Lamongan Cuma Dikenal Karena Kulinernya, Tapi Nggak Banyak yang tahu di Mana Lokasinya Berada

Sumber telusur.id

Saya sering melihat kebingungan orang-orang ketika mendengar Lamongan. Mereka agak susah menemukan di mana letaknya. Mereka kesusahan untuk tahu Lamongan ini bagaimana. Sebab, di mata banyak orang, hanya soto dan pecel lele saja yang identik dengan Lamongan.

Memang perlu diakui bahwa kedua makanan tersebut memang cukup kaffah tingkat brandingnya. Tak hanya di kota asalnya saja, melainkan sampai ke pelosok-pelosok desa. Iya, Warung soto Lamongan ada di mana-mana, pecel lele Lamongan juga begitu. Saya cukup mensyukuri itu.

Namun, kalau dipikirkan lagi, setelah makanannya, orang-orang tak pernah peduli tentang Lamongan, apalagi ingin mengunjunginya. Bahkan beberapa tahun lalu sempat viral ada orang yang salah mengira kalau Lamongan itu sejenis makanan. Sebab, Soto Lamongan disamakan dengan soto ayam.

Saya Selalu Bangga Menjadi Warga Lamongan

Sebagai orang lahir, besar, dan tumbuh di Lamongan, saya selalu bangga bercerita banyak hal soal Lamongan. Mulai dari asal-usul nama, cerita orang Lamongan tak boleh makan lele, sampai hal-hal lain seputar wisata dan potensi daerah.

Hanya saja, perlu diakui juga bahwa seolah-olah Lamongan hanya eksis sebagai merek kuliner, bukan sebagai kota atau kabupaten yang hidup dan berkembang. Padahal, Lamongan bukan daerah kecil yang bisa diremehkan. Wilayahnya luas, penduduknya banyak, kontribusinya ke sektor pertanian, perikanan, dan tenaga kerja juga besar.

Tapi soal citra kota, Lamongan bahkan tak pernah dilirik. Atau sekadar dicari tahu bagaimana perkembangannya. Bahkan tak banyak yang sadar kalau UMP daerah satu ini lebih tinggi ketimbang daerah istimewa yang alun-alunnya dipagari itu.

Pecel Lele dan Soto Tidak Salah, Pemerintah Daerahnya yang Bermasalah

Jika ingin jujur, masalah utamanya bukan pada makanannya. Soto dan pecel lele tidak salah apa-apa. Justru masalahnya ada pada minimnya narasi tentang kotanya sendiri.

Lamongan jarang dibicarakan sebagai ruang hidup: tempat nongkrong anak muda, ruang publik, pusat hiburan, atau bahkan sekadar kota yang enak buat ditinggali. Aktivitas warganya banyak, tapi jarang terangkat jadi cerita yang membuat orang luar penasaran.

Akibatnya, Lamongan sering jadi daerah yang “ditinggali tapi ditinggalkan”. Banyak anak mudanya tumbuh, sekolah, lalu pergi. Cari hiburan ke kota lain, kerja ke daerah lain, bahkan menetap dan membangun mimpi di luar Lamongan. Kota ini seperti jadi tempat transit kehidupan: lahir di sini, besar di sini, tapi masa depan dibayangkan di tempat lain.

Bukan berarti Lamongan tidak punya potensi. Justru sebaliknya, potensinya terlalu besar untuk terus disederhanakan menjadi sebuah lalapan, opsi sarapan, dan seputar menu makan malam saja.

Proker yang Masih Seputar Bare Minimum

Saya paham, kalian paham, bahkan tukang parkir juga paham kalau potensi daerah tanpa arah dan visi yang jelas hanya akan menjadi bunga tidur saja. Iya, selama janji kampanye masih seputar perbaikan jalan dan penanggulangan banjir, saya kira ke depan ruang publik akan masih minim, fasilitas hiburan terbatas, dan Lamongan tidak akan pernah menawarkan pengalaman hidup yang menarik, alhasil ia akan terus kalah pamor, bahkan oleh bayangannya sendiri.

Dan yang membuat agak ironis adalah seakan pemerintah daerahnya tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Pokoknya tidak terjerat korupsi. Pokoknya blusukan dan kasih sembako. Sudah. Begitu saja sampai masa jabatan dua periode selesai.

Ironisnya, Warganya Pergi, Namanya yang Tinggal

Orang Lamongan dikenal sebagai perantau ulung. Mereka menyebar ke mana-mana, dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia, bahkan ke luar negeri. Dan yang mereka bawa serta ke perantauan, tanpa disadari, adalah warung. Soto Lamongan buka di Medan, pecel lele Lamongan mangkal di Makassar, dan orang-orang di sana pun hafal nama itu. Tapi yang hafal nama kotanya? Itu cerita lain.

Inilah ironi yang paling mencolok dari Lamongan: orangnya pergi membangun kehidupan di kota lain, namanya yang tinggal, dan itupun hanya dalam konteks menu makan siang. Sementara kota asalnya sendiri tidak ikut terbawa dalam narasi itu. Lamongan hadir di mana-mana sebagai rasa, tapi tidak pernah benar-benar hadir sebagai tempat yang ingin dikenal, dikunjungi, atau dibicarakan lebih jauh. Orang Lamongan membangun kota orang lain. Kotanya sendiri jalan di tempat.

Yah, sebagai warga lokal, saya sering sekali menulis soal Lamongan. Sebab, dalam hati kecil, saya selalu berharap Lamongan bisa lebih dikenal dan lebih populer ketimbang kedua soto dan pecel lelenya. Sebab, jika sebuah daerah lebih dikenal karena makanannya ketimbang daerah asalnya sendiri, maka itu pertanda ada yang perlu dibenahi. Setidaknya ini menurut keyakinan saya.

Afiqul Adib
Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik. Introvet yang baik. Sedang tinggal di Lamongan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *