
“Jika cincin menjadi pengikat hubungan cinta, bunga mawar sebagai penanda ikatan asmaran, resensi bisa menjadi proklamasi dari sebuah pertemanan” (M. Dahlan, 2020).
Tiada cara lain selain berpegang pada pedoman. Memahami, mematuhi dan menjalankan adalah keniscayaan. Meski sudah setegas itu, namun keteledoran masih sulit terhindarkan. Dan, siapakah yang dimaksud itu ? iya, betul, makhluk bernama manusia.
Sejak ruh ditiupkan ke dalam jasad, manusia membawa sifat dasar sebagai makhluk yang lemah, sehingga ia tidak mudah menertibkan dirinya. Manusia sering membiarkan diri terpesona oleh gemerlap kehidupan dunia yang sementara, sehingga ia harus selalu mewaspadai diri agar tidak bertindak berlebihan.
Kita bisa mengendalikan salah satu caranya dengan membaca, menginternalisasikan dan menempa diri. Mulai dari yang ringan-menengah-berat. Saya kira, untuk mendapatkan di era saat ini sangat cukup mudah, bisa mengakses bermacam artikel melalui internet.
Buku garapan pemilik nama lengkap Aditya Akbar Hakim yang berjudul “Lima Sebelum Lima” (2020) ini berisi pengingat-pengingat bagi umat manusia seantero jagad bumi untuk merenungi, memberi arti dan memaknai hidup. Yang mungkin lalai, lupa dan tidak menyadari akan pentingnya merawat kesehatan jasmani dan ruhani menuju keseimbangan.
Penulis menyuguhkan lima pembahasan kepada pembaca sebagai bekal untuk bermuhasabah atau merenungkan kembali cara menjauhkan diri dari ketidakbermaknaan dalam menggunakan potensi diri. Banyak dari umat manusia, tidak menyadari akan adanya keterbatasan hidup. Sehingga memaksimalkan secara penuh untuk menikmati hanya baru dari sisi keduniawian saja. Ini sungguh miris !!
Aditya meneladani bukan hanya Nabi Muhammad, tetapi juga beberapa tokoh lain seperti Mu’adz bin Jabal, Jenderal Soedirman, dan Chairil Anwar. Ia memilih tokoh-tokoh itu secara sengaja sebagai wakil dari masing-masing profesi yang mereka tekuni. Setiap orang dapat memahami bahwa ia bisa memanfaatkan usia dan umurnya sesuai dengan bidang yang diminatinya, asalkan ia mampu meninggalkan jejak yang berarti.
Sejalan yang disampaikan Aditya, “supaya hidup dan usia kita memeiliki arti, serta umur kita memiliki makna, maka kita harus mampu menghasilkan karya. Kita wajib meninggalkan jejak peradaban. Karya apa yang bisa kita wariskan. Monumen apa yang bisa kita tinggalkan untuk generasi mendatang”. (Hal. 21).
Bagi Aditya, seseorang yang tidak mencipta sesuatu selama hidup di dunia berarti menyia-nyiakan hal yang seharusnya memiliki arti dan makna. Setiap manusia harusnya terdorong berbuat kebaikan. Setidaknya memberi contoh. Sedangkan, generasi mendatang bisa meniru, mengkreasikan dan menginovasi yang lebih menarik dalam proses pembelajaran.
Memahami Umur
Di masyarakat sering mendengar dan ucapan kata usia dan umur. Namun, apakah disertai pemahaman menyoal arti, menurut saya tidak selalu. Lantas, apa sebenarnya perbedaan dari dua kata itu ?
Secara bahasa Indonesia usia berarti “lama waktu hidup”, sedangkan “umur” mengandung arti “hidup”. Sekilas ini bisa diketahui bahwa usia membicarakan tentang rentang waktu manusia hidup di dunia. Berbeda dengan umur, ia lebih mengarah pada merasakan, menciptakan dan memberi peninggalan serta berdampak.
Sebab, kita tidak dapat memungkiri bahwa perubahan benar-benar terjadi, dan kita bisa melihatnya dari berbagai aspek. Pertama, secara kronologis, bahwa umur manusia setiap tahunnya menemui penambahan angka. Biasanya, orang merayakannya hanya dengan memberikan ucapan atau mengadakan perayaan kecil.
Kedua, secara biologis, pandangan ini tampak pada perubahan kondisi fisik. Mulai terjadi pengerutan. Kekuatan tubuh melemah. Intinya, hampir semua aspek pasti mengalami penurunan. Ini yang menyebabkan kualitas hidup akan semakin sempit.
Dan, yang terakhir ialah secara psikologis, terlihat dari kematangan berfikir dan pengambilan sikap. Posisi ini menunjukkan pengambilan sebuah keputusan yang adil. Ia memiliki ketahanan diri yang cukup baik.
Jadi memahami hidup tidak cukup hanya lama umurnya, melainkan seberapa jauh kualitasnya. Sebab, hakikat hidup itu bukan sesuatu yang tampak tetapi yang tertutupi. (hal. 193). Tinggal, bagaimana manusia merawat agar tetap berada pada keseimbangan, antara jasad dan ruhani.
Sebab, pada intinya, muara kehidupan bukanlah mencari kekayaan melimpah di dunia. Salah besar. Yang mendekati kebenaran ialah tujuan dari hidup itu bertemu Allah. Kembali asal. Kepada sang pemberi hidup dan pencipta. Sulit untuk dibantah.
Maka, selagi masih mendapat kesempatan hidup panjang, perbanyaklah beramal saleh. Bentuknya sesuai kemampuan. Asalkan seseorang berpijak pada keikhlasan, ketaqwaan, dan ridho, Allah pasti akan mempermudah segalanya. Semua ini, nantinya akan membantu kelancara dalam proses pertanggungjawaban kelak.
Hal semacam ini, sedihnya tidak semua memahami dan melaksanakan. Justru yang terjadi ialah memanfaatkan masa muda, usia dan umur hanya untuk berfoya-foya belaka, yang sifatnya kesementaraan. Padahal, yang kekal adalah akhirat.
Judul : Lima Sebelum Lima
Penulis : Aditya Akbar Ilham
Penerbit : QIBLA, 2021
Tebal : Hal. V-248
ISBN : –



