Membaca Pergulatan Manusia lewat Biofilia dan Nekrofilia

Sumber : Pribadi

Sinar matahari sore yang masih sedikit menyengat kulit pada Rabu itu tak menghalangi niatan kami melaksanakan ibadah rutin bulanan. Kedai Megah kembali terpilih sebagai titik berkumpul. Satu per satu peserta mulai berdatangan, membawa obrolan dan rasa penasarannya masing-masing.

Buku yang dibedah kali ini bukan buku baru. Usianya bahkan lebih tua dibanding umur kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, gagasan di dalamnya ternyata masih cukup relevan untuk membaca kondisi psikologis manusia hari ini, terutama ketika kehidupan semakin banyak berlangsung di ruang digital.

Cedak Buku Jagongan#9 mengusung tema “Membaca Luka, Memahami Manusia”. Judul yang dipamerkan di media sosial itu memang tidak terdengar terlalu serius. Namun, justru judul tersebut membuat sejumlah orang penasaran dan akhirnya datang. Hadir beberapa pegiat budaya, mahasiswa, serta peserta dari latar belakang yang beragam.

Acara tersebut dipandu oleh Zahruddin Fanani dengan Dadang Wiratama sebagai pemantik. Buku yang dijagongkan adalah karya Erich Fromm berjudul Perang Dalam Diri Manusia, yang berhasil dialihbahasakan pada 2020.

Membaca Manusia dari Pergulatan di Dalam Diri

Membuka diskusi, Dadang Wiratama mengajak peserta melihat manusia bukan sekadar dari apa yang tampak di permukaan. Menurutnya, manusia kerap hidup dengan berbagai pertentangan dalam dirinya. Ada keinginan untuk bebas, tetapi pada saat yang sama ada ketakutan menghadapi kebebasan tersebut. Ada keinginan untuk menjadi diri sendiri, tetapi manusia juga sering mencari pengakuan dari lingkungan sekitarnya.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi pintu masuk untuk membaca pemikiran Erich Fromm secara lebih dekat. Manusia, dalam pandangan Fromm, tidak pernah benar-benar lepas dari pergulatan antara kebutuhan untuk menjadi individu yang bebas dan kebutuhan untuk merasa aman bersama orang lain.

Pergulatan itu juga dapat dibaca melalui dua kecenderungan yang dibicarakan Fromm, yakni nekrofilia dan biofilia. Nekrofilia di sini bukan semata-mata dipahami dalam pengertian seksual, melainkan sebagai kecenderungan psikologis yang tertarik pada sesuatu yang mati, mekanis, kaku, dan destruktif. Ia dapat muncul dalam hasrat untuk menguasai, mengontrol, atau memperlakukan kehidupan seolah-olah hanya benda yang dapat diatur sesuka hati.

Sebaliknya, biofilia merupakan kecenderungan untuk mencintai kehidupan. Orientasi ini tampak dalam dorongan untuk bertumbuh, mencipta, merawat, dan membangun hubungan yang hidup dengan manusia maupun lingkungan di sekitarnya. Jika nekrofilia membawa manusia mendekati kekakuan dan kehancuran, biofilia mengarahkannya pada pertumbuhan dan keberlangsungan kehidupan.

Dua kecenderungan tersebut membuat pembicaraan tentang “perang dalam diri manusia” terasa semakin dekat. Pertarungannya tidak selalu berlangsung dalam bentuk konflik besar yang terlihat dari luar. Ia bisa hadir dalam pilihan-pilihan sederhana: antara merawat atau merusak, memahami atau menguasai, menciptakan sesuatu yang hidup atau justru membuat kehidupan semakin mekanis.

Bagi Dadang, persoalan tersebut justru semakin menarik jika dibawa ke kehidupan manusia hari ini. Media sosial memberikan ruang yang begitu luas bagi seseorang untuk menunjukkan dirinya. Namun, semakin banyak seseorang menunjukkan dirinya kepada publik, belum tentu semakin selesai pula persoalan yang ada di dalam dirinya.

Ketika Manusia Terhubung, tetapi Tak Selalu Dipahami

Manusia digital akhirnya berada dalam situasi yang cukup paradoks. Kita bisa berkomunikasi dengan banyak orang dalam waktu bersamaan, tetapi tetap merasa sendirian. Kita bisa mendapatkan banyak perhatian, tetapi belum tentu merasa dipahami.

Bahkan, terkadang kita sibuk membangun citra diri di hadapan orang lain sampai lupa bertanya kepada diri sendiri tentang siapa sebenarnya kita.

Di titik ini, gagasan Fromm tentang nekrofilia dan biofilia menemukan konteks yang menarik. Teknologi pada dasarnya dapat membantu manusia memperluas hubungan, pengetahuan, dan kreativitasnya. Namun, kehidupan digital juga dapat menjadi semakin mekanis ketika manusia mulai melihat dirinya dan orang lain sebatas angka: jumlah pengikut, tanda suka, komentar, tayangan, atau ukuran-ukuran lain yang menentukan seberapa jauh seseorang dianggap bernilai.

Barangkali persoalannya kemudian bukan sekadar apakah teknologi itu baik atau buruk, melainkan kecenderungan apa yang tumbuh dalam diri manusia ketika menggunakannya. Apakah teknologi digunakan untuk merawat kehidupan, memperluas hubungan, dan menciptakan sesuatu—mendekati orientasi biofilia—atau justru membuat manusia semakin gemar mengontrol, menghakimi, dan memperlakukan sesamanya seperti objek—mendekati kecenderungan nekrofilia.

Dari sana, diskusi berkembang menjadi percakapan tentang luka manusia. Luka yang dimaksud tidak selalu berupa sesuatu yang terlihat. Ia bisa hadir dalam bentuk rasa takut, kecemasan, kebutuhan akan pengakuan, maupun pengalaman masa lalu yang diam-diam memengaruhi cara seseorang memperlakukan dirinya dan orang lain.

Buku Lama yang Masih Menemukan Manusia Hari Ini

Buku lama itu akhirnya terasa seperti cermin yang masih cukup jernih untuk melihat manusia hari ini. Ia mengajak peserta tidak buru-buru menghakimi perilaku seseorang, tetapi mencoba memahami apa yang mungkin sedang terjadi di baliknya.

Rabu sore itu, Kedai Megah pun bukan sekadar menjadi tempat berkumpul. Ia berubah menjadi ruang untuk membaca buku sekaligus membaca manusia. Sebab, semakin kita memahami luka dalam diri sendiri, barangkali semakin mudah pula kita memahami luka orang lain.

Pada akhirnya, gagasan tentang biofilia dan nekrofilia membawa pembicaraan kembali kepada pilihan manusia sendiri: apakah kehidupan akan diarahkan untuk terus bertumbuh dan merawat, atau perlahan dibiarkan menjadi kaku, mekanis, dan kehilangan hubungan dengan kehidupan itu sendiri.

Jagongan akhirnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa isi buku Erich Fromm. Lebih jauh, diskusi membawa satu pertanyaan kepada masing-masing peserta: jangan-jangan, manusia sering kali terlalu sibuk memahami dunia di luar dirinya, sementara dirinya sendiri belum selesai ia pahami.

Cedak.id
Cedak.id

seorang admin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *