Melahirkan Kembali Gotong Royong

Sumber : Gemini AI image generate

Kita hidup di sebuah negeri yang sangat gemar menudingkan telunjuk ke luar jendela, namun mendadak ketakutan saat disodorkan sebuah cermin. Di dalam buku-buku diktat sekolah, kita mengagungkan sebuah frasa magis: Gotong Royong. Kita diajarkan bahwa dengan berkumpul, meneriakkan yel-yel heroik, dan memikul beban bersama, sebuah peradaban yang agung akan terbangun. Namun, kita lupa pada satu hukum alam yang paling mendasar: seribu orang yang memikul satu batang kayu raksasa akan hancur tertindih jika masing-masing dari mereka memiliki tulang punggung yang keropos.

Mari kita tatap panggung komedi kebangsaan kita hari ini. Kita begitu fasih mencaci maki sebuah kapal besar yang sedang oleng karena dikemudikan oleh para amatir. Kita mengutuk para pemimpin karbitan yang membagi-bagikan seragam mualim kepada badut-badut sirkus. Kita meradang melihat para saudagar tamak yang membiayai provokasi di jalanan. Di saat yang sama, barisan massa turun ke jalan raya, membusungkan dada merasa bak pahlawan pembebas, berteriak menuntut keadilan sambil membakar fasilitas yang dibeli dari uang pajak mereka sendiri.

Semuanya merasa menjadi korban sistem. Semuanya merasa berhak menjadi hakim bagi kebobrokan negara. Namun, mari kita hentikan sejenak orkestrasi kemunafikan ini, menepilah dari kerumunan, dan bertanyalah pada pantulan wajah kita sendiri: Apakah kita benar-benar berbeda dari badut dan lintah negara yang kita caci maki itu?

Betapa mudahnya kita menuntut meritokrasi dan mengutuk nepotisme, sementara diam-diam kita masih bertanya kepada kerabat kita apakah ada “jalur orang dalam” untuk memasukkan anak kita ke sekolah favorit atau instansi tempatnya bekerja. Betapa lantangnya kita meneriakkan antikorupsi, sementara kita masih mewajarkan kebiasaan mencuri waktu kerja, menyontek di ruang ujian, atau menyuap petugas di jalan raya demi menghindari sanksi tilang.

Kita menginginkan sebuah negara yang tanpa cacat, padahal kita sendiri masih bergelimang dalam standar hidup yang penuh kompromi murahan. Sadar atau tidak, kita adalah miniatur dari kebobrokan yang kita kutuk setiap hari.

Oleh karena itu, jika kita sungguh-sungguh ingin melahirkan kembali jiwa gotong royong yang sehat, revolusi itu tidak boleh dimulai dari jalanan, balai kota, atau mimbar dewan. Revolusi itu harus dimulai dari kamar tidur kita sendiri. Kita harus membongkar ulang kesadaran kita dan memeluk sebuah prinsip yang sangat tidak dramatis, tidak meledak-ledak, dan karenanya sangat dihindari oleh para pencari panggung: perbaikan diri yang terus-menerus, tanpa henti, sedikit demi sedikit, setiap hari.

Gotong royong kesadaran ini menuntut pemahaman radikal bahwa Anda tidak akan pernah bisa menyelamatkan sebuah bangsa jika Anda belum selesai memperbaiki diri Anda sendiri. Ini adalah prinsip tentang memahat kualitas dan kompetensi personal Anda agar satu persen lebih tajam, lebih jujur, dan lebih ahli dari hari kemarin.

Dalam gotong royong versi ini, tidak ada lagi ruang bagi heroisme konyol di mana seseorang mencoba memperbaiki tata kelola negara tapi merapikan tempat tidurnya sendiri saja ia masih malas. Tidak ada lagi tempat bagi mereka yang sekadar ikut berteriak menuntut hak, tanpa pernah mengevaluasi kualitas kewajibannya.

Melahirkan kembali bangsa ini adalah sebuah rutinitas personal yang sunyi. Ia adalah kedisiplinan Anda untuk menolak ikut campur dalam kerumunan yang termakan provokasi murahan, dan memilih duduk membaca untuk menajamkan logika. Ia adalah keputusan sadar untuk mengerjakan tugas profesi Anda—sekecil apa pun itu—dengan standar kualitas tertinggi, meskipun tidak ada kamera atau atasan yang mengawasi. Prinsip perbaikan dari dalam diri ini membunuh ego “sang pahlawan penyelamat”, karena ia menyadarkan kita bahwa kontribusi kolektif tidak akan bernilai jika ia disumbangkan oleh individu-individu yang cacat integritas.

Sebuah kapal tidak akan tenggelam hanya karena kaptennya salah membaca peta. Kapal itu karam perlahan karena tukang las di ruang mesin mewajarkan pekerjaannya yang asal-asalan, karena koki di dapur merasa wajar mencuri sedikit persediaan beras, dan karena kelasi di menara pantau sibuk mencari validasi sehingga lupa melihat karang di depan mata. Menjaga kualitas pekerjaan dan integritas pribadi, di mana pun Anda ditempatkan, adalah bentuk gotong royong yang paling otentik.

Lalu, bagaimana dengan para oligarki dan keserakahan elit yang merajalela?

Keserakahan para penguasa tidak bisa dibunuh dengan lemparan batu, melainkan dibuat kelaparan oleh ekosistem individu-individu yang menolak untuk dibeli. Parasit hanya bisa tumbuh subur di negara yang warganya masih menoleransi jalan pintas dan mentalitas instan. Jika setiap dari kita berfokus murni untuk menciptakan kualitas diri yang tak bisa ditawar—di mana kita menolak menyuap, menolak menjilat, dan menolak berbuat curang sekecil apa pun—maka celah gelap bagi para monster berdasi itu akan tertutup rapat dengan sendirinya. Keserakahan mereka akan mati tercekik oleh integritas kolektif yang dibangun dari kesadaran individu.

Tentu saja, tawaran kesadaran ini sangat menyakitkan bagi ego manusia. Jauh lebih menyenangkan menyalahkan sistem, menyalahkan pemimpin, atau menyalahkan elit global, daripada mengakui bahwa diri kita sendiri belum cukup pantas untuk menghuni sebuah negara yang maju. Menjadi martir kesiangan yang berteriak menghujat di jalanan jauh lebih mudah daripada harus duduk diam, menelan ludah mengevaluasi kelemahan diri, dan berjuang memperbaikinya dalam sunyi.

Tulisan ini adalah sebuah undangan bagi Anda yang berani merenung. Ini bukan naskah untuk membela sebuah rezim, bukan pula amunisi untuk menjatuhkan lawan politik. Ini adalah sebuah cermin yang diletakkan tepat di depan wajah Anda.

Berhentilah bermimpi menenangkan lautan badai jika Anda masih membiarkan air masuk melalui lubang yang Anda buat sendiri di perahu Anda. Melahirkan kembali gotong royong berarti kita mengambil tanggung jawab mutlak atas kewarasan pikiran dan kualitas tangan kita sendiri. Ini adalah jalan yang sepi; tidak akan ada medali yang dikalungkan di leher Anda. Namun, ketika jutaan tangan secara bersamaan memutuskan untuk memahat diri mereka menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin, maka kapal karam ini akan kembali berlayar dengan sendirinya.

Itulah kebangkitan yang sejati. Sebuah kebangkitan yang tidak dimulai dengan menunjuk wajah orang lain, melainkan keberanian yang jujur untuk menaklukkan diri sendiri.

Zahruddin Fanani
Zahruddin Fanani

Beruntung masih hidup

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *