Santri Harusnya Tampilkan Rujakan, Bukan Romansa

The Santri
Sumber indonesiainside.id

Sedang menuai bagitu banyak kontroversi, saya kemudian teringat film berjudul The Santri (2019) yang disutradarai seorang perempuan bernama Livi Zheng. Perbincangan ramai ini bertempat di media sosial. Film ini menuai kontroversi karena dianggap keliru menampilkan budaya santri.

Film ini saya tonton bermodal kuota melalui saluran youtube. Dalam film itu seharusnya seorang santriwan dan santriwati yang tinggal di pondok tidak berjalan beriringan di lingkungan pondok. Banyak pihak menilai Zheng tidak kompeten karena membuat film bertema santri tanpa pernah nyantri.

Saya di sini setidaknya pernah mengaji di langgar seorang Kyai yang memiliki beberapa puluh santri pada waktu itu. Saya dan beberapa teman lain mengaji tanpa menetap di pondok, sehingga kami tidak bisa disebut santri.

Kami hanya mengaji mulai dari maghrib-isya’, kemudian meninggalkan langgar untuk pulang ke rumah, di daerah saya disebut “colokan”, alias mengaji, tetapi, pulang-pergi.

Setiap sore menjelang maghrib, anak-anak “nyolok” memiliki kebiasaan unik. Kami berangkat bersama menuju langgar dengan penuh semangat. Sambil berjalan, kami menjemput teman-teman dari satu rumah ke rumah lainnya. Masing-masing membawa sajadah yang di dalamnya tersimpan mukenah, buku kumpulan doa, dan pulpen. Ada juga yang menaruh mukenah serta perlengkapan mengaji lain ke dalam tas sebelum akhirnya kami bersama-sama melangkah menuju langgar.

Setiap kali berangkat mengaji di sore menjelang maghrib, selalu merasakan suasan seram ketika lewat di bawah pohon bambu. Mitosnya, banyak genderuwo yang tinggal di pohon bambu, dan seketika kami berlari hingga tunggang-langgang. Sesampainya di tempat tujuan kami tidak langsung mencuci kaki-tangan, melainkan rujakan.

Rujakan ala Santri

Rujakan yang biasanya berisi sayur-mayur, tempe, tahu, dan kadang cingur, lontong dengan disiram bumbu kacang, sedangkan kami tidak demikian. Untuk melakukan rujakan, kami mencari buah-buahan yang asam alias kecut. Bumbunya, kami sengaja membawa sebungkus masako dari rumah.

Ditambah pula, langgar yang kami tempati mengaji tumbuh beberapa pohon belimbing wuluh dan buahnya lebat sekali. Sering kami memetik untuk disiram masako. Begitu menurut kami sudah terasa nikmat.

Kami menikmati rujakan dengan ragam sensasi. Ada yang mengeluarkan air mata, ingusnya keluar-masuk, mata sampai terpincing, dsb.

Suasana seperti ini sering saya rindukan. Dan, ternyata budaya rujakan ini tidak hanya dilakukan santi nyolok, melainkan santri di tempat lain.

Saya mengetahuinya ketika sempat berkunjung untuk menginap di tempat lain. Saya memberanikan diri bertanya, “kenapa sih mbak kok mau makan buah-buahan kecut begini untuk di rujak ?”, mereka menjawab dengan enteng , “Ya karena sudah nggak ada lagi yang mau dimakan, dik !”.

Bagi santri, tidak penting manis atau kecut, asal bisa dimakan dan halal, ya dimakan saja. Saya jadi teringat film The Santri, jangankan jalan sambil senyum-senyum disamping santriwan, makan saja seadanya.

Cinta-Cintaan

Tidak dapat dipungkiri jika kemunculan rasa terhadap lawan jenis itu ditolak. Ini fitrah. Manusia hanya dapat mengendalikan agar tindakan tidak sampai keluar koridor aturan agama. Memang ini masih pro-kontra. Namun, semestinya setiap santri dapat memilih secara tepat.

Lagi pula, cinta-cintaanya anak santri tidak seperti yang digambarkan dalam film tersebut. Entah bagaimana cara mengirimkannya, sepengetahuan saya akan cerita cinta para sepupu saya yang nyantri, mereka mengungkapkan rasa tertarik melalui surat-menyurat. Lebih dari itu, secara sembunyi-sembunyi.

Tindakan ini, seperti sedang menjaga sebuah rahasia besar yang tiada pantas seorangpun mengetahuinya. Atau ini memang etika santriwan/ti dalam menjalankan kisah cinta. Tentu yang mengetahui dengan benar adalah mereka yang pernah mengenyam dunia kesantrian.

Cinta dalam The Santri dapat dipandang sebagai simbol pergeseran budaya—antara religiusitas yang mapan dan modernitas yang menuntut kebebasan ekspresi. Film ini tidak hanya bercerita tentang cinta antar manusia, tetapi juga tentang cinta terhadap nilai, identitas, dan cara hidup yang sedang diuji oleh perubahan zaman.

Hal ini menunjukkan adanya benturan antara idealisme sutradara yang ingin menampilkan pesantren yang progresif dengan pandangan masyarakat yang masih memegang kuat nilai-nilai kesantrian yang konservatif.

Layliyatul Faiqiyah
Layliyatul Faiqiyah

Bercita-cita menjadi filsuf

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *