Dari Hutan ke Banjir: Ideologi Pembangunan Memproduksi Bencana (2)

Sawit tidak Hutan
Sumber Suara.com

Membongkar Ilusi dan Kekeliruan Kolektif

Adapula narasi lain yang cukup menyesatkan bahwa perkebunan sawit sama dengan hutan, karena sama-sama menghasilkan oksigen. Padahal secara fundamental dan secara ekologis ini keliru.

Hutan alami bukan sekadar pohon, melainkan sebuah sistem kehidupan: penjaga siklus air, penahan erosi, penyimpan karbon, dan pelindung keanekaragaman hayati. Ketika hutan diganti sawit, ekosistem ini runtuh.

Puncak persoalan bukan sekadar ekonomi, tapi mentalitas kekuasaan: tidak mau mendengar ilmuwan, ulama, rakyat, apalagi alam. Ketika alam tak didengar, ia akhirnya “berbicara” bahkan “berteriak lantang” lewat banjir, longsor, dan korban jiwa.

Bencana, dalam konteks ini, bukan hukuman misterius alam, tapi akibat kolektif dari perusakan yang dibiarkan.

Siapa yang Sebenarnya Ekstrem ?

Benarkah yang “ekstrem” itu para pembela hutan? Atau justru kebijakan yang menebang tanpa jeda, menggali tanpa batas, dan membuka tambang tanpa rasa takut pada akibat?

Dalam ilmu ekologi, alam bekerja dengan aturan yang stabil: ia punya daya dukung, daya pulih, dan batas keseimbangan. Ketika batas-batas itu dilampaui, yang terjadi bukan “amarah alam”, melainkan runtuhnya sistem kehidupan akibat ulah manusia. Ini bukan tuduhan, ini hukum ilmiah.

Aktivis lingkungan bukan pelaku ekstrem, melainkan “alarm sosial”. Mereka adalah suara peringatan sebelum rumah benar-benar terbakar. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya: alarm dimatikan, suaranya dibungkam, orangnya dilabeli.

Lalu siapa yang sebenarnya radikal ?

Mereka yang meminta hutan dijaga, sungai dirawat, dan tanah dihormati? Atau mereka yang mengubah hutan menjadi konsesi, gunung menjadi lubang, dan sungai menjadi saluran limbah—lalu menyalahkan hujan ketika air meluap ?

Ilmu kebencanaan sudah jelas: risiko bencana bukan hanya tentang langit yang menurunkan hujan, tetapi tentang tangan manusia yang merusak penyangganya. Saat hutan hilang dan tata ruang diabaikan, hujan biasa pun menjelma petaka.

Alam tidak pernah ekstrem. Ia setia pada hukumnya “Sunnatullah” namanya. Yang ekstrem adalah keserakahan yang menolak batas, dan kesombongan yang menganggap diri lebih pintar dari alam. Jika kita masih ingin menyebut “yang radikal”, jawaban ilmiahnya sederhana: sejatinya yang melampaui batas itulah yang sesungguhnya ekstrem dan radikal.

Jalan Keluar: Dari Ekstraksi ke Peradaban

Alternatif yang ditawarkan sebenarnya tidak bersifat utopis atau idealistis kosong. Ia justru berangkat dari pengalaman banyak bangsa yang berhasil keluar dari jebakan eksploitasi sumber daya alam dengan membangun fondasi peradaban berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pembangunan semacam ini tidak lagi menjadikan hutan sebagai objek tebang atau gunung sebagai lubang tambang, tetapi menjadikan otak manusia sebagai sumber daya utama. Negara yang berbasis IPTEK memosisikan universitas, lembaga riset, dan pusat inovasi bukan sebagai beban anggaran, melainkan sebagai jantung pembangunan jangka panjang.

Di dalam model ini, investasi pada riset dan inovasi menjadi strategi utama negara, bukan aktivitas sampingan. Dana publik tidak hanya diarahkan untuk proyek fisik, tetapi untuk membangun ekosistem pengetahuan: laboratorium, riset terapan, riset dasar, dan alih teknologi ke industri.

