Desa Kini Susah Tidur

Desa Susah Tidur
Sumber mistar.id

“Apa yang ada ini mempunyai pasangan – pasangan. Kalau sesuatu melesat dari pasangannya, manusialah yang salah mengerjakannya. Satu senti meleset mengakibatkan melesetnya seratus senti yang lain. Sebagaimana perang ini terjadi, umpamanya, Bukankah begitu, Anakku? Tukas Ayahnya. Ada setetes yang tidak beres di kalangan atas, yang mengakibatkan puluhan, ratusan, ribuan jiwa manusia hancur. Dan yang setetes itu harus diselediki betul-betul. Mungkin perkara sepuluh persen komisi atau membela celana kolor yang cengeng. Atau tentang kebenaran bibir cewek.” (GODLOB, Danarto)

Kecemasan timbul dari waktu yang tiada disangka. Berbahaya, bisa menimbulkan penyakit dan perang. Sebagaimana penggalan cerpen di atas.

Dan susah tidur konon disebabkan oleh rasa cemas. Rasa yang banyak diidap oleh masyarakat urban modern. Sebuah penelitian membenarkan 28 juta orang Indonesia mengalami susah tidur dan kebanyakan dari mereka adalah masyarakat urban.

Bagaimana tidak ? hidup dengan beban kerja berlebih, selalu dikejar-kejar deadline, lingkungan kerja dan tempat tinggal yang berisik, serta lalu lintas yang macet, ditambah masa depan yang tidak pasti adalah keseharian yang dialami oleh masyarakat urban.

Masyarakat urban dan susah tidur telah mendarah daging. Saling terkait. Tidak bisa kita pertanyakan lagi. Mempertanyakan lagi itu berarti mempertanyakan sesuatu yang dasar,yaitu: sebuah sistem, sebuah ideologi, sebuah pandangan hidup yang sudah dipilih.

Lain lagi dengan masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidup pada pertanian dengan kolektivitas yang kuat. Aktivitas bertani tidak mengenal deadline, lingkungan kerja dan tempat tinggal yang berisik apalagi lalu lintas yang macet.

Ketika sebuah masyarakat pedesaan tiba-tiba mengalami kesusahan tidur secara masal. Kita patut curiga dan mempertanyakan itu. Kenapa susah tidur menyerang mereka. Kita boleh terheran-heran dan mempersoalkannya walau pagebluk belum berakhir, dari hari ke hari jumlahnya semakin naik.

Barangkali kita lupa. Masyarakat pedesaan juga bagian dari masyarakat seluruhnya. Yang mau tidak mau, suka tidak suka sedikit demi sedikit mendapatkan pengaruh dari masyarakat luar dan mulai bergantung padanya.

Waktu Masyarakat Desa Susah Tidur

Saya tinggal di pedesaan, dibesarkan di keluarga petani. Akhir-akhir ini telah menyaksikan betul secara langsung bagaimana cemas menyerang lalu berbuah susah tidur. Peristiwa itu, kemarin, sehabis sholat traweh, paman saya mengajak saya untuk menemaninya menjaga tanaman yang belum panen di sawah.

Saya heran, kenapa tanaman kok dijaga wong belum panen. Tidak seperti dulu-dulu. Langsung saja saya bertanya ke paman. “Sekarang kondisinya sudah berbeda, orang tidak lagi malu-malu mencuri dan kalau mencuri tidak tanggung-tanggung.

Waktu panen kemarin saja, ada sawah yang bawang merahnya dicuri, pemiliknya yang berjaga diikat dan dibirkan begitu saja. Ada juga, sawah yang besoknya mau dipanen, pemilik tidak berjaga, besoknya tanaman raib setengahnya.” Jawab paman saya. “Kamu tidak percaya toh, ayok ikut, di sawah pasti ramai orang yang sedang menjaga sawahnya.” Tanya paman saya sekaligus kembali mengajak.

Sepanjang perjalanan saya masih bertanya-tanya dan belum cukup untuk mempercayainya, apakah perubahan telah terjadi begitu sangat cepat. Saya sejak kecil sudah bermain di sawah dan memasuki kelas empat sekolah dasar mulai membantu orang tua mengolah tanah persawahan dari menanam bawang merah, kacang tanah, padi, cabe sampai sayur mayur lainya hingga lulus sekolah menengah atas.

