Brebes, Jaka Poleng dan Industrialisasi

Brebes
Sumber djkn.kemenkeu.go.id

Kota adalah anak kandung desa. Dibesarkan dengan permenungan, waktu dan laku serta harapan. Kini kota kian tumbuh dan berkembang dengan cara dan gayanya sendiri. Tak terkecuali Brebes.

Geografisnya mencakup dari dataran rendah ke tinggi, utara sampai selatan, pesisir hingga pegunungan. Di dalamnya terdapat beraneka profesi. Brebes adalah sekumpulan desa aneka ragam.

Desa-desa di Brebes sebenarnya dikelilingi air, tetapi tetap membutuhkan air untuk kehidupan. Air menjadi penopang kegiatan seperti melaut, bertani, dan beternak. Kalau Brebes tidak punya air, itu seperti punya smartphone tanpa kuota, wifi, atau sinyal—semua aktivitas ekonomi dan sosial jadi terhenti.

Komoditas andalan dan tumpuan utama di sektor perdagangannya yaitu ikan, bawang merah dan telur asin. Sebagaimana, konon, namanya tersusun dan terbentuk. Dari “Bara” dengan maksud hamparan tanah luas dan “basah” dengan maksud mengandung banyak air. Atau Jika dikaitkan menggunakan Bahasa Jawa, Brebes bermula dari kata “mberebes”, selalu keluar airnya.

Brebes adalah Jaka poleng, konon, awalnya bernama Ki Reja adalah seorang perawat kuda, penemu sisik ular, berubah jadi tak kasat mata, sewaktu berburu rumput di hutan belantara sebelah barat kota. Akhirnya Ia diberi tempat di sekitaran pendopo, disediakan sumur sebagai tempat mandi, ia berganti nama dan dipercaya menjaga Brebes hingga kini.

Lain Jaka Poleng, lain pula “Lembudana-Lembudini”. Ia adalah penjaga sungai pemali, bertubuh ular dan berkepala kerbau. Lembudana-Lembudini kabar anginya berdiam di sungai sekitaran Desa Dumeling. Ia tidak diperbolehkan mengganggu warga Dumeling. Perjanjian terjadi sebab kekalahannya dalam pertarungan dengan leluhur Dumeling.

Brebes dan Banjir

Musim hujan telah tiba. Brebes kembali menerima dirinya dengan debit yang tak biasa. Banjir datang ke beberapa desa Kecamatan Ketanggungan. Banjir menarik banyak perhatian hingga Kementerian Pekerjaan Umum dan Gubernur Jawa Tengah.

Selain karena tanggul yang jebol, banjir diakibatkan rusaknya daerah atas akibat pembalakan hutan dan penambangan bebatuan, galian C.

Katanya, Banjir tidak datang serta merta. Ia tentu akibat dari aktivitas manusia, salah kelola dan kerakusan manusia, mengekploitasi alam secara binal dan liar.

Sebagai kota yang muasalnya adalah air, Brebes harusnya lebih siap dibandingkan kota-kota lainya dalam pengelolaan air dan penataan ruang-ruang untuk air dan mengalirnya.

Brebes dan Pertanian

Bawang merah mendarah daging dalam tubuh Brebes. Tanpa bawang merah, Brebes adalah Apa. Pertanian di brebes masih jadi faktor utama penggerak ekonomi. Membiarkan begitu saja pertanian bergerak tanpa arah adalah langkah melupa muasal.

Pertanian brebes dengan komoditas andalan bawang merah, banyak menemui kendala, dari harga pupuk yang mahal, kelebihan air ketika musim hujan hingga gagal panen, kekurangan air ketika musim kemarau datang, harga bawang yang murah ketika masa panen tiba.

Hal tersebut dikeluhkan banyak petani Brebes. Sebagai orang yang dibesarkan di keluarga dan lingkungan petani. Saya merasakan betul itu.

Selain itu, pertanian brebes agaknya sedang menuju senjakala. Di lingkungan saya, banyak anak muda enggan menjadi petani. Kerja di industri, menjadi buruh pabrik dan merantau ke Jakarta adalah yang banyak diminati.

