
Kita sedang berdiri melingkar, menundukkan kepala, mengheningkan cipta dalam sebuah upacara pemakaman yang paling sunyi sekaligus paling bising dalam sejarah. Yang kita turunkan ke liang lahat hari ini bukanlah jasad bernyawa, melainkan sebuah kewarasan kolektif purba yang dahulu kita puja dengan sebutan suci: Gotong Royong. Tidak ada isak tangis yang tulus di pemakaman ini, yang ada hanyalah senyum simpul dari balik topeng-topeng panggung sandiwara besar yang sedang dimainkan oleh semua lakon di atas tanah ini.
Mari kita tatap sejenak ke arah menara pengawas, tempat di mana para pemegang kunci dan pemegang stempel kekuasaan duduk bersandar. Sungguh, sebuah tepuk tangan yang meriah patut kita alamatkan kepada mereka atas sebuah eksperimen sosial yang sangat berani. Tidakkah brilian menentang hukum alam dengan memberikan palu godam kepada tukang kaca, dan menyerahkan pisau bedah kepada seorang pandai besi? Di atas menara sana, keahlian dan kompetensi telah lama menjadi barang rongsokan yang usang. Ia digantikan oleh sebuah mata uang baru yang jauh lebih laku: kedekatan, kekerabatan, dan hutang budi.
Para nahkoda dengan rasa percaya diri yang menakjubkan, menunjuk orang-orang buta huruf untuk membaca peta navigasi. Mereka menempatkan badut-badut untuk menjaga ruang mesin, sekadar karena sang badut adalah rekan satu meja saat berpesta, atau karena ia pandai memuji pakaian sang nahkoda yang sebenarnya telanjang. Hasilnya? Sebuah karya seni abstrak bernama kebobrokan. Mesin berasap, layar robek, dan lambung kapal mulai bocor. Namun, alih-alih menambal kebocoran, para penghuni menara ini justru sibuk memperdebatkan warna cat apa yang paling bagus untuk menutupi karat di geladak. Sebuah ironi yang dipertontonkan dengan sangat anggun, seolah kehancuran adalah sebuah prestasi yang harus dirayakan.
Namun, mari kita alihkan pandangan dari para bangsawan menara itu ke arah lorong-lorong gelap di bawah tanah. Di sana, duduk sekumpulan saudagar, para pemegang kantong emas, dan para pembisik yang wajahnya tak pernah tertimpa cahaya matahari. Mereka sedang meradang. Jalur sutra mereka tersendat, monopoli mereka terganggu, dan pundi-pundi koin mereka sedikit menyusut karena satu atau dua aturan baru dari sang nahkoda yang tiba-tiba merasa ingin menegakkan regulasi.
Bagi para saudagar dan pelakon politik yang kehilangan panggung ini, berduel secara ksatria adalah sebuah kebodohan. Mengapa harus mengotori tangan sendiri jika di luar sana ada ribuan jiwa muda yang darahnya mudah mendidih? Maka, dimulailah sebuah transaksi yang paling hina. Koin-koin emas dialirkan dalam senyap, mendanai sekelompok manusia penjaja ludah—para pengkhianat bersorban keadilan—yang tugas utamanya adalah memproduksi narasi beracun. Mereka membisikkan angin badai ke telinga-telinga yang haus akan validasi heroik.
Di sinilah pertunjukan komedi tragis mencapai puncaknya. Masuklah sang lakon utama kita: barisan darah muda, para pembawa obor, kelompok kerah berkeringat, dan jiwa-jiwa terpelajar yang merasa diri mereka adalah reinkarnasi dari para pahlawan pembebas. Terbuai oleh retorika manis dari para pembisik bayaran, mereka turun ke jalan raya, membusungkan dada, meneriakkan yel-yel revolusi yang naskahnya bahkan tidak mereka tulis sendiri. Mereka merasa sedang menjadi martir yang menyelamatkan kapal, tanpa sadar bahwa mereka sedang memegang kapak untuk melubangi lambung kapal dari dalam.
Sungguh sebuah heroisme yang memabukkan! Para pemuda dan barisan massa ini diprovokasi untuk melihat dunia hanya dalam warna hitam dan putih. Mereka dikondisikan untuk percaya bahwa satu-satunya cara untuk menyembuhkan penyakit demam adalah dengan membakar rumah sakitnya. Mereka menari dengan sangat lincah mengikuti tabuhan genderang para saudagar yang kepentingannya terganggu. Mereka pikir mereka sedang meruntuhkan sebuah rezim tirani, padahal mereka hanyalah pion-pion catur yang sedang dikorbankan agar sang ratu hitam bisa kembali menguasai papan permainan dan melanjutkan bisnis kotornya.
Inilah momen di mana kita menyadari bahwa nisan dari Gotong Royong telah selesai dipahat. Gotong royong yang kita kenal dulu telah mati dibunuh oleh dua mata pisau yang berbeda arah: arogansi di atas, dan kenaifan di bawah.
Gotong royong yang dikubur itu, sejatinya adalah sebuah harmoni kewarasan. Dalam buku diktat usang yang kini hanya menjadi makanan rayap, gotong royong seharusnya bermakna bahwa setiap orang berdiri di posisinya sesuai dengan takaran akalnya. Jika skenario ideal ini yang terjadi, maka seorang pemimpin, betapapun besar godaannya, akan menelan egonya dan menempatkan ahli mesin di ruang mesin, dan ahli bintang di ruang kemudi. Bukan menempatkan mereka yang sekadar pandai menjilat dan mengangguk.
Dan di sisi lain dari koin yang sama, bentuk dukungan dari barisan terpelajar dan masyarakat tidaklah berarti mereka harus menjadi paduan suara yang menyanyikan lagu puji-pujian buta. Gotong royong menuntut adanya pengawasan yang tajam bak elang, namun terukur. Kritik yang lahir dari rahim gotong royong adalah mercusuar. Ia memancarkan cahaya peringatan agar kapal tidak menabrak karang. Kritik yang sehat adalah teguran seorang sahabat yang melihat temannya berjalan menuju jurang, bukan meriam artileri yang ditembakkan dari geladak sendiri untuk menenggelamkan seluruh isi kapal.
Ketika kebijakan dirasa melenceng, tugas kaum pemikir adalah membedah kebijakan itu di meja operasi akademik, menawarkan antitesis yang logis, dan menekan kemudi agar kembali ke jalur yang benar. Bukannya malah menerima koin dari para penumpang gelap untuk membakar layar utama. Namun sayang, logika sederhana ini terlalu membosankan bagi mereka yang kecanduan akan tepuk tangan dan pujian sebagai “sang pemberontak”. Membangun itu butuh waktu dan keringat, sementara menghancurkan hanya butuh satu batang korek api dan teriakan provokasi. Tentu saja, menjadi pahlawan yang menghancurkan jauh lebih menggiurkan secara ego.
Kini, di atas makam gotong royong ini, kita hanya bisa menatap nanar. Pemimpin masih sibuk membagi-bagikan kursi seolah itu adalah permen sisa perayaan, sementara di bawah sana, kerumunan massa masih sibuk berteriak dengan urat leher menegang, membela kepentingan bos-bos besar yang sedang duduk santai sambil menyesap anggur merahnya. Semuanya merasa benar. Semuanya merasa menjadi korban. Semuanya merasa sedang menyelamatkan negara.
Tulisan ini bukanlah sebuah surat cinta, bukan pula sebuah surat dakwaan. Ini hanyalah sebuah catatan kecil yang ditinggalkan di atas pusara, teruntuk mereka yang masih menyisakan sedikit ruang di kepalanya untuk merenung. Bagi kalian yang masih mau berpikir—jika spesies ini masih belum punah—mari kita ajukan satu pertanyaan retoris malam ini: Akan sampai kapan kita terus bermain dalam sirkus ini?
Apakah kita akan terus membiarkan kursi-kursi kemudi diduduki oleh para amatir yang tak tahu arah angin? Dan apakah kita akan terus membiarkan diri kita menjadi mesin perusak yang disewa dengan harga murah oleh mereka yang hanya peduli pada ketebalan dompetnya?
Jika jawabannya adalah iya, maka mari kita selesaikan upacara pemakaman ini dengan khidmat. Taburkan tanahnya, rapikan nisannya. Biarkan gotong royong beristirahat dengan tenang dalam buku-buku sejarah, karena di dunia nyata, kewarasan rupanya sudah terlalu berat untuk kita pikul bersama.



