
Kalau boleh jujur, sebenarnya di bulan Ramadan ini saya tidak ingin maido. Niatnya pengin fokus ibadah saja, menahan diri dari komentar yang tidak perlu. Namun, entah kenapa selalu ada saja hal yang bikin gatal untuk tidak ikut dikomentari.
Belum lama ini saya melihat seorang mahasiswa membuat story Instagram lalu dengan enteng menandai akun “kampus cantik”. Di situ saya langsung mengernyit. Kok bisa-bisanya? Saya membatin, “Memang akun begituan masih ada?” Maksud saya, ini sudah 2025, memangnya masih ada mahasiswa yang bangga masuk feed akun yang isinya kumpulan cewek-cewek yang hanya akan dinilai dari segi visualnya saja?
Setelah coba saya cari, ternyata akun semacam itu masih hidup dan tumbuh subur, bahkan di kampus dengan embel-embel Islam. Saya heran, sungguh. Di tengah kampus yang saban hari sibuk mengampanyekan literasi digital, etika bermedia, dan kemuliaan akhlak, akun-akun berlabel “kampus cantik” justru tetap tumbuh subur seperti rumput liar habis hujan. Lebih herannya lagi, ini bukan sekadar fenomena di kampus umum. Sebab, di perguruan tinggi Islam pun yang mestinya paling cerewet soal adab pandang dan martabat manusia, akun semacam ini masih saja punya pasar.
Duh, ukhtea, meh golek opo toh yo? Apa nggak takut fotonya disalahgunakan oleh orang-orang yang punya fetish tertentu?
Padahal, kalau menyoal kampus Islam, salah satu keunggulannya selain belajar keilmuan adalah mereka juga dididik untuk berakhlak dan menjaga pandangan. Namun, hal-hal yang dipelajari itu seakan lenyap seketika begitu muncul akun-akun Instagram dengan embel-embel cantik dan ganteng itu.
Mahasiswa Kampus Islam Kok Rela Dinilai Hanya Dari Wajah?
Pertama, perlu saya tegaskan dulu, sejak kapan kecantikan jadi indikator unggul seorang muslim-muslimah? Jadi, masuk akun kampus cantik hanyalah kebanggaan semu, yang tidak membuat kamu menjadi naik kelas sama sekali.
Selain itu, kalian ini mahasiswa lho. Tujuannya adalah belajar. Kok mau saja berada di suatu kondisi di mana semua keilmuanmu dianggap tidak ada, dan hanya dinilai dari faktor wajah saja? Menurut keyakinan saya, kalau RA Kartini masih hidup, blio pasti menangis melihat perjuangannya agar wanita dianggap setara dan dinilai dengan seutuhnya menjadi nampak sia-sia.
Pun sebagaimana yang kita sama-sama tahu, dalam Islam juga nggak pernah menilai seseorang dari penampilan. Yang ditekankan itu akhlaq, bukan jumlah viewer atau komentar. Apalagi berbangga diri ketika mendapat komentar “Cantik luar dalam, bidadari surga, ustazah idaman”. Duh, kok iso seh merasa seolah punya prestasi hanya karena masuk akun begituan?
Tanggung Jawab Kampus Islam Nggak Boleh Hanya di Kelas
Bagi saya, fenomena ini bukan cuma aneh, tapi juga kontradiktif dengan visi kampus Islam itu sendiri. Kampus yang setiap hari membicarakan adab, akhlak karimah, dan etika digital, tapi diam saja melihat warganya dieksploitasi lewat konten berbau seksisme.
Lucunya, beberapa mahasiswa malah menganggap akun semacam itu sebagai hiburan. “Cuma buat lucu-lucuan, kok,” kata mereka. Padahal, kalau dilakukan pembiaran, perilaku seksis bisa terasa “normal” dan dianggap biasa saja.
Saya kira, pihak kampus juga perlu turun tangan. Jangan cuma sibuk ngatur dress code atau membuat kegiatan formalitas saja, dan menutup mata terhadap praktik-praktik yang justru melemahkan nilai Islam di ruang digital.
Kalau kampus Islam bisa tegas melarang pacaran di lingkungan kampus, harusnya juga bisa tegas melarang objectification mahasiswa atas nama “konten cantik”. Apalagi kalau akun-akun itu memakai nama resmi kampus, bukankah itu sudah mencoreng wajah lembaga?
Mahasiswa Kampus Islam Nggak Boleh Mengumbar Aurat, Tapi Kalau Foto Cantik Boleh?
Nah, ini dia paradoks paling absurd di dunia kampus Islam. Di satu sisi, aturan soal aurat ditegakkan ketat oleh kampus. Panitia acara kampus sampai repot ngingetin mahasiswi supaya rok jangan di atas mata kaki, jilbab jangan transparan, bahkan dandan pun harus syar’i friendly.
Tapi di sisi lain, akun Kampus Islam Cantik, bisa bebas diunggah, “dinikmati” dan dikomentari oleh ribuan orang. Jadi, sebenarnya larangan aurat ini batasannya sampai mana? Apa hanya di wilayah dunia nyata, atau juga di dunia maya? Sebab, kalau tidak salah, dalam Islam, bukankah menjaga pandangan juga termasuk bagian dari ajaran?
Pada akhirnya, fenomena “kampus cantik” ini bukan cuma soal wajah-wajah manis yang terpajang di layar, tapi juga cermin dari bagaimana kita masih gagap menghadapi budaya digital. Kalau Perguruan Tinggi Islam—mahasiswa maupun institusi Islam—benar-benar mau jadi teladan, mestinya bukan sekadar menutup aurat, tapi juga menutup peluang objektifikasi.
Sebab, akan nampak sia-sia ketika jilbab rapi dan kata “akhwat” disematkan di bio kalau semangat pamer paras justru lebih besar daripada semangat menjaga martabat.



