Karena Mencintai-Nya Adalah Mencintainya

Sumber Penulis

Pada buku terbarunya yang berjudul “Wasilah Sejoli”, Abdul Wachid B.S. menyajikan “cinta” dalam puisi-puisinya. Cinta yang seperti apakah?

Buku ini terdiri dari 50 puisi yang dibagi menjadi 4 bagian. Banyak hal diangkat oleh penyair. Tentang kehidupan dan romantisme, tentang ujian dan pertanyaan-pertanyaan, yang kesemuanya memiliki nafas yang sama yakni cinta. Cinta kepadanya, cinta kepada-Nya. Cinta yang gila, mabuk, dan hakiki.

Pada puisi “Di Ujung Nun” (hlm. 55). Penyair meramu perbandingan atau semacam pembacaan dekat atas huruf nun (hijaiyah) yang berbentuk seperti perahu dengan satu titik di atasnya. Dua sisi nun saling berjauhan dan tak menemukan titik temu antara keduanya. Jika satu sisi naik maka satu sisi turun dan tak pernah ada pertemuan di antara dua kakinya. Tapi di sana, di atas perahu nun, juga ada satu titik takdir. Penyair menyebutnya sebagai matahari: di mana cinta tak harus berakhir.

Penyair menyampaikan filosofi yang ditemukannya pada penampakan yang sederhana dari sebuah huruf. Ketika dua kutup tak bisa bertemu, tapi mereka memiliki satu titik yang sebenarnya menghubungkan dua kutub tersebut. Seolah terdapat hubungan segi tiga di antara tiga kutub itu, dua kaki dan satu titik di atas.

Cinta yang Bermuara ke Atas

Melihat ini, barangkali penyair sedang mengajak kita untuk merefleksikan hablumminannas dan hablumminallah. Dua manusia boleh saja tak saling bertemu, tak pernah bisa bersatu. Oleh takdir dan semacamnya. Oleh persoalan pelik dan semacamnya. Tetapi, sesungguhnya mereka saling terhubung oleh Tuhan yang menaungi mereka. Melindungi dan menyayangi mereka. Seakan menegaskan bahwa betapapun berbeda jalan yang kita pilih, semuanya tetap bermuara kepada yang di Atas. Mencintai yang di Atas adalah sama dengan mencintai sesama. Begitu juga sebaliknya.

Motif cinta kepada sang pencipta juga muncul dalam puisi “Wasilah Sejoli” yang juga menjadi judul buku puisi ini. Dalam puisi tersebut terlihat sebuah perasaan dari seorang anak manusia yang mendamba. Perasaan cinta itu kemudian diwujudkan dengan sujud, dengan mendekatkan diri kepada-Nya. Ketika “tidak bisa tidur/ cahya wajahmu/ memotretku/ berjaga/” yang dilakukan aku lirik adalah dengan “berwudlu” dan “bersujud tahajud”. Ada harapan di sana. Bukan harapan sederhana dan fana sefana dunia. Melainkan harapan yang hakiki dan damai: “kau aku/ swarga//”.

Dengan puisi-puisinya, Abdul Wachid B.S. membawa kita pada cinta yang terhubung kepada Sang Maha Cinta. Dengan kejujuran dan kesederhanaan. Ketabahan meniti jalan. Karena mencintai-Nya adalah juga mencintainya, dan mencintainya haruslah juga dengan mencintai-Nya.

Judul: Wasilah Sejoli

Penulis: Abdul Wachid B.S.

Penerbit: Basabasi, 2022

Tebal: 104 hlm.

Dimensi: 12 x 19 cm.

ISBN : 978-623-305-299-3

Ahmad Farid Yahya
Ahmad Farid Yahya

Penulis asal Lamongan. Tulisannya dimuat di berbagai media: Majalah Gelanggang, Radar Bojonegoro, sastra-indonesia.com, Jawa Pos, lensasastra.id, sastra.co.id, nyangkem.id, serta cedak.id.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *