Teh Hijau Tulus Mewakili Kegelisahan Generasi Masa Kini

Sumber: detik.com

Kemarin, saya baru saja mendengarkan lagu terbarunya Tulus. Kukira ia sedang promo sebuah brand (seperti lagu OBH Combi kui yang akhirnya ramai sebagai soundtrack). Ternyata ini beneran single terbaru. Ya, gimana, lagunya ini tentang fase kehampaan, tapi judulnya Teh Hijau. Agak random memang. Tapi ya gapapa, manot. Wes opo jare Muhammad Tulus. Pokok tetep easy listening dan enak didengarkan berulang kali.

Fyi, single terbaru ini rilis 30 Juni 2026. Sebenarnya saya pertama mendengarkan lagu ini karena membaca tweet dari Fiersa Besari, kurang lebih begini, “Sebagai musisi, saya iri, tidak pernah bisa membuat karya seindah Tulus. Tapi sebagai pendengar, saya bahagia. Setiap karya Tulus memang patut dirayakan.”

Jan, bahkan seorang musisi pun salut dengan lagunya. Tanpa fafifu, saya langsung muter di YouTube Music dan langsung jatuh suka

Tulus Tidak Sedang Bercerita tentang Patah Hati

Kalau diperhatikan, sebagian besar lagu Tulus selama ini selalu dekat dengan relasi antarmanusia. Ada yang tentang mengagumi seseorang, tentang kehilangan, mencintai dengan cara yang dewasa. Atau berpisah dan saling mendoakan (hati-hati di jalan).

Nah, di “Teh Hijau” ini, saya justru merasa Tulus sedang masuk ke wilayah yang berbeda. Lagu ini tidak sedang membahas orang lain. Lagu ini justru membahas interaksi dengan dirinya sendiri. Sebuah upaya memahami sesuatu yang jauh lebih sulit dijelaskan ketimbang hubungan antarmanusia, yakni fase kehampaan dan kehilangan rasa senang. Barangkali itulah yang sedang ingin ditangkap oleh Tulus.

Fase hampa, fase yang mewakili kita semua

Ada yang hilang dariku belakangan

Sedang tak mudah bertemu rasa senang

Sedang kucari yang jadi pencetusnya

Mungkin hilangnya atau siklus hidupku

Saya cukup suka penggalan lirik di atas. Terasa jleb sekali. Tulus berhasil menangkap satu fase yang belakangan sering dirasakan banyak orang. Fenomena merasa hidup sebenarnya baik-baik saja, tetapi entah kenapa rasa senang seperti menghilang. Tidak ada musibah besar, tidak sedang patah hati, namun semuanya terasa datar. Yang lebih membingungkan, kita bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya sedang hilang.

Mungkin aku sedang tak bisa

Tak bisa jatuh cinta

Membuka hati ‘tuk apapun, siapapun

Dan mungkin aku memang sedang tak bisa

Tak bisa jatuh cinta

Membuka hati ‘tuk apapun, siapapun

Bagi saya, bagian ini memperluas maknanya. Kehampaan ternyata tidak hanya membuat seseorang kehilangan semangat, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk benar-benar antusias terhadap apa pun. Bukan cuma soal jatuh cinta, melainkan juga sulit menyukai pekerjaan, hobi, atau hal-hal yang dulu terasa menyenangkan. Saya kira, inilah kegelisahan yang diam-diam sedang dialami banyak orang seusia kita.

Semua Orang Mendadak Memberikan Saran

Lagu ini kemudian bergerak ke fase yang juga sangat akrab bagi siapa pun yang sedang merasa hampa: semua orang tiba-tiba datang membawa solusi. Iya, seolah-olah kesedihan selalu punya jalan keluar instan.

Ada saran kudengar

Lebih sering keluar ke alam

Saran lain kudengar

Cari hal asing yang menantang

Keluar dari benteng

Dari tempatmu yang sekarang

Saya tersenyum ketika mendengar bagian ini. Sebab, bukankah begitu yang sering terjadi? Baru sedikit mengeluh, orang-orang mulai menyuruh healing, olahraga, traveling, mencari hobi baru, atau keluar dari zona nyaman.

Btw, hampir semua saran itu sebenarnya baik. Hanya saja, kehampaan tidak selalu selesai hanya karena kita berpindah tempat atau menambah kesibukan. Ada kalanya kita sudah mencoba semuanya, tetapi rasa kosong itu tetap tinggal.

Tidak semua kehamppan harus segera disembuhkan

Apapun yang mungkin hilang itu (Sabar, sayang)

Mungkin ini siklusnya

Sudah garis jalannya

Esok, esok akan lebih elok

Ini bagian yang paling saya suka. Saya kira pesan seperti ini semakin jarang muncul dalam lagu-lagu populer. Iya, lagu yang membahas kehilangan rasa senang tanpa tahu penyebabnya masih relatif sedikit.

Padahal, bukankah itu yang belakangan sering kita rasakan? Dan yang menarik adalah ketika Tulus seolah mengingatkan bahwa mungkin ini bukan sesuatu yang harus segera diperbaiki. Mungkin memang ada musim dalam hidup ketika kita hanya perlu bertahan, percaya bahwa esok perlahan akan terasa lebih elok.

Terakhir, meski saya tak paham kenapa judulnya “Teh Hijau”, tapi saya merasa lagu ini akan punya umur yang panjang. Selain nyaman di telinga, lagu ini akan relate dengan generasi muda hari ini, yang sering merasa hampa, takut jatuh cinta, tak bisa membuka hati untuk apapun (atau siapapun), dan akhirnya melakukan banyak aktivitas random (ex: pergi ke alam, dll).

Yah, apapun itu, kehampaan pun tetap layak dirayakan. Duh, cak Tulus iki iso ae nek gawe lagu.

Afiqul Adib
Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik. Introvet yang baik. Sedang tinggal di Lamongan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *