
Di tengah gemerlap kota besar yang sering disebut sebagai “tanah harapan”, selalu ada sudut-sudut sunyi yang luput dari sorotan. Novel “Sisi Tergelap Surga” (2024) karya Brian Khrisna hadir untuk membuka tirai tersebut, menghadirkan potret kehidupan masyarakat urban yang hidup di batas antara mimpi dan kenyataan pahit.
Meski begitu, masih banyak orang datang ke kota besar dengan mimpi yang sama: memperbaiki nasib. Namun realitasnya, tidak semudah itu untuk mendapatkan akses pendidikan, pekerjaan layak, dan bahkan perlindungan sosial.
Dalam novel ini, tokoh-tokohnya hidup di ruang-ruang yang nyaris jarang dilihat, tertutupi oleh gedung tinggi dan pusat perbelanjaan modern. Mereka berada di lapisan bawah dan harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk bertahan hidup. Meski sering juga dipandang rendah oleh masyarakat, namun tak dihiraukan, sebab, ada keluarga yang menunggu kiriman.
Sungguh sangat memilukan, sebab, bukan sekadar kisah kemiskinan atau kerasnya ibu kota, melainkan tentang pergulatan batin: antara harga diri dan kebutuhan, antara mimpi dan realitas, antara bertahan dan menyerah.
Memandang Kota Besar Sebagai Surga yang Keliru
Kota besar digambarkan sebagai “surga” yang menjanjikan masa depan cerah, namun di balik gemerlapnya, ada sisi gelap yang dihuni oleh orang-orang yang tak selalu punya banyak pilihan.
Brian, berhasil mengangkat cerita tentang pengorbanan, tentang orang-orang yang melakukan sesuatu bukan demi dirinya sendiri, melainkan demi keluarga, demi orang yang mereka cintai. Ada rasa lelah, hinaan, dan kesepian di tengah keramaian. Namun di balik itu semua,terdapat keteguhan untuk tetap hidup dan menjadi manusia.
Danang misalnya, memilih menjadi bencong dan menjajakan tubuhnya. Kota memaksanya menukar harga diri dengan uang. Sebab, tak punya pilihan, sedangkan ia harus terus mengirim uang ke orang tua yang semakin menua dan adik yang sedang menempuh kuliah. Namun, ia masih tetap menjalankan perintah agama: sunnah maupun wajib.
Berkebalikan dengan Asih, seorang perempuan yang dipandang sempurna dari sudut agama. Secara diam-diam justru melakukan tindakan tidak senonoh. Berhubungan diluar nikah sampai hamil. Ini terjadi akibat Asih tak mendapat kehangatan dalam keluarga, yang ada hanyalah penghakiman dan tuntutan.
Kehidupan tak dapat dilihat hanya hitam-putih. Di baliknya masih banyak misteri yang perlu diungkap. Brian berhasil mengangkat sisi kemanusiaan dan keagamaan yang aslinya jelas, namun tampak kabur saat berada di kota besar.
Pada akhirnya, Sisi Tergelap Surga bukanlah kotanya, melainkan cara kita memandang sesama. Kita menginginkan kota yang bersih, tetapi enggan membersihkan ketidakadilan; kita memuji kemajuan, tetapi lupa berbagi ruang bagi mereka yang tertinggal.
Di kota yang dijanjikan sebagai tanah harapan itu, banyak orang datang dengan keyakinan sederhana bahwa kerja keras akan berbuah, kesabaran akan dihargai, dan doa akan menemukan jalannya. Namun kota tidak pernah benar-benar berjanji untuk adil. Ia hanya membuka peluang bagi mereka yang cukup kuat, cukup beruntung, atau cukup memiliki akses.
Kepedulian yang Lahir Dari Kegelapan Kota
Kita sering menyederhanakan hidup orang lain. Ketika melihat seseorang di jalanan, kita cepat menyimpulkan tanpa lebih dulu berfikir secara matang. Sebab, pandangan masih rapuh. Untuk itu perlu dikuatkan dengan mengetahui lebih dahulu sebab akibatnya.
sSeperti hanya Tomi, yang berdiri di bawah lampu kota yang terang, tetapi hidupnya tetap gelap. Namun, memliki perangai yang lembut. Ia adalah preman pasar. Tak seorangpun yang mampu menandinginya. ia pun tidak pernah bercita-cita menjadi preman, melainkan kota dan keadaanlah yang menjadikannya.
Desa dan pasar selalu aman. Ia pun juga tidak pernah melakukan pemerasan terhadap pedagang kecil apalagi kerusuhan. Namun, pandangan buruk selalu menempel padanya. Padahal, Tony adalah termasuk orang yang ringan tangan.
Ada tokoh yang bertahan bukan demi ambisi, melainkan demi orang lain. Ia mungkin kehilangan nama baik, tetapi tidak kehilangan kepedulian. Ia tetap memilih untuk tidak menyerah pada keburukan.
Ini tampak pada kehidupan yang dijalani Juleha (ibu) dan Ujang (anak). Juleha memilih jadi pelacur untuk membiayai kehidupan dan ingin menyekolahkan Ujang sampai pendidikan tinggi. Ia sadar yang dilakukannya salah, dan sadar bahwa pendidikan dianggap bisa mengentaskan kemiskinan dan meninggikan martabat. Juleha merelakan dirinya berada dalam hinaan, namun bukan untuk anaknya.
Bagi mereka yang hanya punya tenaga dan doa, surga itu sering terasa seperti ujian yang tidak pernah selesai.
Yang membuat novel ini kuat adalah kemanusiaannya. Para tokohnya tidak sempurna. Mereka bisa lelah, bisa salah, bisa rapuh. Namun di tengah segala kekurangan itu, mereka tetap berusaha menjaga sesuatu yang paling mahal: hati yang tidak sepenuhnya pahit.
Mereka masih menaruh peduli, meski dunia sering tidak peduli pada mereka.
Pada akhirnya, Sisi Tergelap Surga bukan sekadar cerita tentang kesulitan hidup. Ia adalah cermin yang dipoles halus namun memantulkan bayangan dengan jelas. Ia mengajak kita merenung tanpa memaksa, menampar tanpa meninggikan suara.



