
Penderitaan seorang nyai menjadi potret nyata tentang bagaimana status sosial tidak selalu sejalan dengan martabat dan kesejahteraan hidup. Meski gelar nyai kerap dipandang memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan dengan strata sosial pribumi pada umumnya, kenyataannya status tersebut tidak serta merta memberikan jaminan akan kehidupan yang layak, apalagi terhormat.
Kehidupan seorang nyai justru seringkali dibayangi stigma, diskriminasi, dan ketidakadilan, baik dari lingkungan bangsawan maupun masyarakat biasa.
Dido Michielsen, yang seorang keturunan Indonesia-Belanda, tergerak setelah mendapat cerita tentang nyai dari neneknya. Lahirlah novel berjudul “Lichter dan Ik” (2019) yang diterjemahkan menjadi Lebih Putih Dariku (2025). Piranti atau Isah, menjadi pemeran kunci. Digambarkan sebagai perempuan yang ingin lepas dari perjodohan.
Isah adalah anak luar nikah seorang bupati dan selir yang tidak diakui secara resmi. Akibat kondisi itu, Isah bersama ibunya harus menjalani hidup di luar keraton Yogyakarta.
Keberadaan mereka tidak sepenuhnya diterima sebagai rakyat biasa, namun juga tidak diakui sebagai bagian dari keluarga bangsawan. Dengan demikian, posisi mereka berada dalam keadaan serba tidak jelas.
“Jaring-jaring kedudukan dan status yang tipis dan tak kasat mata ini berlaku dalam segala hal, dan semakin kamu bertambah usia, hal ini akan kelihatan lebih jelas. Lalu, sebagai orang dewasa akhirnya menyadari dirimu tersekat dalam batas-batas yang sudah digariskan itu dan tidak bisa lain selain menerimanya, kecuali kamu sendiri meronta untuk membebasakan”.(Hal.25).
Dido, pengarang novel menuturkan ketimpangan dan ketidakadilan struktur kebudayaan Jawa, yang menempatkan posisi perempuan cukup rendah. Atau biasa disebut patriarki. Ditambah pula keberadaan penjajah kolonial Belanda yang mendaku bangsanya lebih tinggi dari bangsa yang dijajah. Mereka memiliki kuasa penuh memperlakukan untuk bisa memenuhi kebutuhan yang diinginkan.
Gey, seorang tentara Belanda berhasil menjadi incaran Isah untuk mewujudkan rencana membangkang terhadap budaya, terpilih menjadi seorang calon suami, Isah, mengabdikan dirinya tanpa ada ikatan status yang jelas dalam menjalani hubungan. Isah berfikir, dirinya akan dipersunting oleh Gey. Senyatanya, hanya ingin menikmati tubuh muda yang penuh gairah.
Pilihan yang dianggap akan menuju kebebasan justru menjadi belenggu yang tidak mudah bagi seorang Isah mengenali dirinya sendiri. Ia merasa dirinya hanya sebagai pelayan. Berpenampilan layaknya orang eropa. Mengeropakan budaya asing dalam keseharian telah berhasil membuatnya risau atas perubahan-perubahan yang harus dipenuhi secara utuh.
Peran Nyai yang Dilupakan
Keberadaan seorang nyai atas keturunannya sulit diketemukan, mengingat pandangan itu memberi kerendahan atas anak campuran, meski ada unsur darah Eropa, ia dipandang sebagai manusia hasil dosa, kedudukannya tidak jauh berbeda dari seorang pribumi.
Kedudukannya menghadirkan ironi, sebab di balik kedekatan dengan kalangan elite, nyai tetap berhadapan dengan diskriminasi, stigma, dan keterasingan. Tokoh Isah memperlihatkan bagaimana nyai, sekalipun berada di dekat pusat kekuasaan, justru kerap kehilangan pengakuan serta martabat sebagai manusia.
Pramoedya Ananta Toer melalui garapan buku Bumi Manusia (2015) memperlihatkan seorang tokoh Nyai Ontosoroh yang menggambarkan sisi lain dari peran nyai yang sering dilupakan sejarah. Nyai Ontosoroh bukan hanya pendamping tuan Belanda, Herman Mellema, melainkan sosok perempuan yang berjuang keras membangun kemandirian, kecerdasan, dan harga diri di tengah keterbatasan statusnya.
Ia berhasil membalikkan stigma yang melekat pada nyai, menjelma menjadi tokoh kuat, berwibawa, dan berpengaruh dalam lingkungannya. Namun, meski demikian, pada akhirnya ia tetap tidak mampu melawan sepenuhnya ketidakadilan sistem kolonial yang merampas hak-hak pribadinya.
Kedua novel ini menampilkan nyai sebagai figur yang rentan dilupakan, baik dalam sejarah maupun dalam narasi sosial. Isah menggambarkan sisi penderitaan dan keterasingan yang terus menghantui, sementara Nyai Ontosoroh menunjukkan keteguhan dan perlawanan yang menginspirasi. Persamaannya, keduanya sama-sama tidak sepenuhnya diakui oleh struktur sosial yang timpang.
Perbedaannya, satu lebih menonjolkan wajah kepedihan, sedangkan yang lain menegaskan daya juang dan perlawanan. Dari sini terlihat bahwa peran nyai, meskipun penting dan sarat makna, kerap dikesampingkan dalam catatan sejarah, padahal mereka menyimpan narasi tentang perempuan, kekuasaan, dan perjuangan yang relevan hingga kini.
“Masih banyak nyai tidak dikenal dan nyai yang tidak menikah di Hindia Belanda. Perempuan yang di kemudian hari tidak bisa ditemukan karena secara resmi mereka tidak diakui keberadaannya dan tidak terdaftar di catatan mana pun. Ibu-ibu tanpa nama dari ribuan orang Indo Eropa dan keturunannya, yang kulitnya lebih putih darinya”.(Hal. 287).
Judul : Lebih Putih Dariku
Penulis : Dido Michielsen
Penerbit : Marjin Kiri
Ukuran : 14 x 20,3 m
Hal : i-vi + 228
Tahun Terbit : Cetakan Keempat, Juli, 2025
ISBN : 978-602-0788-32-6



