
Kemarin media sosial saya dipenuhi video demonstrasi mahasiswa dari berbagai daerah. Jakarta ramai. Surabaya dan Malang juga ramai. Jogja pun tak kalah ramai. Seperti biasa, kolom komentarnya dipenuhi dukungan. Banyak yang menganggap mahasiswa masih menjadi kelompok yang berani menyuarakan keresahan publik.
Namun, ada satu hal yang membuat saya agak mengernyit. Yakni ketika melihat video demonstrasi di salah satu kabupaten, tepatnya di Tuban, nuansa komentarnya justru berbeda. Alih-alih mendapat apresiasi, banyak yang malah menulis, “FOMO”, “ikut-ikutan”, atau “cuma cari perhatian”.
Saya jadi bertanya-tanya. Kenapa demonstrasi yang dilakukan mahasiswa di kota besar sering dipandang sebagai perjuangan, sementara ketika dilakukan mahasiswa di kabupaten justru dianggap sekadar ikut tren?
Padahal aktivitasnya sama. Sama-sama turun ke jalan. Membawa tuntutan. Sama-sama menyampaikan aspirasi. Yang berbeda hanya lokasinya saja.
Dianggap FOMO dan Ikut-ikutan
Ini bagian yang paling aneh bagi saya. Ketika mahasiswa di kabupaten peduli pada isu nasional, mereka justru dituduh FOMO (Fear of Missing Out). Dianggap cuma pengen gaya-gayaan biar kelihatan keren kayak mahasiswa kota besar, atau sekadar pengen bikin Story Instagram.
Logika netizen ini seolah-olah mengatakan kalau urusan mengkritik negara itu hak prerogatif mahasiswa kota besar. Mahasiswa kabupaten mending kuliah yang bener, cepat lulus, lalu daftar CPNS.
Padahal, kebijakan yang dikritik itu dampaknya nasional. Kalau harga bahan pokok naik, hukum diacak-acak, atau demokrasi dikebiri, yang kena imbasnya ya seluruh warga Indonesia. Mau yang tinggal di kos-kosan eksklusif dekat kampus ternama, sampai yang rumahnya di pelosok desa yang sinyalnya timbul tenggelam.
Menuduh mahasiswa daerah FOMO saat membicarakan nasib bangsanya sendiri adalah bentuk penghinaan nalar yang paling mutakhir. Justru, dengan segala keterbatasan akses, akomodasi, dan jumlah massa, keberanian mereka untuk tetap bersuara di tengah masyarakat kabupaten yang cenderung apatis itu patut diacungi jempol.
Jumlah Sedikit Memang Wajar
Jika diamati, salah satu sebab cibiran itu berasal dari jumlah massa. Di kota besar, satu kampus saja bisa memiliki puluhan ribu mahasiswa. Belum lagi kalau aksi dilakukan gabungan berbagai universitas. Jalanan tentu akan terlihat penuh. Kamera drone pun menangkap lautan manusia yang membuat demonstrasi tampak besar dan meyakinkan.
Sementara di kabupaten, jumlah mahasiswa memang jauh lebih sedikit. Kalaupun seluruh organisasi mahasiswa turun ke jalan, hasilnya tentu tidak akan sebanyak demonstrasi di Surabaya atau Jakarta. Bukan karena mereka tidak serius, melainkan memang basis mahasiswanya berbeda.
Lucunya, jumlah yang sedikit ini malah dijadikan bahan lawakan. Ada komentar yang bilang, “Lho, demo kok cuma segini? Masih ramean antrean Mie Gacoan sebelah!” atau “Ini mah bukan demo, ini rombongan kerja kelompok.”
Jujur, saya bingung sejak kapan ukuran penting atau tidaknya sebuah demonstrasi ditentukan oleh jumlah orang yang ikut serta. Logika seperti ini terasa kurang adil. Kalau memakai ukuran tersebut, hampir semua demonstrasi di kabupaten pasti akan kalah. Sebab memang basis penduduknya lebih kecil. Kampusnya juga tidak sebanyak kota metropolitan.
Kasihan Mahasiswa Kabupaten, Demo Dibilang FOMO, Diam Dibilang Apatis
Menurut saya, mahasiswa di kabupaten memang berada pada posisi yang serba salah. Ketika mereka memilih diam, mereka akan dicap apatis dan tidak peduli pada persoalan bangsa. Namun ketika turun ke jalan, mereka malah dituduh FOMO, ikut-ikutan, atau sekadar mencari perhatian.
Padahal, keberanian tidak selalu diukur dari seberapa panjang barisan massa atau seberapa ramai jalan yang berhasil ditutup. Di daerah yang jumlah mahasiswanya terbatas, puluhan orang yang turun ke jalan bisa jadi sudah mewakili sebagian besar organisasi kemahasiswaan yang ada.
Standar Ganda Menilai Demo Mahasiswa di Kabupaten
Saya justru berharap kita berhenti menilai demonstrasi hanya dari kuantitas. Sebab demokrasi tidak hanya hidup di Jakarta, Surabaya, atau Jogja. Ia juga tumbuh di kabupaten-kabupaten kecil yang sering luput dari sorotan media nasional.
Membandingkan jumlah massa aksi di kabupaten dengan antrean tempat makan viral jelas nggak apel-ke-apel. Sudah saatnya kita berhenti mencibir dan berhenti membandingkan. Karena sekecil apa pun suaranya, mereka sedang merawat waras di tempat yang sering kali dilupakan.
Jadi lain kali ketika melihat video demonstrasi dari daerah, mungkin kita tidak perlu buru-buru menghitung jumlah pesertanya. Lebih baik dengarkan dulu apa yang sedang mereka suarakan. Sebab bisa jadi yang terlihat kecil di layar ponsel kita, justru membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar daripada demonstrasi di kota-kota besar.



