Membumikan Sosok Figur Layaknya Manusia

Sumber: Chatgpt AI generat image

Barangkali masalahnya bukan karena mereka berubah, tetapi karena sejak awal kita menaruh mereka di tempat yang terlalu tinggi. Saat mereka tampak sebagai manusia biasa, yang runtuh bukan mereka, melainkan ekspektasi kita sendiri.

Fenomena semacam ini semakin akrab kita jumpai. Mulai dari tokoh agama, pemimpin, akademisi, aktivis, bahkan figur di media sosial kerap diperlakukan layaknya manusia tanpa cela. Kritik dianggap serangan, sementara kekeliruan selalu dicari pembenarannya. Akibatnya, penghormatan perlahan berubah menjadi pengkultusan, dan kekaguman bergeser menjadi hilangnya nalar kritis.

Sering kali kita keliru mengira bahwa rasa hormat hanya pantas diberikan kepada mereka yang terlihat tanpa cela. Padahal, kesempurnaan bukan syarat untuk dihargai. Yang membuat seseorang layak menjadi teladan adalah kemampuannya menjaga nilai, mengakui kekurangan, dan terus memperbaiki diri tanpa kehilangan integritas.

Keteladanan Tidak Pernah Lahir dari Kesempurnaan

Pandangan itu membuat saya sejak lama berusaha menghindari praktik glorifikasi terhadap siapa pun. Selain bertentangan dengan ajaran agama yang melarang sikap berlebihan dalam memuja manusia, glorifikasi juga membuat kita kehilangan kemampuan membedakan mana penghormatan dan mana penghambaan.

Mencium tangan sebagai bentuk adab tentu berbeda dengan membenarkan setiap tindakan seseorang hanya karena kita mengaguminya. Mengingatkan ketika seorang guru atau tokoh melakukan kekeliruan, selama dilakukan dengan hormat, justru merupakan bentuk kepedulian, bukan pembangkangan.

Saya justru lebih mudah mengagumi seorang figur ketika mengetahui sisi manusiawinya. Kekurangan, keraguan, bahkan kegagalannya sering kali lebih menginspirasi daripada citra sempurna yang dibangun para pengagumnya.

Pandangan tersebut semakin menguat ketika saya membaca Babad Diponegoro. Otobiografi itu tidak hanya menceritakan keberanian Pangeran Diponegoro melawan penjajah, tetapi juga merekam konflik antarpanglima, perbedaan strategi, pergulatan batin, hingga sisi-sisi personal yang menunjukkan bahwa seorang pemimpin besar tetaplah manusia biasa.

Kejujuran itu justru membuat sosok Diponegoro terasa lebih besar. Ia tidak sedang membangun citra pahlawan yang tanpa cela, melainkan meninggalkan catatan tentang perjuangan seorang manusia yang terus berikhtiar memperbaiki dirinya. Upayanya menuju insan kamil tidak dibangun di atas pengakuan bahwa dirinya sempurna, tetapi di atas kesadaran bahwa manusia selalu memiliki kelemahan.

Di situlah letak keteladanan yang sesungguhnya. Kita tidak mengagumi Diponegoro karena ia bebas dari kesalahan, melainkan karena di tengah berbagai keterbatasan, konflik, dan pergulatan batin, ia tetap memilih jalan pengabdian bagi bangsa dan umat.

Mengagumi Boleh, Kehilangan Nalar Jangan

Cara pandang seperti ini terasa semakin penting di tengah kehidupan hari ini. Media sosial menghadirkan ruang yang sangat mudah melahirkan kultus individu. Seseorang dipuja berlebihan, dianggap selalu benar, lalu ketika satu kesalahan terbongkar, ia dijatuhkan habis-habisan. Tidak sedikit penggemar fanatik berubah menjadi pembenci fanatik hanya karena figur yang mereka idolakan tidak lagi sesuai dengan bayangan kesempurnaan yang mereka ciptakan sendiri.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalannya bukan pada figur yang dikagumi, melainkan pada cara kita memandang mereka. Ketika seseorang ditempatkan terlalu tinggi, kita sedang menyiapkan ruang bagi kekecewaan yang sama besarnya. Padahal, manusia memang diciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Karena itu, sejarah semestinya tidak dibaca untuk membangun pemujaan terhadap tokoh-tokohnya. Sejarah hadir agar kita berdialog dengan pengalaman mereka, belajar dari keberhasilannya, sekaligus memahami kekeliruannya. Dari sanalah kebijaksanaan lahir, bukan dari keyakinan bahwa seseorang selalu benar.

Maka, ruang-ruang diskusi, tabayun, dan percakapan yang sehat menjadi penting untuk terus dihidupkan. Sebab nalar kritis hanya akan tumbuh ketika penghormatan berjalan berdampingan dengan keberanian bertanya. Ruang-ruang sederhana seperti itulah yang seharusnya menjadi tempat kita saling belajar, bukan saling mengultuskan.

Pada akhirnya, penghormatan terbesar kepada seorang figur bukanlah menempatkannya di singgasana yang tak tersentuh kritik. Penghormatan terbesar justru lahir ketika kita berani menerima bahwa mereka adalah manusia biasa—dengan segala jasa, keterbatasan, dan kekeliruannya. Sebab hanya sosok yang tetap dipandang sebagai manusia itulah yang benar-benar dapat kita teladani.

Octavyan Muhammad S
Octavyan Muhammad S

Hamba dhuafa faqir ilmu yang berikhtiar menjadi insan kamil

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *