Susahkah Aku Hidup di Labuan Bajo?

Labuan Bajo
Sumber Penulis

Sudah beberapa minggu aku tinggal di Labuan Bajo, dan seperti yang seharusnya, aku akan menceritakan pengalamanku tinggal di sini. Urgensi menulis pengalaman tinggal di Labuan Bajo ternyata tidak personal, saat kucari informasi mengenai Labuan Bajo di internet, kebanyakan dan bahkan hampir semuanya berkutat pada tips liburan ala-ala.

Mulai dari destinasi andalan yang wajib dikunjungi, perkiraan biaya yang dikeluarkan, rekomendasi hotel yang nyaman untuk diinapi, hingga aktivitas apa saja yang bisa dilakukan selama beberapa hari liburan di wilayah ini.  

Bahkan saking desperatenya, kucoba untuk mengetikkan Labuan Bajo di kolom pencarian Terminal Mojok yang terkenal akan keunikan informasi yang ditulisnya, ternyata sama saja. 

Hal ini tak bisa dihindari, sih. Aku merasa begitu wajar. Beberapa tahun terakhir, Labuan Bajo memang dikenal oleh dunia karena brandingnya sebagai kawasan wisata – yang super premium, dan super prioritas. Notabene, orang-orang pergi ke Labuan Bajo memang untuk berlibur.

Tak ayal kiranya jika artikel-artikel yang kusebut di atas hadir, dengan informasi-informasi praktis yang dapat memudahkan wisatawan menjalani hari-hari libur mereka di Labuan Bajo. 

Tapi aku, pergi ke Labuan Bajo tidak untuk kepentingan liburan. Jangankan berlibur, bahkan sekadar berangan mendaratkan diri di Labuan Bajo, aku tak kuasa. Brandingnya terlalu gawat dan luxury untukku yang pendapatan bulanannya tak sampai sepersepuluh tunjangan beras DPR Indonesia.

Menjejakkan kaki ke Labuan Bajo dari tempatku tinggal waktu itu butuh lebih dari sekadar rencana. Aku butuh hasrat, butuh kala, kalau bisa kenalan, dan yang terpenting; arta. 

Dan disinilah aku. Tuhan sejatinya tahu, aku tidak akan mampu jika hanya berkunjung ke Labuan Bajo. Ia takdirkan aku untuk tinggal di dalamnya, menjadi bagian darinya, dan bahkan sekarang, mengangkat Labuan Bajo sebagai bahan cerita. Plot twist? Iya. Tapi bukan itu yang ingin kutulis. 

Ada banyak hal selain konteks wisata yang tidak terdokumentasikan dengan detail oleh artikel yang tersebar di internet, dan hal itu kuanggap sebagai gap yang perlu kuisi dan sebarkan mengenai Labuan Bajo.  

Lampu-Lampu Menyala

Aku ingat betul wanti-wanti pertama yang Bu Audrey –salah satu senior di tempatku bekerja sampaikan saat aku tiba di Labuan Bajo, “Jangan kaget kalau di Labuan Bajo gelap gulita saat malam hari, meski siang ini anda lihat tiang-tiang lampu berdiri kokoh di pinggir jalan.” 

Aku hanya mengernyitkan kening, merasa tak masalah dengan kegelapan, sebab waktu itu memang masih siang. Wanti-wanti Bu Audrey masih terdengar tak relevan di telingaku sampai pada akhirnya aku keluar ke jalan raya di malam hari. “Hanya saat pejabat datang saja lampu-lampu itu menyala, bu.”, pesan Bu Audrey terngiang lagi di telingaku, yang saat itu sedang berjuang meniti jalan dengan bantuan senter handphone menuju minimarket paling dekat dari tempat tinggalku. 

Selain lampu jalan yang tak hidup di malam hari kecuali ada kunjungan pejabat, pengetahuan baruku mengenai Labuan Bajo adalah pemandangannya. Labuan Bajo ternyata tidak melulu menyuguhkan pantai dengan hamparan pasir putih atau merah muda yang memanjakan mata.

Aku ingat betul, sekeluarnya aku dari bandara Komodo, pemandangan pertama yang kulihat adalah pebukitan gersang yang kalau kufoto dan kuunggah ke sosial mediaku, orang-orang tak akan ber-“Wah, kamu ada di Labuan Bajo yaa? Serunyaa~”, bahkan menyadari aku sedang berada di Labuan Bajo-pun tidak. Aku memicingkan mata sambil membatin, “Mana premiumnya, jir?!” 

Tapi sekali lagi, aku sadar bahwa tujuanku ke Labuan Bajo bukan untuk berlibur, bukan untuk mencari kesenangan. Gaungan pesan dari Pak Dheku yang berputar-putar terus di kepalaku berhasil menguatkanku dan membulatkan tekadku berkali-kali untuk hidup disini. “Kalau kamu pergi ke Labuan Bajo, siaplah bukan untuk senang, melainkan untuk susah.”

Karena itulah, apapun yang aku hadapi kedepan di Labuan Bajo, tak akan menyurutkan semangatku untuk hidup, apalagi sampai membuatku ingin kabur meninggalkannya. 

Lantas, susahkah aku hidup di Labuan Bajo? Kau tak akan pernah tahu sampai kau bertemu lagi denganku di artikel selanjutnya.  

Sampai jumpa! 

Layliyatul Faiqiyah
Layliyatul Faiqiyah

Bercita-cita menjadi filsuf

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *