
Sore menjelang petang, segelintir pemuda berdatangan. Kehadiran berniat meramaikan sebuah acara perkenalan. 14 September 2025 terpilih menjadi waktu awal Cedak.id sinau dan berkenalan dengan Lamongan. Tema perkenalan bertajuk “Nemoni Cedak” yang berlangsung di Kedai Megah.
Tujuan cedak.id memeriahkan dan mengundang peminat literasi di Lamongan ialah memperkenalkan dan mengajak menyebarkan apapun yang layak untuk diceritakan. Sebab, setiap fenomena menyimpan maksud dan nilai.
Kita cukup menyayangkan jika membiarkannya. Mulai dari sosial, kebudayaan, pendidikan, keagamaan, dll. Hal ini, mendorong cedak.id tergerak menulis, melacak dan menayangkannya.
Sejalan dengan latar belakang kelahiran cedak.id, yang berasal dari bertemunya keresahan pemuda di warung kopi. Kami mewujudkan wadah bernama Cedak.id sebagai ruang untuk berbagi kisah. Rasa semangat menyebarkan bacaan yang menumbuhkan kerukunan dan keharmonisan mendorong kami mengambil langkah kecil ini.
Hadir pada acara itu, M. Eko Nugroho (penerbit progresif), Syaris (peminat budaya), Dhaniel, Devan (Book.Story), Fahmi (pemusik), Fatah Anshori (penulis buku) yang sekaligus sebagai pencerita perliterasian di Lamongan.
Sebagai pemandu acara, Zahruddin Fanani (Juru Kunci Cedak.id) mengawali dengan berucap salam dan mengutarakan maksud kegiatan sore di Kedai Megah ini.
Fatah mengenang awal perjalanannya dengan penuh kesan. Begini “Minat saya pada dunia baca sudah muncul sejak SMA, walau saat itu belum begitu tekun. Baru ketika menjadi mahasiswa, saya benar-benar merasakan ketertarikan yang mendalam terhadap baca-tulis. Sejak saat itu, saya masih ingat jelas buku pertama yang saya baca—karya Habiburrahman yang meninggalkan kesan mendalam”
Setelah lulus kuliah, ia bekerja dipercetakan buku. Memperluas kiprahnya dengan aktif di komunitas Kostela (Komunitas Sastra dan Teater Lamongan).
Kondisi di Lamongan
Lamongan merupakan salah satu Kabupaten kecil di Jawa Timur. Di sini, banyak melahirkan penulis kondang. Entah besar di luar ataupun di Lamongan sendiri. Ini menunjukkan bahwa kesadaran baca-tulis cukup kuat dan tersebar.
Lurah cedak.id, Dadang, sekembalinya dari tanah perantauan dan melihat kondisi di Lamongan, cukup miris. Warung kopi, kampus dan mahasiswa sangat kontras. Keterlibatan bersama buku sangat jauh. Menurutnya, ada hal yang hilang dan perlu diadakan.
Bersama Fanani di Lik Coffe 2, Sukomulyo, mereka berbincang dan memiliki resah yang sama. Ada keinginan untuk membuat sesuatu yang bermanfaat. Lahirlah Cedak.id. Menemukan dan memutuskan butuh waktu hampir satu bulan.
Tentu, ada dampak yang diharapkan dari keberadaan cedak. Misal, menumbuhkan tingkat baca-tulis di Lamongan. Pelatihan penulisan. Diskusi keilmuan.
Pasti butuh dukungan dari pegiat literasi yang sudah sejak lama bergiat di Lamongan. Mengembalikan minat baca-tulis yang lebih segar, menarik dan mengemasnya lebih kekinian. Dengan begitu, pelajar yang awalnya acuh dapat berbalik arah.
Baca Tulis
Keberadaan lembaga pendidikan, seharusnya bisa melahirkan peserta didik terpikat dunia baca-tulis. Budaya penundukan, praktis, dan lisan terhadap peserta didik baiknya dialihkan. Suatu saat pasti akan menemukan perubahan.
Telah banyak dicontohkan oleh para pendahulu bahwa membaca dan menulis adalah sebuah peradaban yang bagus. Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara, Pramodya Ananta Toer, dsb. Melalui warisan mereka kita dapat melihat bagaimana kondisi Indonesia pada saa itu.
Menulis adalah perintah. Menulis adalah kegiatan mengabadian. Tanpanya, semua akan hilang. Dunia akan sepi. Fatah menjelaskan “menulis merupakan aktivitas spiritual, yang membawa dampak pada diri kepuasan dan ketenangan”.
Acara akan menemui waktu akhir. Pemandu memberi kesempatan bertukar pengalaman, pikiran dan harap kepada yang hadir sekaligus merancang untuk kemajuan literasi di Lamongan.
Adzan sudah berkumandang, waktu berpamitan semakin dekat. Tiada terasa sudah usai. Acara ditutup salam dan ucap terima kasih.




Lamongan punya modal besar. Banyak pesantren dan sekolah berdiri dari TK sampai perguruan tinggi. Setiap hari, ribuan orang
[…] sumringah 19 November 2025 sore itu, mewarnai langkah awal “cedak buku” jagongan di Kafe Kedai Megah. Meski, cuaca sedang mendung, namun tidak menyurutkan niat untuk bertemu. Tampak terlihat jika […]