Riset bukan sekadar mengejar publikasi, melainkan diarahkan untuk memecahkan persoalan nyata bangsa — mulai dari teknologi pertanian ramah lingkungan, energi terbarukan, pengolahan limbah, hingga rekayasa tata kelola air dan pencegahan bencana. Inovasi menjadi mesin pertumbuhan, bukan sekadar jargon dalam dokumen perencanaan.

Di saat yang sama, ekonomi kreatif membuka ruang bagi bentuk kemakmuran yang tidak bergantung pada pengrusakan alam. Nilai ekonomi tidak lagi diambil dari menggali tanah, melainkan dari ide, kreativitas, dan kebudayaan. Industri berbasis konten digital, desain, seni, kuliner lokal, kriya, musik, game, dan teknologi kreatif mampu menciptakan lapangan kerja luas tanpa harus meratakan hutan atau mengeringkan rawa. Di sinilah kesejahteraan dibangun dari daya cipta manusia, bukan dari kehancuran ekosistem.

Namun, semua itu tidak mungkin berjalan tanpa tata kelola yang adil dan transparan. Model pembangunan lama runtuh bukan hanya karena salah arah, tetapi karena dikendalikan oleh kepentingan sempit dan minim akuntabilitas.

Dalam paradigma baru ini, kebijakan publik harus terbuka, izin usaha harus dapat diawasi publik, dan pengambilan keputusan tidak boleh berlangsung di ruang gelap antara elite politik dan pemilik modal. Transparansi menjadi pondasi kepercayaan, dan keadilan ekologis menjadi prinsip dasar agar beban risiko tidak lagi dipikul oleh masyarakat kecil.

Pembangunan yang beradab bukanlah pembangunan yang paling cepat mengekstraksi sumber daya, melainkan yang paling mampu menjaga keberlanjutan kehidupan. Ia tidak tergoda oleh keuntungan instan yang meninggalkan luka panjang. Ia memahami bahwa pertumbuhan sejati bukan tentang seberapa cepat alam dapat dikuras, tetapi seberapa lama kehidupan bisa dipertahankan.

Inilah perbedaan mendasar dua jalan: yang satu menjanjikan laba cepat namun menyimpan kehancuran yang juga cepat, yang lain tampak lebih lambat, tetapi membangun peradaban yang tahan lama.

Bencana sebagai Cermin Moral

Apabila sebuah negeri terus-menerus mengabaikan peringatan—baik yang datang dari alam, ilmu pengetahuan, maupun suara nurani—maka kehancuran tidak lagi berada di wilayah kemungkinan, melainkan bergerak menuju kepastian. Al-Qur’an tidak menyalahkan hujan, angin, atau tanah; yang dipersoalkan adalah ketika manusia melampaui batas dalam mengelola amanah bumi.

Namun, jalan kembali selalu tersedia. Kerusakan ekologis bukanlah takdir yang tak bisa diubah, melainkan hasil kebijakan yang bisa diperbaiki, arah pembangunan yang bisa diluruskan, dan cara berpikir yang bisa diperbaharui. Solusinya bukan sekadar slogan, melainkan keberanian kolektif untuk mengubah orientasi: dari eksploitasi menuju keberlanjutan, dari kerakusan menuju keseimbangan, dari kekuasaan yang menutup telinga menuju kepemimpinan yang mendengar.

Bencana ekologis pada akhirnya bukan semata-mata tentang derasnya hujan atau besarnya gelombang, melainkan tentang kualitas kebijaksanaan kita sebagai bangsa. Jika cara berpikir kita berubah, cara kita membangun pun akan berubah. Dan di sanalah harapan lahir kembali: bukan dalam menantang alam, tetapi dalam berdamai dengannya dan memeliharanya sebagai rumah bersama.

Karena masa depan tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang kita keruk dari bumi, tetapi oleh seberapa bijak kita menjaganya.

Muhammad Adam
Muhammad Adam

Guru kecil di pojok peradaban

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *