
Aku menulis ini dengan tangan gemetar, bukan karena takut, tapi karena darahku masih berdenyut keras menolak untuk diam. Hidup, katamu, hanya persinggahan. Tapi bagiku, ia lebih seperti arena, gelanggang tempat kita dipaksa mengadu, dan siapa yang kalah akan dikubur dalam sunyi. Aku tidak mau jadi penonton. Aku memilih jadi api, walau kecil, walau sering nyaris padam, tapi tetap berusaha menyulut gelap.
Orang-orang berbaris tiap pagi, wajahnya kaku, langkahnya tergesa, seolah ada hukum besi yang menuntut mereka bergerak seragam. Mereka mencari roti, uang, pangkat—dan entah kapan terakhir kali menatap langit dengan mata bebas. Aku muak pada kepatuhan buta itu. Aku ingin merobek tirai, membiarkan cahaya menampar wajahku, dan berteriak: “Aku ada! Aku hidup!” Walau dunia menertawakan, walau mereka menganggapku pecundang, biarlah. Yang penting aku tidak menyerahkan jiwaku jadi mesin.
Aku tidak percaya hidup hanya sekadar soal makan, kawin, mati. Lebih dari itu: ia adalah jejak. Sesuatu yang kita tinggalkan, entah berupa kata, luka, atau nyanyian yang diperdengarkan sekali lalu mengendap di telinga bumi. Aku ingin jejakku bukan sekadar nama di batu nisan. Aku ingin ia bergerak, menolak hening, melawan lupa. Bukankah lebih mulia mati sebagai serbuk api, ketimbang hidup seratus tahun tapi beku?
Orang bilang aku keras kepala. Benar. Aku memang tidak suka tunduk. Bahkan kepada waktu sekalipun, aku ingin melawan. Kalau bisa, kugenggam jarumnya, kuhentikan detiknya, kuseret ke arahku sendiri. Biarlah aku letih. Biarlah tubuhku remuk. Tapi jangan paksa aku berjalan di jalur yang mereka tentukan. Aku ingin menentukan nasibku sendiri, meski harus terseok di jalan yang asing.
Kadang aku iri pada pohon di tepi jalan. Ia diam, tapi kuat. Akarnya menancap dalam, batangnya menjulang. Ia tidak perlu memohon izin untuk tumbuh, tidak perlu mengemis ruang di hati orang. Ia hanya ada—dan dengan itu ia menaklukkan waktu. Mungkin, aku pun harus begitu: berdiri, walau diterpa badai, walau digunduli, walau suatu hari ditebang. Pohon mati, tapi meninggalkan lingkar demi lingkar yang terus jadi cerita.
Kawan, jangan takut pada luka. Luka adalah tanda kau pernah hidup sepenuh-penuhnya. Jangan malu pada tangisan. Tangisan adalah bukti hatimu belum kering. Kita terlalu lama diajari menjadi patuh, menjadi jinak. Sekarang saatnya menggeliat, menggertak, merobek borgol yang membelit jiwa. Lebih baik hancur sebagai dirimu sendiri, daripada utuh sebagai boneka.
Aku tidak tahu sampai kapan bisa menulis begini. Tapi setidaknya hari ini aku berteriak, menolak diam, menolak dikubur sebelum waktunya. Aku ingin jejakku tetap ada, meski hanya secuil, meski kelak terbaca oleh satu orang saja. Itu cukup. Karena jejak, sekecil apa pun, adalah tanda bahwa aku pernah melawan lupa.
Dan bila besok aku mati, biarlah orang bilang: “Ia hidup sebentar, tapi menyala.”




serta umur kita memiliki makna, maka kita harus mampu menghasilkan karya. Kita wajib meninggalkan jejak peradaban. Karya apa yang bisa kita wariskan. Monumen apa yang bisa kita tinggalkan untuk generasi