Ketika Sebuah Buku Mengajak Kita Curiga pada Kesimpulan Sendiri

Sumber : Foto Pribadi

Pada hari Rabu siang menuju sore yang masih panas itu, tidak menjadi penghalang Cedak Buku menjalankan rutinan bulanan yang bertepatan pada 26 Agustus 2026 yakni membedah buku. Terpilih Kafe Kedai Megah yang berlokasi di tengah kota dan tepat disamping Telaga Bandung sebagai tempat Jagongan10.

Dan pada Jagongan10 kali ini, kami akan membedakan sebuah buku dari seorang ulama besar Islam, filsuf, sekaligus tokoh sufi terkemuka yang memiliki pengaruh sangat luas dan mendalam yakni Imam Al-Ghazali.

Buku tersebut berjudul “Bebaskan Akal dari Sesat Pikir” (2023). Karya tersebut merupakan terjemahan dari kitab masyhur karya Imam Al-Ghazali yang berjudul Al-Munqidz min adh-Dhalal  yang artinya “Penyelamat dari Kesesatan”. Buku tersebut memiliki usia sekitar kurang lebih 900 tahun, atau lebih tepatnya ditulis sekitar pada tahun 1106 M-1109 M jauh sebelum Indonesia merdeka, dan dipantik oleh Muhammad Syarif Oktavian.

Buku itu merupakan outobiografi Imam Al-Ghazali dalam mencari dan menemukan tahapan untuk mencari kebenaran.

Karya ini ditulis pada masa akhir karir intelektualnya, saat mengalami krisis epistemologis. Buku ini dapat dijadikan sebagai panduan spiritual sekaligus intelektual bagi siapa saja yang ingin melepaskan diri dari taklid buta, dogma, dan kesesatan berpikir, demi meraih keyakinan sejati.

Mengajak Curiga Pada Pikiran Sendiri

Pada awal buku ini, Imam Al-Ghazali membahas tentang perjalanan intelektual dan pencarian kebenaran. Bagaimana sejak masa mudanya Ghazali terdorong oleh hasrat yang kuat untuk menyelami hakikat segala sesuatu. Jika sudah menemukan akan dipertanyakan lagi, begitu seterusnya.

Syaris dalam diskusi menyampaikan “kadang yang perlu kita curigai bukan pendapat orang lain, melainkan cara kita sendiri sampai pada sebuah kesimpulan”.

Di tengah kebiasaan menerima informasi dengan cepat, membagikannya sebelum memeriksa kebenarannya, lalu buru-buru menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, ajakan untuk mencurigai kesimpulan sendiri terasa relevan. Sebab, bisa jadi persoalannya bukan karena kita tidak mampu berpikir, melainkan karena kita terlalu percaya bahwa cara berpikir kita selalu benar.

Dalam buku Al-Ghazali memberikan beberapa kelompok yang pernah bertikai soal kebenaran, baik perseorangan maupun kelompok. Pertama, Mutakallimin, yang mengandalkan dalil-dalil akal dan logika untuk mempertahankan akidah, namun sering kali terjebak dalam perdebatan dialektika semata.

Kedua, Bathiniyah, kelompok yang meyakini bahwa kebenaran mutlak hanya bisa diperoleh melalui pengajaran dari seorang Imam maksum. Aliran ini lebih banyak menggunakan doktrin manipulatif dan menutup ruang kritis dari akal.

Ketiga, para filsuf, pengikut Aristoteles dan Plato yang mengagungkan logika murni dan sains. Keempat, Sufi, kelompok yang menempuh jalan penyucian jiwa, zuhud, dan pengalaman spiritual langsung.

Al-Ghazali mengkritik keras atas pandangan yang dianggap bertentangan dengan prinsip agama, keabadian alam dan pengingkaran terhadap kebangkitan jasmani

Merenungkan dan Menemukan Tahapan Pencarian

Puncak dari analisis kritis Al-Ghazali adalah ketika beliau mengalami skeptisisme radikal. Al-Ghazali meragukan panca indra dan akalnya sendiri. Kemudian, bagaimana cara bisa percaya pada mimpi atau ilusi? Apakah akal manusia mampu menjangkau kebenaran mutlak tanpa bimbingan ilahi?

Melalui perenungan yang mendalam, beliau menyadari bahwa keyakinan sejati tidak lahir semata-mata dari silogisme logika formal, melainkan dari pengalaman batiniah (spiritual). Al-Ghazali menemukan bahwa para sufi merupakan satu-satunya golongan yang benar-benar mengamalkan ilmu mereka, di mana jalan mereka bukan didasarkan pada teori kosong, melainkan pada latihan jiwa yang bersih, kejujuran yang murni, dan kedekatan langsung kepada Allah SWT.

Syaris menyampaikan “pencarian itu tidak berhenti ketika kita menemukan jawaban. Justru dari jawaban itulah kita perlu bertanya kembali, apakah yang kita temukan benar-benar kebenaran atau hanya sesuatu yang ingin kita percayai.”

Meskipun ditulis ratusan tahun lalu, esensi dari buku ini tetap sangat relevan dengan tantangan zaman modern hari ini. Di tengah arus informasi yang masif, hoaks, polarisasi pemikiran, serta disinformasi sains dan agama, Al-Ghazali mengajarkan beberapa prinsip penting:

Berpikir Kritis jangan menerima suatu informasi atau doktrin begitu saja tanpa verifikasi ilmiah dan rasional (tabayyun). Kerendahan hati mengakui keterbatasan akal manusia dalam menjangkau hal-hal transenden, sehingga akal perlu dibimbing oleh moralitas dan spiritualitas.

Diskusi akhirnya sampai pada penghujung. Namun, percakapan tentang akal, cara berpikir, dan pencarian kebenaran rasanya belum benar-benar selesai. Justru setelah buku ditutup dan ruang diskusi mulai sepi, barangkali pertanyaan-pertanyaan itu menemukan tempatnya masing-masing di kepala para peserta.

Alfiandika Arif Pratama
Alfiandika Arif Pratama

Saya hanya orang biasa lulusan s1 teknik komputer di Universitas Muhammadiyah Lamongan, bertempat tinggal di Kebonsari, Sukodadi, Lamongan. Saya gemar belajar hal baru seperti ilmu teknologi, editing video, editing audio, bermain musik, membaca, menelisik, touring, mendesain dan masih banyak lagi, saya juga pecinta kucing, saya orangnya sederhana, pesan saya "dihina tidak tumbang, dipuji terimakasih bang"

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *