
Dangdut merupakan sebuah genre musik yang mudah menyeruak masuk ke dalam hajat hidup orang-orang kelas bawah. Alunan musiknya yang mendayu dan bercengkok sering kali membangkitkan semangat untuk berlenggak-lenggok.
Para pencinta dangdut seolah mengalami ekstase ketika mendengarkan alunan musik dangdut. Tubuh tiba-tiba terkena setrum dan bergerak mengalun. Walaupun di tempat umum, kerumunan, atau di depan kamera; dengan atau tanpa alkohol.
Pementasan Orkes Melayu (OM) atau orkes dangdut koplo di kampung-kampung sering kali diiringi pula oleh sekelompok atau beberapa kelompok pemuda atau pemuda setengah tua yang menenggak minuman keras.
Hal itu dapat dipahami sebagai sebuah dorongan untuk mencapai puncak ekstase. Dampaknya adalah kehilangan sebagian kesadaran, tubuh dan pikiran terasa lebih ringan, dan tentu meningkatnya kepercayaan diri.
Alkohol, Keberanian, dan Ilusi Percaya Diri di Tengah Kerumunan
Bagian kepercayaan diri ini merupakan hal yang sangat penting dalam konteks ini. Ekstase perlu mengambil komponen kepercayaan diri yang tinggi sehingga ia bisa bergerak leluasa walau di tengah kepungan massa. Bayangkan sebuah skenario karnaval misalnya. Banyak orang yang tanpa rasa malu bergoyang di belakang sound sistem yang mengalun keras.
Namun, misalkan hal itu dilakukan di hari biasa, tanpa sound sistem, apakah mereka berani bergoyang di tengah jalan? Jawabanmya tentu malu. Selain karena komponen sound yang kurang, juga tak ada perasaan ekstase dalam puncak momen tertentu.
Ekstase dalam puncak momen tertentu juga mengalir di depan kamera. Seorang yang begitu pendiam dan pemalu bisa saja menjadi konten kreator yang begitu percaya diri di depan kamera. Tegangan adrenalin yang memuncak itu ia rasakan.
Sedangkan dalam pagelaran orkes musik sebagian merasakan ekstase semacam dalam karnaval itu tadi. Mereka menikmati alunan musik sambil bergoyang dengan begitu lentur meskipun bisa jadi di kehidupan sehari-hari ia pribadi yang begitu kaku. Musik memang sering kali mengejutkan kita.
Dari Koplo ke Ambyar Merubah Goyangan Jadi Perasaan
Namun kebudayaan yang melekat pada orkes dangdut koplo itu apakah juga turut dalam orkes dangdut ambyar? Sebagian ternyata luntur. Fenomena semacam kerusuhan lebih jarang terjadi, dan ini nampaknya pengaruh dari beat musik yang lebih pelan. Pagelaran musik dangdut ambyar bahkan lebih mirip dengan konser daripada orkes.
Istilah “Dangdut Ambyar” mulai muncul ketika lagu-lagu Didi Kempot tiba-tiba naik lagi sekitar tahun 2019 lalu. Disusul dengan naiknya lagu “Kartonyono Medot Janji” dari Denny Caknan.
Didi Kempot, seorang musisi kawakan yang terkenal lewat jalur distribusi indie (VCD yang kebanyakan juga dibajak), berpuluh tahun setelah meniti karir, menemukan puncak kejayaannya beberapa saat sebelum ia meninggal. Istilah “ambyar” sendiri merupakan metafora yang merujuk pada suasana hati yang hancur berantakan.
Tentu lagu-lagu dari Didi Kempot seperti “Sewu Kuto” menempati posisi ini. Bayangkan, seseorang melewati 1000 kota dan masih tak menemukan ke mana kekasihnya pergi. Perjuangan absurd ini tidak kurang menderita dari usaha Sysyphus menaikkan batu ke puncak gunung.
Hal yang menarik dari gelombang kedua kepopuleran Didi Kempot adalah susulan dari musisi muda Denny Caknan yang meluncurkan lagu “Kartonyono Medot Janji”. Lagu ini perlu dicatat sebagai titik penanda gebrakan baru dunia musik dan munculnya genre atau pakem baru dangdut.
Dari Arus Lokal yang Mendadak Universal
Konsep lagu ini mencoba untuk mengaitkan yang lokal dengan yang universal. Antara Tugu Kartonyono di Ngawi, dengan perasaan patah hati (baru-baru ini diungkap di kanal YouTube Nopek Novian bahwa lagu tersebut ternyata juga memiliki unsur satir kritik sosial).
Namun terlepas dari itu, lagu ini berhasil mendobrak pasar. Keberhasilan lagu itu diikuti oleh keberhasilan lagu-lagu Denny Caknan yang lain, yang mengusung ide dan gagasan yang sama: berbahasa Jawa, ala dangdut campursarian.
Nampaknya Denny Caknan berusaha mengusung semangat Didi Kempot. Apakah berhasil atau tidak itu bukan hal yang penting. Hal lain yang lebih penting adalah, bahwa ia kemudian memelopori sebuah gerakan musik baru yang bertajuk “dangdut ambyar”.
Gerakan ini kemudian menimbulkan banyak pertanyaan; mengapa dangdut ambyar bisa begitu populer bahkan dinikmati oleh suku selain Jawa? Apakah karna jalur distribusinya ?
Kesemua pertanyaan itu melantun menjadi bahan diskusi yang menarik, memunculkan tesis, antitesis, dan sintesis yang saling tolak-menolak dan melengkapi. Dangdut ambyar bisa sepopuler itu memang karena jalur distribusi yang digunakan adalah media digital: YouTube, Spotify, dan lainnya. Jika kita ingin mendengarkan atau menonton videoklipnya kita bisa dengan mudah membuka YouTube.
FYP dan Krisis Identitas Dangdut Ambyar
Dangdut ambyar bisa sepopuler itu karena cara distribusi yang berbeda dan mengikuti zaman. Sering kali juga berhasil nongkrong di “FYP” atau for your page yang bisa mengarahkan konten mereka ke target market paling jauh.
Saat ini dangdut ambyar sudah menjadi fenomena tersendiri dan seolah memiliki pakem chord sendiri. Sering kali lagu-lagu dangdut ambyar menggunakan susunan chord seperti F G Em Am F G C untuk reff, atau berputar-putar di antara itu sehingga chord itu saja bisa dipakai untuk menyanyikan lebih dari 10 lagu dangdut ambyar.
Bias chord itu kemudian memunculkan efek ketersesatan dalam meraba penyanyi atau pencipta sebuah lagu dangdut ambyar. Di mata orang awam seperti saya, semua lagu dangdut ambyar itu ciptaan dan dipopulerkan oleh Denny Caknan, Guyon Waton, atau Ndarboy Gank.
Sebab para musisi ambyar setelahnya tak benar-benar memiliki identitas khas yang kuat.
Saat ini kita telah sampai pada masa di mana kita tenggelam dalam lautan dangdut ambyar. Kita tak dapat mengenali lagu ini ciptaan siapa, dipopulerkan oleh siapa, bahkan yang paling parah kita tak bisa membedakan komposisi yang pas dari verse dan reff antara lagu satu dengan lagu lainnya. Mereka hanya seperti terus-terusan memeras chord F G Em Am F G C.
Di sisi lain, dangdut ambyar telah menancapkan kakinya cukup kuat pada hajat hidup masyarakat kelas bawah, dan menemani mereka dalam menjalani hidup yang absurd ini.