Berkehidupan di sawah saya terputus dikarenakan mesti melanjutkan sekolah ke luar kota hingga sekarang, yang berarti sudah genap sembilan tahun saya tidak bersawah atau bertani lagi. Sudah ketinggalan perihal pertanian di desa saya dan hal-hal lainya.

Tibalah kami di area masuk persawahan, area tanpa penerangan. Sawah ini berada di desa tetangga. Saya dan paman menggunkan motor ke sawah. Lampu motor menuntun kami. Saya langsung disambut oleh pemandangan di setiap sawah yang masih bertumbuh tanaman telah berjaga-jaga pemiliknya yang sudah berselimut kain sarung dengan beralas sekedarnya.

Paman tidak bosan menyapa disetiap menjumpai kawan taninya. Sembari memberi tahu, “saya jaga di sana”. Disambut dengan antusias kawannya, “Iya, Sipp”.

Petani di Tengah Tekanan Modernitas

Dari malam ke malam saya selalu ikut berjaga dan akan ikut hingga selesai waktu panen. Beberapa malam ikut berjaga bersama paman, saya terlibat dalam suatu obrolan tengah malam di sawah bersama kawan-kawan petani yang saling kunjung mengunjungi.

Obrolan dari perihal perkembangan kawasan industri di Brebes yang tepat di sebelah barat persawahan, proyek jalan lingkar utara brebes yang membelah area persawahan, pengairan dan irigasi, harga bawang merah, padi, sayur mayur hingga soal remeh temeh.

Obrolan meringankan dingin dari semilir angin persawahan, kadang juga malah semakin menambah dingin ketika tiba di bahasan masa depan lahan persawahan mereka, awal tanam yang mengeluarkan banyak modal, harga obat dan pupuk yang terus menerus mahal, tanaman yang terkena serangan hama dan banjir dipertengahan tanam dan harga jual disaat waktu panen tiba yang cukup murah.

Dari hal seperti itulah barangkali kecemasan mulai menyusup ke petani. Mereka bertubi-tubi diserang suatu ketidakpastiaan dari cuaca sampai harga. Giliran cuaca memihak dan berbuah hasil panen. Ketidakpastian harga jual merundung mereka. Ketidakpastian selanjutnya setelah ketidakpastian sebelumnya selesai di lewati. Yaitu harga yang bersahabat, ia memunculkan kecemasan yang lain berupa akan maraknya pencurian.

Harga bersahabat bagi petani adalah harga yang dapat mengembalikan modal dan keringat yang sudah berbulan-bulan telah lama mengering. Kalau dulu petani akan menjaga hasil panennya ketika sudah memanennya. Hari ini tidak, tanaman yang akan dipanen beberapa hari lagi sudah perlu dijaga.

Menjaga Tanaman, Menjaga Masa Depan

Peristiwa menjaga tanaman di sawah, saya baru mengetahui, melihat, dan mengalaminya tahun ini secara langsung. Dari peristiwa tersebut boleh kiranya secara resmi saya sematkan kepada mereka, kaum tani sebagai kaum susah tidur.

Penyematan sebagai usaha untuk selalu mengingat dan membuka mata lebar-lebar bahwa ketidakpastian yang menimbulkan kecemasan dan susah tidur sudah sampai ke desa-desa, ke para petani yang sudah lama mengabdikan diri pada ketersediaan pangan di rumah-rumah kita. Apakah susah tidur yang kini dialami petani bakal mempercepat: kepunahan petani, peralihan lahan dari persawahan untuk industri dan pemukiman, desa menjadi kota.

Dan sepertinya saya tidak perlu ikut menjadi cemas. Saya hanya perlu banyak belajar menempatkan diri, mengetahui posisi, dan menggunkan waktu yang sesuai pada tempatnya. Sebab dengan begitu saya akan terhindar dari kehilangan energi pagi hari yang bisa bikin jadi tidak ngopi pagi sambil terus menerus melatih akal supaya tetap jernih, dan mempraksiskan sedikit demi sedikit apa yang telah didapat selama ini.

Terlebih lagi biar kecemasan berhenti, tidak menyebar kemana-mana. Kalangan atas lantas tahu diri bahwa kalangan bawah bisa berdaya sendiri, mandiri.

NB : Pernah terbit di Buletin Mlaku! Edisi XIV, Mei 2020

Hamdan Wijaya
Hamdan Wijaya

Seorang Ayah Penikmat Kopi

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *