“DIA” yang Berhak Menentukan Kebenaran

sumber gambar: wikipedia

Bayangkan sebuah kereta tua yang melaju kencang di atas rel. Remnya rusak. Di depan, rel bercabang dua. Pada jalur pertama, ada lima orang yang terikat dan tidak bisa bergerak. Jika kereta terus berjalan, mereka akan tertabrak. Tapi di jalur kedua, hanya ada satu orang. Anda berdiri di dekat tuas yang bisa mengalihkan arah kereta. Pertanyaannya sederhana:
Apakah Anda akan menarik tuas untuk mengorbankan satu orang demi menyelamatkan lima, ataukah membiarkan kereta tetap di jalurnya dan menabrak lima orang itu?

Inilah yang disebut Trolley Problem. Sebuah dilema moral yang sejak lama digunakan para filsuf untuk menguji logika, etika, dan juga rasa kemanusiaan kita. Tidak ada jawaban yang benar-benar sederhana. Tarik tuas—Anda menjadi penyebab kematian satu orang. Tidak menarik tuas—Anda membiarkan lima orang mati. Kedua pilihan sama-sama mengandung konsekuensi berat.

Nah, mari kita berhenti sejenak. Kalau kita pikir-pikir, di kehidupan nyata kita juga sering menghadapi situasi seperti ini, meski bentuknya berbeda. Kita sering dihadapkan pada pertanyaan besar: mana yang benar? mana yang salah?

Tapi masalahnya, kebenaran tidak selalu mudah ditentukan. Sama seperti di Trolley Problem, setiap pilihan punya alasan, punya resiko, punya logika. Kita bisa debat panjang, tapi pada akhirnya tetap ada keraguan.

Lalu muncul pertanyaan lanjutan: siapa sebenarnya yang paling berhak menentukan kebenaran?

Relativitas Kebenaran

Di satu sisi, manusia punya akal, punya logika, punya hati. Kita bisa menimbang, menghitung, memprediksi akibat. Tapi di sisi lain, kita juga sadar: akal kita terbatas. Kita hanya melihat sepotong kecil dari realitas yang luasnya tak terhingga. Kita seperti orang yang hanya melihat satu potongan puzzle, lalu diminta menjelaskan keseluruhan gambar.

Contohnya begini: bayangkan Anda sedang menonton film, tapi hanya datang di menit ke-45. Anda lihat seorang tokoh menodongkan pisau ke orang lain. Apakah dia jahat? Belum tentu. Mungkin di menit awal, dialah yang diserang. Atau mungkin dia sedang berusaha melindungi seseorang. Tanpa informasi lengkap, kita bisa salah menilai.

Begitu juga dengan kehidupan. Kita sering menilai sesuatu benar atau salah berdasarkan potongan kecil pengalaman, pengetahuan, atau perspektif kita. Akibatnya, kebenaran terlihat relatif. Hari ini kita percaya satu hal, besok bisa berubah ketika informasi baru datang.

Analogi Trolley Problem Sebagai Cermin

Kembali ke Trolley Problem. Orang A mungkin berkata: “Tentu saja tarik tuas! Lebih baik satu mati daripada lima.” Orang B mungkin menolak: “Tidak, kalau menarik tuas artinya kamu secara aktif membunuh.” Keduanya punya alasan yang masuk akal. Keduanya merasa benar.

Kalau begitu, mana yang benar?
Apakah kebenaran ada pada hitungan angka?
Ataukah pada niat hati?
Ataukah pada akibat yang ditimbulkan?

Dari sini kita mulai sadar bahwa manusia hanya bisa “mendekati” kebenaran, bukan menentukan sepenuhnya. Kita berdebat, kita menimbang, kita menulis teori. Tapi di balik semua itu, selalu ada celah ketidakpastian.

Siapa yang Berhak Menentukan Kebenaran?

Di titik inilah saya punya satu pandangan sederhana: Kebenaran hanya bisa ditentukan oleh entitas yang menciptakan kebenaran itu sendiri.

Analoginya begini: ketika kita bermain sebuah permainan, siapa yang paling tahu aturan aslinya? Apakah para pemain yang hanya ikut serta? Atau pembuat permainan yang menuliskan aturan dari awal?

Jelas pembuat permainanlah yang paling tahu. Para pemain bisa menduga-duga, bisa menafsirkan, bisa berdebat panjang. Tapi hanya penciptanya yang benar-benar tahu apa tujuan, batasan, dan arah permainan itu.

Kalau kehidupan ini adalah sebuah permainan besar, maka pembuat aturan itu tak lain adalah Tuhan. Dialah yang merancang semesta, menetapkan hukum-hukum yang bekerja di dalamnya, dan memahami segala sebab-akibat yang kadang tersembunyi dari pandangan manusia.

Manusia boleh memperdebatkan Trolley Problem dari dulu sampai sekarang. Tapi hanya Tuhan yang tahu jawaban sejatinya, karena Dia-lah yang melihat keseluruhan cerita—dari awal, tengah, hingga akhir.

Mengapa Ini Penting?

Mungkin kita bertanya: kalau begitu, apakah kita tidak perlu lagi berpikir? Tidak perlu lagi menimbang benar atau salah?

Bukan begitu maksudnya. Justru akal dan hati kita adalah anugerah untuk terus mencari, terus berusaha mendekati kebenaran. Tapi kita perlu rendah hati untuk mengakui bahwa pencarian itu tidak akan sempurna tanpa panduan dari Sang Pencipta.

Seperti seorang anak kecil yang belajar menulis. Ia bisa berusaha menebak huruf, bisa mencoba-coba bentuknya. Tapi guru yang membuat aturan alfabet tetaplah otoritas tertinggi. Tanpa arahan guru, tulisan si anak bisa melenceng.

Begitulah manusia. Kita bisa menimbang, mencoba, berdebat. Tapi pada akhirnya, otoritas tertinggi kebenaran adalah Tuhan. Dialah sumber kebenaran mutlak, sementara kita hanya pengelana yang sedang berusaha mendekat.

Penutup

Mari kembali ke Trolley Problem.
Mungkin kita tidak pernah benar-benar menemukan jawaban yang tuntas. Tapi di balik itu, ada pelajaran berharga: keterbatasan manusia dalam menentukan kebenaran. Kita sering ingin menjadi hakim tertinggi, padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kenyataan.

Itulah sebabnya saya berpendapat bahwa hanya Tuhan yang paling berhak menentukan kebenaran. Karena Dialah yang menciptakan realitas, menulis aturannya, dan memahami segala yang tersembunyi di balik tabir keterbatasan kita.

Kita boleh terus bertanya, terus mencari, terus menggunakan akal dan hati. Tapi mari kita lakukan dengan kesadaran bahwa pencarian itu hanyalah jalan menuju sumber kebenaran yang lebih tinggi. Dengan begitu, kita tidak tersesat dalam relativitas, tapi tetap punya arah menuju kompas sejati: Tuhan.

“Fastabiqul khairat”
“Berlomba-lomba dalam Kebaikan”

Zahruddin Fanani
Zahruddin Fanani

Beruntung masih hidup

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *