
Indonesia beranak kandung hujan. Kadang dirindukan, juga disumpah serapahi ketika ia membuat ulah. Misal, ketika hujan membawa air berlebih hingga jadi becek, membawa hama, dan bahkan terjadi banjir bandang. Hujan bisa jadi penghambat pertumbuhan ekonomi. Manusia selalu benar, begitu aturan mainya di dunia yang berfaham antroposentrisme.
Terang sudah, hujan tidak pernah meninggalkan Indonesia sejak dulu. Tetapi, kita tidak pernah bosan mengulangi hujan sebagai pembawa masalah. Kita selalu diribetkan dengan banjir di musim hujan.
Maka, hujan sudah pasti akan kerasan tinggal di Indoneisa. Hujan dengan sengkarut pengelolaan ruang juga demikina. Ia pun hadir di kota-kota seluruh Indoneisa. Menjadi sesuatu yang dipikirkan, tapi, hanya setiap kali datang.
Kedatangannya, menunjukkan bahwa kita tidak preventif melainkan reaktif. Kita begitu parsial dan senang mengulang-ngulang kesalahana; kesalahan cara pandang, cara fikir, cara kelola dan cara tindak yang lainnya.
Mempersilahkan Hujan
Kita sudah selayaknya mempersilahkan dan menerima sesuatu yang dihasilkan oleh hujan. Menjadikan hujan sebagai sesuatu yang dihindari adalah menolah fitrah kebudayaan, menolak diri sebagai orang Indonesia. Itu sama hal-nya mengusir dari rumah sendiri.
Maka, biarkan saja semua berperistiwa dan berbicara hujan lalu mengambil banyak darinya. Kenangan, kesan, pesan dan pengetahuan.
Sebelum bicara, memetik dan mengambil sesuatu darinya. Pembuat kebijakan dan pelaksana kebijakan bahkan kita agaknya perlu membaca ulang hujan. Hujan di beranda kantor dan rumah, sawah, ladang dan hutan. Hujan di buku, koran, majalah dan media daring.
Pembaca hujan di banyak tempat, hujan yang dibaca tentu akan mendorong kontemplasi dan memantik timbulnya kesadaran, kita adalah apa dan bisa apa tanpa hujan, dan sebuah rumusan senantiasa membersamainya.
Kita diberi informasi dan pernah menerinya. Perihal suku laut bajo mengelola laut, membuat rumah, mencari makan atau memenuhi kebutuhan sehari-hari, menjalin komunikasi sosial, merumuskan pembagian tugas, meletakan nilai dasar dan aturan main bersama dan membuat kebudayaan lautan.
Sebuah nilai dan aktivitas yang berimbang, sustain dan tidak ada yang dilemahkan bahkan dirugikan. Kita juga tentu pernah mendegar nyanyian panjang suku petalangan, berisi asal mula, nilai aturan, sikap dan perilaku terhadap tempat tinggal dan hutan.
Ada banyak petunjuk bagaimana mengelola sesuatu yang bersesuaian dengan ruang tempat tinggal kita. Pun dengan hujan. Membersamai hujan tidak mustahil melahirkan pandangan, sikap, aturan dan cara tidak yang tepat dan bijak.
Sebab, hujan sebagai sesuatu yang melekat dan mengeratkan komunikasi dengannya adalah langkah pertama. Kita berperistiwa dengannya dan menghasilkan kenang-kenangan yang menonjok kesadaran purba di tiap tetes ataupun rintik-rintiknya.
Hujan, Ibu dan Puisi
Hujan selain terkadang problematis juga sesuatu yang romantis, sederhana dan lekat dengan permenungan bernas.
Kita jamak dengan Hujan Bulan Juni-nya Sapardi Djoko Damono yang selalu ingin dibaca, dibagi, disebar ke diri sendiri, suadara, kawan ataupun kekasih.
Hujan dipinjam untuk menunjukkan sebuah ke(ada)an cinta yang tidak neko-neko, tidak rumit, tegar, tanpa pamrih dan penyerahan diri secara utuh. Begitulah cinta seharunya, hanya buka jika hanya.
Ada juga Joko Pinurbo puisi yang berjudul “Ibu dan Hujan”. Puisi mengajak merenung, sebuah peristiwa saling mencari dan merindu, sebuah teka-teki dan keberulangan pencarian dalam hidup.
Mari kita baca pusinya: //Ibu hujan dan anak-anak hujan // berkeliaran mencari ayah hujan // di perkampungan puisi hujan // menggigil sndirian di pohon hujan // anak-anak hujan bersorak girang // menemukan ayah hujan // di semak-semak hujan // ayah hujan mengaduh kesakitan // tertima tiga kilogram hujan // anak-anak hujan dan ayah hujan beramai-ramai menemui ibu hujan // tapi ibu hujan sudaj tidak ada // di bawah pohon hujan // kita tak akan menemukan ibu hujan disini // ibu huja sudah berada di luar hujan //
Tertimpa tiga kilogram hujan tidak lain adalah peristiwa pencarian manusia pada kehidupan ragawi secara berlebihan, menyakiti dirinya dan membuat kehilangan pada sesuatu yang disayangi.
Proses terus menerus mecnari mebawa pada muara peristiwa yakni perpindahan dari satu ruang ke ruang lain. Sebagaimana penggalan sajak terakhir di atas, ibu hujan sudah berada di luar hujan.
Melagukan Hujan
Hujan tidak hanya berpuisi. Ia juga berlagu. Lagu kita dengar dan nyanyikan sewaktu kecil berjudul “Tik tik tik Bunyi Hujan” karangan Ibu Soed atau Saridjah Niung. Lagu memperkenalkan hujan dengan riang gembira dan ramah.
Hujan butuh pohon dan kebun untuk disinggahi sebelum akhirnya masuk ke tanah selain itu ia adalah peristiwa berkeluarga, berkumpul didalam rumah berbagi kehangatan anak, ibu dan bapak. Dan hujan memang perlu selokan, itik perlu hujan agar bisa bermain-main. Hujan membagi kebahagian buat semua, manusia, flora dan fauna bukan sepihak untuk manusia.
Mari bernyanyi: Tik tik tik Bunyi hujan di atas genting/ airnya turun tidak terkira/ cobalah tengok daun dan ranting/ pohon dan kebun basah semua/tik tik Bunyi hujan bagai bernyanyi/saya dengarkan tidaklah jemu/kebun dan jalan semua sunyi/tidak seorang berani lalu/tik tik tik hujan turun dalam selokan/ tempatnya itik berenang – renang/bersenda gurau menyelam-nyelam/ karena hujan berenang-renang/.
Kita pasti masih ingat walau tinggal ditengah kepungan beton. Sewaktu-waktu kita mencuri-curi sempat demi untuk melagukan kembali. Walau tanpa pernah kita berkeinginan kembali mengubah prasangka kita tentang hujan dan konsep pembangunan yang menyertainya.
Hujan di lagu lama sudah kita ingat dan resapi ditengah hujan bersama masa kecil. Kini hujan perlu dilagukan di masa dewasa. Tentu dengan peresapan di sisi yang lain, menjalani, melebur dan tidak memperkenalkan saja. Sebagaimana lagu Desember-nya Efek Rumah Kaca. Hujan dengan awan hitamnya yang dirundung duka dan air mata. Mengharap ada yang datang mengurangi kegelapan, kesedihan.
Sebab hidup adalah perihal bernyanyi dan berelegi secara seimbang. Timpang salah satunya, akan datang masa untuk menyeimbangkan kembali. Hujan bakal menyejukannya. Mari simak penggalan lagunya: Sampai nanti ketika hujan tak lagi/meneteskan duka/ meretas luka/ sampai hujan memulihkan luka. Menghadirkan hujan yang demikian itu adalah tugas manusia.



