Desa Sendangduwur, Kecamatan Paciran, Layak Dinobatkan Sebagai Pesona Lamongan Lantai Dua

Sumber https://dewatiket.id/

Sejak kemarin, lagu Fanny Soegi yang berjudul “Jogja Lantai Dua” sering bergema di sosial media saya. Memang cukup oke lagunya. Apalagi bagi orang yang punya kenangan dengan Jogja, seperti saya ini. Rasanya nyes aja dengernya.

Namun setelah agak lama saya jadi bertanya-tanya, kira-kira konsep lantai dua suatu daerah itu apa ya? Apakah itu konsep geografis? Branding pariwisata? Atau sekadar istilah puitis agar sebuah tempat terdengar lebih romantis dan layak dipamerkan di Instagram?

Setelah saya cari-cari, saya tidak menemukan definisi dan syarat resmi soal “daerah lantai dua”. Iya, tidak ada syarat administratif, tidak ada peraturan menteri, apalagi SK bupati. Ia lebih mirip kesepakatan kultural, semacam julukan tidak tertulis untuk wilayah yang berada di dataran lebih tinggi, berhawa sejuk, dan punya jarak emosional dari hiruk-pikuk pusat kota.

Jika di Jogja punya Gunungkidul sebagai lantai dua, Jombang ada Wonosalam, dan Mojokerto ada Trawas. Sebagai warga Lamongan, saya perlu memperkenalkan kalau di Lamongan juga ada lantai duanya, yakni desa Sendangduwur, kecamatan Paciran. Sebuah daerah di atas bukit gunung kapur.

Lamongan Utara Tidak Cuma Pesisir Laut Saja

Selama ini, kalau bicara Lamongan, yang muncul di kepala orang biasanya cuma kuliner pecel lele dan soto. Pun jika menyoal daerah utara Lamongan, atau Kecamatan Paciran, perbincangannya hanya seputar panas, angin asin, dan laut yang kecoklatan. Iya, memang masih banyak potensi di Lamongan yang belum dikenal banyak orang.

Pun Wisata Bahari Lamongan (WBL) kian lama mulai terkikis jumlah pengunjungya. Karena itu, menurut saya, sudah waktunya Desa Sendangduwur di Kecamatan Paciran dinobatkan sebagai Lamongan Lantai Dua. Bukan karena ikut-ikutan tren. Tapi karena memang secara geografis, sosial, dan kultural, Sendangduwur memenuhi syarat tak tertulis sebagai “daerah atas” yang layak dibanggakan.

Padahal begitu masuk desa, suasananya langsung berubah. Kontur tanahnya berbukit kapur. Jalannya menanjak. Udaranya sedikit terasa berbeda dibandingkan dataran bawah. Dari titik-titik tertentu, terutama menjelang malam, lampu-lampu kota terlihat buram dari kejauhan. Tidak dramatis seperti Malang atau Batu, tapi cukup untuk membuat orang berhenti dan menarik napas lebih panjang.

Punya Agenda Sosial yang Hidup

Satu hal yang membuat Sendang tidak sekadar “desa di atas bukit” adalah aktivitas warganya. Ada Latar Cendani, semacam pasar kuno yang digelar tiap Minggu Legi. Jika kalian mampir, maka akan menjumpai pasar dengan konsep jadul, dengan kedai-kedai dari bahan kayu serta atap daun kering. Dan, semakin terasa jadul lagi karena metode pembayarannya memakai kepingan koin jadul berbahan kayu yang bisa didapatkan dengan menukar uang rupiah.

Sesuai dengan konsepnya, pasar ini hanya menjual aneka makanan dan jajanan khas tempo dulu. Seluruhnya dijajakan langsung oleh warga setempat dengan harga yang ramah di kantong.

Selain itu, ada pula batik tulis khas Sendang, makam Sunan Sendang, dan juga tradisi ruwahan yang masih dijaga. Iya, di sana ada kegiatan-kegiatan desa yang memang konsisten digelar dan dijaga bersama-sama.

Karena itu, Branding Lamongan Lantai Dua nanti kalau benar-benar dilakukan, tinggal memperkuat yang sudah ada, bukan membangun dari nol.

Belajar dari “Lantai Dua” Daerah Lain

Kalau Jombang berani mempopulerkan Wonosalam sebagai Jombang Lantai dua, Lamongan seharusnya tidak minder. Meski demikian, akses menuju kawasan ini memang masih perlu perhatian di beberapa titik.

Saya yakin ketika infrastruktur mulai diperbaiki, potensi wisata akan mengikuti. Dan yang paling penting: ekosistemnya harus disiapkan sejak awal agar tidak sekadar viral lalu rusak dan ditinggalkan secara perlahan.

Terakhir, saya ingin mengatakan bahwa menyebut Sendangduwur sebagai Lamongan Lantai Dua bukan soal keren-kerenan istilah. Ini soal cara kita melihat daerah sendiri. Iya, Lamongan terlalu lama direduksi pada kata saja, yakni panas. Padahal ia punya destinasi lain yang lebih hening, lebih tinggi, dan lebih tenang.

Saya sering ke Sendangduwur, dan setiap kali ke sana, rasanya seperti sedang “menghindar” sebentar dari Lamongan yang biasanya saya kenal. Tidak terlalu jauh, tapi cukup untuk membuat kepala lebih ringan.

Sendangduwur adalah representasi destinasi itu. Jika Lamongan ingin naik kelas dalam pariwisata, ia tidak harus meniru daerah lain. Cukup kenali potensinya sendiri. Dan untuk urusan “lantai dua”, Sendangduwur jelas kandidat paling masuk akal. Tinggal kita mau memviralkan, atau tetap membiarkannya jadi rahasia kecil warga lokal saja.

Ehem, Dinas Pariwisata Lamongan, saatnya kalian bekerja.

Afiqul Adib
Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik. Introvet yang baik. Sedang tinggal di Lamongan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *