
Menjadi perempuan tidak seindah yang kamu kira. Banyak norma dan nilai yang dilekatkan padanya. Barang siapa yang tidak mengindahkan, maka, siaplah hujan caci makian datang bertubi-tubi. Sungguh, realitas itu lebih horor daripada hantu.
Kita bisa menyimak kisah-kisah itu melalui kumpulan cerpen Intan Paramaditha berjudul Sihir Perempuan (2023). Dalam kehidupan, perempuan mudah sekali mendapatkan pelabelan, penghakiman dan lain sebagainya. Perempuan seakan tidak memiliki pilihan.
Mereka terkungkung pada hukum patriarki. Perempuan hanya sebagai objek untuk diperlakukan seenaknya, tanpa, memperdulikan hak sesama manusia. Ini yang menjadikan keadilan gender tidak akan terwujud.
Sebab, ada tembok besar yang masih kokoh dan sulit dirobohkan.
Perempuan yang Salah Dimengerti
Intan, berhasil menghadirkan pengalaman membaca yang tidak biasa. Nuansa horor, begitu terasa. Konon, ini memang menjadi ciri khas. Pada Sihir Perempuan ini, salah satu cerpen yang berjudul “Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari”, membuat saya melihat Cinderella bukan lagi sebagai pusat simpati.
Sebaliknya, cerita ini menegur kita untuk melihat bahwa kebengisan saudara tiri bukanlah bawaan lahir, melainkan hasil dari ambisi seorang ibu dan standar kecantikan yang memutilasi kemanusiaan mereka. Intan, menyelipkan kritik sosial yang terasa amat dekat dengan realitas.
Selain itu, cerpen lain yang berjudul “Sang Ratu”, berkisah tentang mistisisme dan keruntuhan. Ada seorang lelaki kaya dan sudah berkeluarga, kehidupannya runtuh akibat tergoda perempuan lain. Padahal, ia sudah diwanti-wanti agar berhati-hati.
Alih-alih sekadar menakut-nakuti, horor justru berfungsi sebagai medium untuk menyampaikan pengalaman perempuan yang sering kali terpinggirkan.
Kegelapan di sini bukan hanya tentang sosok yang menyeramkan, tetapi juga tentang trauma, ketakutan, serta tekanan sosial yang kerap tidak terlihat, namun terus membentuk kehidupan sehari-hari.
Menelusuri Ruang yang Penuh Simbol
Dalam banyak cerita, batas antara yang nyata dan yang tidak nyata terasa kabur. Pembaca tidak selalu diberi kepastian tentang mana yang benar-benar terjadi dan mana yang hanya bayangan. Namun, justru di situlah letak kekuatannya.
Ketidakpastian ini membuat saya terlibat secara emosional, sekaligus dipaksa untuk berpikir lebih dalam tentang makna di balik setiap peristiwa.
Cerita-cerita dalam buku ini juga tidak selalu memberikan jawaban yang jelas. Sebaliknya, justru diajak untuk masuk ke dalam ruang yang penuh simbol dan makna tersembunyi.
Setiap kisah terasa seperti potongan realitas yang dibungkus dalam bentuk yang ganjil, bahkan terkadang tidak nyaman. Rasa tidak nyaman itu sendiri seolah menjadi bagian dari pesan yang ingin disampaikan, bahwa realitas tidak selalu mudah diterima.
Menariknya, buku ini kerap membalik cara pandang yang sudah lama kita anggap benar. Tokoh yang biasanya diposisikan sebagai “baik” tidak selalu sepenuhnya demikian, begitu pula sebaliknya.
Pembaca diajak untuk melihat dari sudut yang berbeda, memahami bahwa setiap individu memiliki latar belakang dan alasan yang tidak selalu terlihat di permukaan. Dalam konteks ini, penilaian moral menjadi sesuatu yang tidak lagi sederhana.
Menjadi Subjek yang Berdaya
Di sisi lain, Sihir Perempuan juga menunjukkan bagaimana masyarakat sering kali membentuk narasi tertentu tentang perempuan. Perempuan yang berbeda, menyimpang, atau tidak sesuai dengan norma, kerap ditempatkan sebagai “yang lain” sesuatu yang harus dijauhi, bahkan ditakuti.
Di tengah cerita-cerita yang terasa gelap, ada satu benang merah yang kuat: perempuan bukan sekadar objek dalam cerita, melainkan subjek yang memiliki pengalaman kompleks.
Pada akhirnya, Sihir Perempuan bukan hanya sekadar kumpulan cerpen horor. Ia adalah cara lain untuk membaca realitas tentang bagaimana perempuan sering kali diposisikan, dipersepsikan, dan diperlakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Buku ini mengajak pembaca untuk tidak hanya melihat permukaan, tetapi juga memahami lapisan-lapisan makna yang tersembunyi di baliknya.
Mungkin setelah membaca buku ini, kita tidak lagi melihat kegelapan dengan cara yang sama. Karena bisa jadi, di balik sesuatu yang selama ini kita takuti, justru terdapat cerita yang sebenarnya ingin dipahami dan suara-suara yang selama ini hanya menunggu untuk didengarkan.
Judul : Sihir Perempuan
Penulis : Intan Paramaditha
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2023, Cet. ke-2.
Tebal : viii-159 hlm.
ISBN : 978-602-03-4630-4



