
Di era digital ini penipuan barangkali bukan perkara asing bagi telinga kita. Ia mungkin seperti tahu atau tempe yang kerap kita jumpai di setiap menu makan rumahan, atau menu makan murahan yang bisa kita peroleh dengan mudah di warung-warung makan pinggir jalan atau bahkan terbungkus di sebuah warung giras sebagai ganjal perut yang luwih, istilah lokal di Lamongan untuk perut yang sedang lapar. Mungkin begitulah recehnya penipuan di era ini.
Jika kita menengok berita-berita di media cetak atau bahkan di media online, akan dengan mudah sekali kita dapat macam-macam berita penipuan dari sana. Mungkin tak perlu jauh-jauh di smartphone kita yang terhubung dengan beberapa medsos, Facebook, Instagram, dan kawan-kawannya.
Jika kita tidak teliti kita mungkin akan menjadi korban. Bahkan mungkin sudah menjadi korban. Pelaku penipuan di era digital ini seakan memiliki ruang yang begitu luas untuk bersembunyi, dan menjalankan aksinya.
Yang paling riskan, dan menjengkelkan jika penipu itu adalah teman sendiri, dan korbannya adalah kita sendiri. Ini mungkin yang paling receh dan rendah tingkatannya dalam kelas penipuan jika sebuah penipuan itu memiliki kelas atau tingkatannya, seperti level dalam bermain game misalnya: easy, normal, hard, expert dan seterusnya. Ini yang paling easy, kelewat easy.
Ada sebuah cerita, seorang teman yang baru kita kenal tidak lama. Dan sekilas kita tahu ia tinggal di mana, boleh dikatakan tidak terlalu jauh. Bicara ngalor-ngidul dan sialnya setiap kata-katanya berhasil menarik hati kita.
Di akhir cerita ia menawarkan kerja sama dengan iming-iming laba yang cukup menggiurkan. Jual beli arloji misalnya. Karena tergiur dengan iming-iming laba yang melimpah, tanpa pikir panjang kita lantas berjabat tangan dan ambil bagian.
Di akhir cerita bukan untung, malah buntung yang didapat. Uang kita tidak kembali dan si teman entah ke mana. Lalu keluarganya tak peduli dia dipukuli atau mati sekalipun.
Panutan di Tengah Ruang Digital
Di mana letak kesalahannya? Dalam novel 1Q84, Murakami menyuguhkan seorang tokoh bernama Ushikawa. Ia bukan tokoh rupawan tapi sebaliknya. Kepalanya somplak, badannya pendek, dan kakinya kecil mirip mentimun. Kurang lebih seperti itu gambaran Ushikawa sebagai salah satu tokoh di novel itu.
Di salah satu bab di novel 1Q84, Murakami membeberkan seluruh yang dimiliki Ushikawa. Dari keluarga seperti apa ia berasal. Masa lalu seperti apa yang pernah ia alami. Bagaimana hubungan sosialnya. Dan seperti apa isi kepala yang membentuk mentalitasnya?
Murakami memaparkan begitu gamblang seperti apa si Ushikawa ini. Ia boleh tak rupawan dalam hal fisik, namun dalam hal isi pikiran. Ia harusnya panutan bagi manusia-manusia di era digital agar tak mudah menjadi korban penipuan, dusta yang terorganisir, atau propaganda-propaganda terselubung.
Media sosial atau media-media online yang sumbernya kelewat keruh, seringkali menyuguhkan dusta-dusta yang dimasak sedemikian rupa agar tampak serupa kebenaran faktual, alih-alih kebenaran rasional.
Secara tersirat Ushikawa mungkin ingin menunjukkan, bagaimana agar kita terhindar sekaligus selamat dari ranjau-ranjau terpendam berupa dusta-dusta receh, atau hoax yang kerap berseliweran di sekitar kita.
Dalam novel ini Ushikawa gemar mempertanyakan kebenaran informasi yang ia peroleh. Tidak serta merta menelan bulat-bulat informasi sebagai suatu kebenaran yang konkrit. Sekalipun ia peroleh dari sumber yang terpercaya, teman akrab, atau seorang teknokrat dalam bidangnya. Ia berkali-kali meragukan apa yang telah ia genggam sebagai suatu kebenaran yang disuguhkan padanya.
Skeptisisme Ushikawa Sebagai Benteng Kewarasan
Di novel ini Ushikawa memiliki peran yang cukup mengundang pertanyaan. Ia bertugas menggali informasi konkrit tentang Aomame. Dari mana asal Aomame, masa kecilnya, keluarganya, dan segala yang berkaitan dengan Aomame. Sementara Aomame dalam sudut pandang Ushikawa, ia hanya sebatas informasi atau deskripsi samar mengenai dirinya.
Di sinilah Ushikawa memainkan perannya, sebagai seorang pemberi informasi yang terpercaya. Ia harus memvalidasi setiap informasi yang masuk mengenai Aomame. Tak tanggung-tanggung ia juga harus menemui suatu tempat yang bersangkutan dengan informasi samar yang diperoleh.
Ushikawa juga memberikan analogi tentang beberapa ekor anjing yang ia lepaskan di padang rumput nan luas. Ia membiarkan mereka berlari sepuasnya, berguling-guling di rumput, saling kejar, dan melakukan apapun semau mereka.
Kurang lebih semacam itulah Ushikawa selalu meragukan informasi yang ia peroleh.
Ia mencoba mempertanyakan kebenaran informasi yang diperolehnya dari berbagai sudut. Seakan-akan ia lebih banyak meragukan, kemudian mempertanyakan, baru akhirnya setelah keraguan dan pertanyaan habis, barulah kebenaran terbit. Boleh dikata ini sangat merepotkan. Melelahkan dan mungkin kurang kerjaan, sekilas mungkin kita akan berpikir demikian.
Namun jika ini menyangkut maslahat keuntungan dan kerugian tentunya ini adalah metode preventif yang harus dilakukan dan dibiasakan. Dan jika ingin terhindar dari dusta, kebohongan, informasi hoax, atau omongan teman yang tak berdasar. Yang membuat kita mengalami kerugian sekaligus kesialan, skeptisisme Ushikawa, barangkali adalah pilihan yang patut dicoba.