Belum lagi soal kesadaran menjaga tanah dan air di bidang pertanian dan perikanan. Penggunaan pupuk anorganik, insektisida, fungisida dan lainya yang sedemikian over. Pembiaran tersebut bisa mengakibatkan masalah lingkungan yang pelik di hari depan yang bisa mengancam sungai hingga merusak daerah pesisir. Peristiwa eutrofikasi tengah menunjukan gejala-gelajanya ketika musim kemarau datang.

Eutrofikasi terjadi sebab overnya amoniak, fosfat dan nutrien lain dalam air dari proses pertanian dan pembudidayaan ikan yang egois serta limbah domestik yang tak terkontrol. Akibatnya perairan tumbuh alga dan fitoplankton, senyawa beracun didasar perairan terangkat, oksigen didalamnya menjadi berkurang dan habis, fotosintetis menjadi tidak berlangsung. Ikan-ikan akan mati.

Seluruh dunia sedang mengkhawatirkan eutrofikasi, Jakarta mengalaminya. Ikan-ikan di teluk Jakarta mengalami kematian masal. Selain Jakarta, wilayah Indonesia lain telah mengalaminya. Lihat saja di media online dan cetak.

Brebes Hari ini dan Industrialisasi

Industrialisasi sepertinya obat mujarab. Ia bisa menyembuhkan kemiskinan, IPM yang rendah dan ketertinggalan. Brebes sedang berusaha meminumnya. Kawasan industri Brebes tengah dibangun di sepanjang pantura dari Losari hingga Bulakamba.

Insfastruktur pendukung tak ketinggalan seperti rencana pembangunan waduk di bantarkawung yang mendapatkan protes dari warga dan jalan lingkar utara Brebes – Tegal yang tengah dikerjakan kembali dari mangkrak yang lama.

Industrialisasi akan mendatangkan aneka masalah lingkungan hidup dan sosial. Brebes sudah memiliki banyak pekerjaan rumah dan belum digarap secara maksimal. Kini bertambah lagi. Tidak hanya masalah air saja, industrialisasi akan membawa masalah udara dan tanah. Masalah ruang dan penataannya.

Cerita Rakyat, Pangan dan Ekologi

Cerita rakyat mengambar kondisi geografis dan menyirat pesan menjaga ketahanan pangan dan ekologi di dalamnya. Ular dalam sistem rantai makanan menempati posisi ketiga. Ia memangsa tikus dan hama padi lainya milik para petani.

Ia penjaga penghidupan petani, profesi sebagian penduduk Brebes, penjaga keberlangsungan rantai makanan. Selain itu, ular adalah hewan parameter untuk menilai baik buruknya suatu ekosistem.

Hilangnya ular berarti terputusnya sistem rantai makanan dan membiarkan hama tanaman merebak tak terkendali. Menandakan rusaknya suatu ekosistem. Pun dengan Kerbau. Ia digunakan untuk membajak sawah dan sebagai sumber pupuk organik, memastikan pangan aman dan tumbuh dengan baik. Kerbau juga simbol suatu kemakmuran.

Aneka kisah dan mitos muasal Brebes barangkali tidak hadir dari ruang kosong begitu saja. Ia sebentuk pandangan mengatasi hari depan. Sebagai orang Brebes yang konon awal mulanya adalah hamparan basah atau selalu keluar airnya.

Tentu mengenal air berarti mengenal Brebes. Pengelolaan ruang dan air lalu mengatasi banjir adalah pengetahuan dan kebijaksanaan yang khas pastinya.

Tanpa suatu sistem pertanian yang berkelanjutan, yang membiarkan sistem rantai makanan berjalan secara alami, Brebes akan mengalami kerusakan tanah, air dan udara. Belum ada tanda-tanda pertanian hendak bergeser menjadi pertanian organik, pertanian yang keberlanjutan. Namun brebes hendak menuju ke industrialisasi.

Kisah Jaka poleng, Lembudana-Lembudini dan kisah-kisah lainya dapat kita nikmati sisi hiburanya namun tidak dengan sisi daya tonjok bagi kesadaran ekologis Kita. Ada yang belum tepat dalam keputusan kita sehari-hari, tentu. Atau lebih jauh lagi, Apakah kita gagal memahami brebes dan jauh dari mbrebesi.

Hamdan Wijaya
Hamdan Wijaya

Seorang Ayah Penikmat Kopi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *