Memasjidkan Masjid

Buku Bermasjid
Sumber Pribadi

Alam pada dasarnya adalah ruang persujudan yang luas. Di sanalah manusia menundukkan diri dan menyadari keberadaannya di hadapan Sang Pencipta. Setiap agama tentu memiliki tempat khusus untuk bersujud—tempat yang disakralkan, dijaga kesuciannya, dan dijadikan pusat spiritualitas umatnya. Demikian pula dalam Islam, masjid hadir bukan sekadar sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai simbol kesucian dan pengingat akan hubungan manusia dengan Tuhannya.

Kehadiran masjid dalam sejarah Islam tidak muncul seketika. Ia lahir dari proses panjang setelah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira. Dari masa ke masa, masjid bukan hanya menjadi ruang ibadah dan persujudan, melainkan juga berkembang menjadi pusat kebudayaan, pendidikan, dan peradaban umat Islam. Di sanalah denyut kehidupan sosial dan intelektual umat berdenyut, menghidupi setiap langkah perjuangan umat Islam di masa awal.

Banyak karya tulis telah mencoba merekam peranan penting masjid ini, salah satunya melalui tulisan M. Taufik Kustiawan. Melalui sejumlah tulisannya yang tersebar di berbagai media cetak, ia mengajak kita kembali menengok sejarah, untuk menyadari betapa besar kontribusi masjid dalam membangun kehidupan umat Islam. Masjid bukan semata simbol kekuasaan atau kejayaan politik, melainkan juga ruang bagi para ulama, cendekiawan, dan santri untuk menumbuhkan nilai-nilai keilmuan dan spiritualitas.

Masjid Masa Rasulullah

Pada masa Rasulullah, masjid berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat. Di sanalah umat Islam berembuk, berijtihad, mendalami agama, dan menyelesaikan permasalahan sosial. Masjid menjadi ruang tempat akal dan hati bersua, tempat iman berjumpa dengan nalar. Seperti yang diungkapkan oleh Drs. Gazalba, “Masjid adalah pusat kehidupan pikiran dan perasaan Islam sekaligus tempat manifestasi dari keduanya.” Artinya, masjid tidak hanya menjadi ruang ritual keagamaan, tetapi juga wadah intelektual tempat lahirnya gagasan dan strategi kemanusiaan.

Hubungan antara kemajuan dunia Islam dan keberadaan masjid begitu erat. Setiap kali para khalifah menaklukkan wilayah baru, langkah pertama yang mereka ambil adalah membangun masjid. Dari masjid itulah mereka menebarkan ajaran Islam, membangun peradaban, dan mengajak masyarakat lokal mengenal ilmu pengetahuan serta kebudayaan Islam. Masjid menjadi pusat peradaban yang menggabungkan nilai spiritual, sosial, dan intelektual.

Namun, kejayaan itu kini seolah tinggal cerita. Banyak umat Islam hari ini hadir di masjid bukan untuk berdiskusi tentang masalah sosial atau memperkuat ukhuwah, melainkan hanya untuk menjalankan ibadah ritual. Bahkan, ada yang menjadikan masjid sebagai ruang eksklusif, tertutup bagi sebagian umat lain. Pemberitaan di media sering menampilkan wajah muram masjid-masjid yang menolak jamaah dengan alasan keamanan, menggembok pagar, atau membatasi ruang silaturahmi. Ironisnya, tindakan itu justru lahir dari hati dan pikiran sesama umat Islam sendiri.

Di sisi lain, semangat membangun masjid megah kini semakin marak. Umat berlomba-lomba mendirikan masjid dengan arsitektur gemerlap, kubah berkilau, menara tinggi, dan pencahayaan warna-warni.

Nilai estetika lebih menonjol ketimbang makna hakikatnya. Keindahan fisik sering kali menenggelamkan fungsi dasar masjid sebagai ruang mengasah akal dan menghidupkan ruh keilmuan. Masjid besar berdiri megah di banyak tempat, namun kerap kehilangan nyawa sebagai pusat gerakan intelektual dan sosial umat.

Dalam konteks pendidikan tinggi, masjid seharusnya berperan lebih besar. Di setiap universitas, baik negeri maupun Islam, masjid dibangun sebagai fasilitas spiritual mahasiswa. Namun sejarah mencatat, pada era 1960–1980-an, masjid kampus lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia menjadi pusat diskusi, ruang lahirnya gagasan, dan medan dialektika antara iman dan ilmu. Mahasiswa memanfaatkan masjid untuk membaca, menulis, berdiskusi, dan berdebat sehat dalam suasana yang penuh nilai keislaman.

Kini, fungsi itu perlahan pudar. Masjid kampus yang seharusnya menjadi pusat intelektual justru berubah menjadi ruang singgah semata. Tak jarang kita melihat mahasiswa menjadikannya tempat tidur sementara, tempat nongkrong “syar’i”, atau bahkan arena bergosip dengan balutan kesalehan. Kajian ilmiah dan diskusi keilmuan yang dulu hidup kini jarang ditemukan. Banyak mahasiswa lebih memilih kafe dan ruang ber-wifi untuk bertukar pikiran, sementara masjid perlahan kehilangan peran edukatifnya.

Fenomena ini menyiratkan adanya pergeseran makna. Masjid yang dahulu melahirkan para intelektual dan pembaharu kini hanya menjadi tempat ibadah yang sunyi dari percakapan ilmu. Semangat yang dulu menyala kini meredup, tergantikan oleh kenyamanan individual. Masjid tidak lagi menjadi ruang hidup bagi ide-ide besar, melainkan tempat melarikan diri dari hiruk-pikuk dunia kampus.

Padahal, bila kita mau menengok sejarah, masjid selalu menjadi ruang lahirnya perubahan. Dari sanalah Islam tumbuh menjadi peradaban agung yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.

Maka, sudah saatnya kita kembali menghidupkan semangat itu — menjadikan masjid, termasuk masjid kampus, sebagai pusat pembentukan intelektual Muslim yang berwawasan luas, berakhlak luhur, dan peka terhadap realitas sosial.

Kini tugas kita bukan sekadar memakmurkan masjid dengan jamaah, melainkan menghidupkannya dengan ilmu. Masjid seharusnya kembali bergema dengan bacaan, diskusi, dan kajian; menjadi ruang lahirnya gagasan dan peradaban. Karena di sanalah sejatinya letak kemuliaan masjid — bukan pada megahnya bangunan, melainkan pada hidupnya akal dan nurani di dalamnya.

Judul : Berbuku dan Bermasjid

Penulis : M. Taufik Kustiawan

Penerbit : Bilik Literasi, Cet. Ke-2, 2018.

Tebal : 81 Hal

ISBN : 978-602-52506-7-5

Dadang Wiratama
Dadang Wiratama

Lurah Cedak.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *