
Sorotan kembali tertuju pada BBM, namun dengan cerita berbeda. Dalam beberapa bulan terakhir, keluhan soal turunnya performa kendaraan bermotor menyeruak. Sejumlah warga menduga penyebabnya berasal dari kualitas jenis Pertalite yang dinilai tidak lagi stabil.
Pertalite merupakan bahan bakar gasoline yang memiliki angka oktan 90, sebagai solusi perantara untuk konsumen yang saat ini menggunakan Premium. Zat aditif membantu pembakaran dan memberikan Pertalite kemampuan untuk membuat kendaraan menempuh jarak yang lebih jauh.
Namun senyatanya, temuan di lapangan bahkan memperlihatkan cairan berwarna hijau—yang disebut sebagai Pertalite—terbelah menjadi dua lapisan, diduga kuat mengandung air.
Dari penelusuran lapangan dengan beberapa pengendara yang terdampak, mereka sangat merasa kecewa. Isu ini bahkan memicu unjuk rasa pada 3 November 2025. Massa yang awalnya berkumpul di Gedung DPRD Lamongan kemudian bergerak menuju SPBU Sukorejo—atau yang dikenal warga sebagai POM Rangge.
Gelombang protes itu merupakan bentuk keresahan atas meningkatnya kasus kendaraan mogok, brebet, hingga rusak mendadak setelah mengisi Pertalite di sejumlah SPBU.
Dari berbagai kesaksian warga, keluhan serupa terjadi hampir di banyak titik. Beberapa pengendara yang ditemui mengaku terpaksa menguras tangki motor mereka untuk memastikan tidak ada endapan atau campuran aneh.
Profesi yang Menjadi Korban
Beberapa profesi membuktikan sendiri bahwa Pertalite yang mereka beli mengandung air, setelah BBM tersebut mengendap beberapa jam di dalam botol plastik yang benar-benar kering.
Hal ini dialami langsung oleh Tama (25) tahun. Ia seorang biker yang mengalami gangguan pada sepeda motornya. Gejala penurunan performa setelah menggunakan Pertalite.
“Saya sendiri mengalami penurunan performa pada motor setelah mengisi Pertalite. Motor terasa kurang bertenaga dan tarikan menjadi tidak stabil,” ujar Tama (25), seorang biker.
Gejalanya beragam—mulai dari tenaga motor terasa berat, brebet parah, sulit hidup saat dingin, hingga membutuhkan perawatan ekstra seperti pembersihan filter, penggantian busi, dan pengurasan tangki.
Coba bayangkan, seandainya ia sedang bepergian, dan ternyata pertalite menggangu laju kendaraan yang sedang ditumpanginya di sebuah hutan yang lebat dan sepi kendaraan yang lewat. Ditambah waktu malam hari. Begitu mengguncang kejiwaan.
Kasus yang hampir serupa dialamai oleh U’un (33) tahun “Motor saya sampai dua kali masuk bengkel dalam waktu kurang dari seminggu. Mekanik akhirnya menyarankan saya beralih ke Pertamax .”
Ia juga menambhakan “saya harus merelakan untuk tidak hadir ke sekolah”.
Motor menjadi sarana vital bagi pendidik. Kerusakan akibat BBM yang diduga bermasalah tidak hanya berdampak finansial, tetapi juga menimbulkan kerugian waktu dan pendidikan.
Kerugian Ekonomi dan Menurunkan Kepercayaan
Selain berdampak pada aktivitas harian pengendara sepeda motor, juga pasti memicu kerugian ekonomi yang tentunya tidak sedikit. Secara lokal, regional maupun nasional.
Beberapa mekanik menyampaikan bahwa mayoritas keluhan berasal dari masalah pembakaran dan bahan bakar yang terindikasi tercampur air.
Di sisi lain, memunculkan keluhan beruntun dari berbagai daerah menggertus kepercayaan masyarakay terhadap BBM bersubsidi. banyak pengendara mulai berlaih ke Pertamax atau bahkan Pertamax Turbo.
Pergeseran konsumsi ini menunjukkan bahwa warga memili membayar lebih mahal demi mendapatkan rasa aman, sebuah indikator jelas bahwa kepercayaan publik sedang goyah.
Tanpa penjelasan yang memadai, keraguan publik dapat semakin melebar dan mempengaruhi kebijkan energi di tingkat daerah hingga nasional.



