
Belakangan ini saya sedang mengikuti serial Teach You a Lesson. Awalnya saya menonton karena sedang hype. Kukira sekadar drama sekolah ringan. Murid bermasalah, guru idealis, lalu semuanya selesai dengan pidato menyentuh di episode terakhir. Ternyata tidak sesederhana itu.
Ada satu dialog yang terus terngiang setelah saya selesai menontonnya. “Dunia akan hancur kalau orang dewasa takut kepada anak-anak.” Kalimat itu terdengar berlebihan. Namun semakin saya renungkan sebagai seorang guru, semakin masuk akal rasanya.
Sebab beberapa tahun terakhir, saya justru melihat kecenderungan yang mengkhawatirkan. Orang dewasa semakin takut memberi batas kepada anak-anak. Banyak guru takut diprotes orang tua, diviralkan, atau dicap galak. Padahal, sekolah membutuhkan orang dewasa yang berani menegur dan memperbaiki perilaku siswa yang keliru.
Guru Memang Tidak Harus Selalu Disukai
Sebagai guru, saya memahami bahwa dunia pendidikan sudah berubah. Hari ini, pendekatan pendidikan lebih manusiawi, dialogis, dan memperhatikan kesehatan mental. Tentu saja ini merupakan kemajuan. Saya juga percaya murid harus diperlakukan dengan hormat.
Namun, menghormati murid tidak berarti kehilangan kewibawaan. Belakangan saya justru melihat guru sering berada dalam posisi yang serba salah. Masyarakat sering menganggap teguran keras sebagai intimidasi, menilai hukuman tidak mendidik, dan memersepsikan konsekuensi sebagai bentuk kebencian.
Akibatnya, sebagian guru memilih jalan paling aman, yaitu membiarkan. Padahal tindakan ini punya konsekuensi yang cukup berbahaya pada jangka yang panjang.
Ada Murid yang Memang Membutuhkan Ketegasan
Dalam serial Teach You a Lesson ada murid-murid yang sudah berkali-kali melanggar aturan. Mereka merundung teman, meremehkan guru, dan merasa kebal terhadap konsekuensi.
Menghadapi situasi seperti itu, nasihat yang sama diulang terus-menerus sering kali tidak lagi efektif. Bukan karena anak-anak itu tidak bisa berubah, tetapi karena mereka belum pernah benar-benar bertemu dengan batas.
Ada saat ketika guru memang perlu mengatakan, “Tidak.” Tidak boleh mengganggu teman. Begitupun tidak boleh menghina guru. Dan, tidak boleh merusak fasilitas sekolah. Dan ketika aturan itu dilanggar, harus ada konsekuensi yang jelas dan tegas. Semua bertujuan guna menciptakan tempat belajar yang nyaman untuk semua.
Ketegasan Juga Bentuk Kepedulian
Saya sering heran mengapa ketegasan selalu dipertentangkan dengan kasih sayang. Padahal keduanya bisa berjalan bersama.
Sebagai pengibaratan, orang tua melarang anak bermain api bukan karena membencinya. Dokter melarang pasien mengonsumsi makanan tertentu juga bukan karena ingin menyiksa.
Begitu pula guru. Ketika guru memberikan konsekuensi atas sebuah pelanggaran, bisa jadi itu justru karena masih ada harapan agar murid tersebut berubah.
Yang lebih berbahaya justru ketika guru sudah tidak peduli lagi. Murid mau datang atau tidak, terserah. Mau belajar atau tidak, terserah. Mau mengganggu temannya atau tidak, juga terserah. Kalau sudah begitu, pendidikan sebenarnya sudah kehilangan maknanya.
Dunia Nyata Tidak Selalu Memberi Toleransi
Sekolah sering disebut sebagai tempat mempersiapkan anak menghadapi kehidupan. Dan jika kita mengamini hal tersebut, maka sekolah juga harus mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki akibat. Di luar sekolah nanti, tidak semua orang akan memaklumi kesalahan kita.
Tempat kerja punya aturan. Masyarakat punya norma. Hukum juga memiliki konsekuensi. Kalau sejak kecil anak tidak pernah belajar menerima konsekuensi atas kesalahannya, mereka akan lebih kaget ketika berhadapan dengan dunia yang sesungguhnya.
Karena itu, ketegasan guru sesungguhnya bukan untuk memenangkan pertarungan dengan murid. Ketegasan itu adalah latihan menghadapi kehidupan. Dan murid-murid perlu mendapatkannya.
Setidaknya Orang Dewasa Harus Mengingatkan
Ada satu dialog lain dalam serial itu yang menurut saya jauh lebih penting. “Setidaknya harus ada satu orang dewasa yang berani menegur dan mengatakan kalau itu salah.” Kalimat ini cukup mengena. Setidaknya bagi saya.
Di tengah dunia yang semakin sibuk menjaga perasaan semua orang, sekolah tetap membutuhkan sosok yang berani menjadi kompas moral. Bukan untuk mempermalukan murid, melainkan untuk menunjukkan mana yang benar dan mana yang keliru.
Dan sekali lagi, guru tidak harus selalu mencari kesukaan siswa. Mereka perlu berani menegakkan aturan, meski sebagian orang menganggapnya menyebalkan. Ketika seseorang menghina guru, sekolah dan lingkungan sekitar perlu memberikan konsekuensi yang tegas karena tindakan itu jelas salah. Setidaknya orang dewasa memang harus bersikap dewasa.



