. M. Faizi menulis: “sebab perut hanyalah sejengkal usus / sedangkan syahwat tak pernah putus”. Kesadaran akan keterbatasan organik perut berhadapan dengan ekspansi hasrat yang tak terbatas. Ia juga mengingatkan bahwa berkah tidak menetes dari piring melamin, lebih daripada itu ada tangan yang membersihkan sisa makanan. Pengetahuan ini (bahwa sisa nasi mengandung barokah) adalah etika pra-kapitalis yang tergusur oleh logika higienitas dan kepraktisan.
“Yang Berdiam di Dalam Kulkas” puisi dialog sangat dramatik antara seonggok daging dan lemari es. M. Faizi memanfaatkan formasi wacana dari teknologi cryonic dan frozen food. Daging itu bertahan dalam keadaan suspend, tidak matang, tidak membusuk, tidak juga hidup. Keberadaannya di kulkas adalah metafora untuk konsumsi yang ditangguhkan, di mana pembelian terjadi karena akumulasi, bukan sebab sederhana yang kita kenal sebagai kebutuhan sebagaimana di era pra mesin lemari berpendingin ditemukan.
Kulkas dalam puisi ini menjadi “sekutu bedebah”, teknologi yang melayani merangsang pemborosan. Adegan berakhir dengan tangan manusia yang mengambil sayuran, sementara kubis dan kemangi berakhir di keranjang sampah. M. Faizi dalam puisi ini menunjukkan bahwasanya sampah adalah produk yang dihasilkan secara sistemik dari struktur dapur modern.
Dari Gurindam Sampah hingga Kritik Kaum Terdidik
Ia juga menguji bentuk gurindam untuk tiga puisi: sampah plastik, air, dan makanan. Gurindam, dengan distikon berima dan pola sebab-akibat, sebagai strategi teknologi mnemonik. M. Faizi ingin pesan ekologisnya beroperasi seperti petuah lama yang dihafal dan diwariskan. Dalam “Gurindam Sampah (Plastik)”, ia menulis: “Plastik styrofoam sangatlah praktis / sulit diayom tak bisa habis”. Pola rima a-a memaksa pembaca melambat, merasakan ketegangan antara kepraktisan dan keabadian sampah.
Kritik M. Faizi cukup tajam ditujukan kepada kelas terdidik yang wacana ekologisnya tidak sebanding dengan praktik konsumsinya. “Empat Lelaki di Atas Kapal Feri” bertiti mangsa 2009, menjadi dokumen paling awal kecurigaan ini. M. Faizi menggambarkan lelaki-lelaki rapi jali yang berceramah epistemologi sambil membuang styrofoam ke laut. Ia memposisikan dirinya “sebagai orang pertama yang mengumpat”, subjek yang melihat inkonsistensi antara performansi intelektual dan perilaku ekologis.
Puisi ini mengingatkan pada kritik Pierre Bourdieu tentang distingsi kelas: pengetahuan budaya sering menjadi modal simbolik yang tidak harus diikuti oleh praktik.
Di “Earth Hour”, M. Faizi meragukan efektivitas ritual pemadaman listrik satu jam karena ia hanya diikuti oleh “kaum terdidik yang nyaris seluruh hidupnya digerakkan oleh benda-benda elektrik”. Earth Hour, dalam pembacaan M. Faizi, tidak mengubah struktur konsumsi energi. Baginya, hal itu hanya menciptakan pengecualian sementara yang menegaskan aturan.
Belajar dari Alam yang Terus Dirusak
Dari sisi religius, M. Faizi menggunakan Islam sebagai kerangka etik yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kepemilikan dan pertanggungjawaban. “Madrasah Air” menggambarkan guru yang membawa murid ke bukit karst yang rusak. Setelah menjelaskan bahwa sungai telah kering dan mata air hanya berlinang dari mata yang sembab, lalu seorang murid bertanya: “setelah sumbernya kita rusak / sehingga air pun nyaris tiada / sebetulnya, kita ini belajar untuk apa?” Pertanyaan ini dibiarkan oleh M. Faizi sebagai lubang hitam yang menyerap semua klaim tentang pendidikan dan kemajuan.
“Belajarlah Kepada” mempertegas bahwa tanah, sungai, dan laut tetap bertasbih meskipun dirusak, sementara manusia yang mengaku berpikir justru safih. Kata “safih” dalam tradisi tafsir (misalnya Al-Qurthubi) merujuk pada kebodohan atau ketakmampuan mengelola. M. Faizi menuduh manusia modern bodoh secara pilihan: ia tahu apa yang dilakukannya, tetapi tetap melakukannya, dalam hal ini terhadap sesuatu yang merusak.
Satu kelemahan buku ini adalah inkonsistensi kualitas antara puisi-puisi yang bekerja dengan mekanisme dramatik dan yang bekerja dengan perintah langsung. “Gurindam Makanan” misalnya, terlalu bergantung pada larangan: “jangan melalah”, “jaga etika”, “jangan ambring-ambringan pangan”. Nada imperatif ini membuat puisi kehilangan ketegangan semantis.
M. Faizi lebih berdaya ketika ia bercerita, seperti dalam “Melarung Popok” yang menggambarkan popok sekali pakai diarak ikan ke laut, pecah, menyaru plankton, disantap ikan, lalu muncul kembali ke meja makan sebagai tengiri. Puisi tersebut bekerja tanpa satu pun kata “jangan”.
Namun, mekanisme siklus yang ia kembangkan cukup telak. Dus, Satu Bumi Dirusak Bersama berisi puisi-puisi yang menggugat kerusakan lingkungan dari titik paling remeh sekaligus paling kentara: meja makan. Bagi sang penyair, meja makan adalah tempat bersembunyi bagi sendok, garpu, dan tangan yang menyuap, jika tanpa kesadaran habitus, maka turut menyumbang kerusakan.
Judul: Satu Bumi Dirusak Bersama
Penulis: M. Faizi
Penerbit: Pelangi Sastra
Cetakan: I, 2025
Tebal: x+60 halaman; 13×19 cm
ISBN: 978-623-6937-74-7



