
Pada pameran ICANW (Indonesia Contemporary Art New Wave) dengan tajuk Madya: the unfixed center yang diselenggarakan pada periode 17 Oktober 2025 – 17 Januari 2026 bertemapt di Artotel Surabaya. Seniman asal Lamongan, Muhammad Reovany, menghadirkan karya yang lahir dari ingatan kolektif masyarakat pesisir Lamongan atas peristiwa karamnya kapal Van der Wijck pada 20 Oktober 1936. Karya yang dipamerkan berjudul Antara (watercolor on paper, 55 x 75 cm, 2 panel, 2025).
Karya tersebut meski terbagi menjadi dua panel, dan berada di wilayah pamer yang urban, agaknya bukan sekadar representasi belaka. Kedua panel lukisan hadir sebagai ruang makna yang saling berkelindan: antara laut dan penyelamatan, antara memori dan identitas, antara harapan dan keputusasaan.
Dari sana kita dapat membedakan dua ruang makna yang bersinggungan: pertama, ruang simbolik dan yang kedua, ruang semiotik. Dan karya tersebut bergerak di antara keduanya, bahkan jika ditelisik lebih jauh keduanya mampu meretas batas.
Ruang Makna dan Estetika Pesisir
Dalam karya tersebut, pada panel sebelah kiri terlihat jelas kembang-kembang seroja yang tak semua digenggam, pada detail itu, secara tidak langsung menjadi simbol ambivalen dari doa dan harapan.
Selain itu juga digambarkan riak-ombak biru dan beberapa gumpalan awan kelam yang dapat dibaca sebagai bagian dari tanda bahaya. Lanskap itu, bagi saya, bukan ditunjukkan sebagai latar estetis, melainkan sebagai bagian dari trauma atas laut.
Ruang simbolik yang berusaha ditunjukkan si seniman adalah narasi para nelayan Brondong yang terlibat dalam upaya penyelamatan kapal Van der Wijck, dengan menghadirkan lima nelayan sekaligus lima ‘malaikat penyelamat’ yang nangkring dan turut serta dalam perjalanan.
Sementara di tataran ruang semiotiknya adalah dorongan atas aksi itu: rasa takut akan kematian sekaligus rasa empati yang muncul dari tangan-yang-mengambang dan menunggu diselamatkan.
Dorongan tersebut dapat dilihat dari adanya segitiga pada bagian atas kepala para nelayan, yang bukan hanya punya makna konvensional sebagai caping, tetapi juga punya penanda yang bersifat transenden.
Selanjutnya, keadaan yang berada di ambang batas di antara subjek dan objek pada karya tersebut dapat dilihat sebagai aspek abjeksi, kondisi di mana batas-struktur ruang simbolik runtuh dan ruang semiotik muncul sebagai dorongan yang disruptif.
Dalam karya tersebut, orang-orang yang terombang-ambing di samudra adalah subtansi abjeksi: mereka tidak lagi punya posisi sebagai penjajah yang diselamatkan atau nelayan penyelamat, melainkan berada di wilayah liminal antara kehidupan dan kematian.
Lokalitas Memori Kolektif dan Sejarah
Perahu nelayan dan ragam hias biota laut pada struktur frame menjadi elemen yang bukan hanya melanggengkan lokalitas Lamongan, namun juga menegaskan kerentanan masayarakat, kombinasi simbolik-semiotik menciptakan estetika kegelisahan yang puitik.
Kita diundang melihat lukisan tersebut bukan hanya sebagai aksi heroik, tetapi kondisi manusia ketika struktur sosial-kolonial seketika runtuh dalam situasi genting karamnya kapal.
Di tahap ini, mengingat medium seni hari ini yang kontekstual dan historis, lukisan tersebut secara visual membalik arah pandang kita: bukan pengunjung pameran yang melihat laut sebagai latar, tetapi laut sebagai saksi dan posisi moral. Karya tersebut menempatkan dirinya di ruang antara dokumentasi dan metafora.
Karya tersebut juga mengolah potensi lokalitas dalam kerja seni rupa, yang mau tidak mau mengajak kita untuk membayangkan kembali bagaimana hubungan kita dengan peristiwa sejarah yang kian lama kian berjarak dari keseharian.
Sejalan dengan pengantar kuratorial, pameran ICANW yang berusaha hadir sebagai platform yang bertujuan untuk memetakan dan merayakan gelombang baru dalam lanskap seni kontemporer Indonesia.
Melalui kerangka Madya: the unfixed center, pameran ini seakan mengajak kita untuk memikirkan kembali makna ‘pusat’ bukan sebagai titik yang stabil, melainkan sebagai ‘medan pertemuan’, tempat berbagai arah bertemu dan bersinggungan satu sama lain.
Dan melalui karya yang berjudul Antara itu tak hanya mempresentasikan gagasan, kemahirannya dalam menyusun komposisi lengkung dan warna, mengatur tanda dan penanda fakta kesejarahan membuat siapa-siapa yang memandang lukisan itu seolah dikuasai waktu untuk merenung.
Dengan demikian, karya tersebut muncul sebagai proses yang belum selesai dan dapat terus dinegosiasikan untuk membuka diri. Sebab bagaimana pun, fakta bahwa masyarakat pribumilah yang bertindak sebagai penyelamat tak dapat ditolak.
Karya Reovany tidak hanya merekam sejarah, melainkan juga mengandung ruang makna di mana identitas lokal dan narasi kemanusiaan muncul dalam produksi budaya.



