
Lebih dari 10 tahun, Silampukau akhirnya merilis album keduanya. Menariknya dengan format baru. Orkestra dan dengan tambahan personil. Album kedua ini bertajuk “Stambul Arkipelagia” yang dirilis secara bertahap dalam 3 volume. Beberapa waktu lalu telah rilis vol. 2.
Silampukau merupakan grup musik folk asal Surabaya. Pada album pertamanya, mereka mengusung isu-isu lokal Surabaya yang dikemas dengan lirik yang rapat dengan metafora. Sebuah lagu berjudul “Si Pelanggan” bahkan mencongkel sebagian larik puisi karya penyair Indra Tjahyadi berjudul “Belanja Baju”.
Kharis Junandaru, vokalis Silampukau merupakan alumnus Universitas Airlangga dan Indra Tjahyadi merupakan seniornya di kampus. Kedekatan ini nampaknya berpengaruh pada intertekstualitas tersebut. Lagu “Si Pelanggan” sendiri merupakan sebuah lagu yang memotret lokalisasi Gang Dolly.
Sebuah lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara, yang kemudian dibubarkan beberapa tahun yang lalu. Lokal, namun tepat sasaran.
Kemacetan di Jalan Ahmad Yani
Lagu-lagu pada album “Dosa, Kota, dan Kenangan” kebanyakan memang memotret isu lokal di Surabaya. Seperti kemacetan di jalan Ahmad Yani ketika magrib pada lagu “Malam Jatuh di Surabaya”, dan “Si Pelanggan” itu tadi.
Beberapa lagu memiliki isu yang universal tetapi masih bersinggungan juga dengan Surabaya. Seperti lagu “Puan Kelana” yang masih menyebut “Juanda” sebagai bandara keberangkatan, lagu “Sang Juragan” yang juga memaparkan peta Surabaya dengan samar-samar lewat lokasi jualan miras.
Lagu “Malam Jatuh di Surabaya” bagi saya terasa memiliki denyut yang kuat. Magrib atau senja sebagai waktu perbatasan antara siang dan malam memiliki ketegangan supranatural dan psikis yang khusus; dunia ambang. Perbatasan waktu itu mewujud pada antrian kemacetan yang begitu panjang di jalan Ahmad Yani “yang beringas”.
Berbeda dengan jalan Ahmad Yani pada novel “Rafilus” karya Budi Darma yang digambarkan sebagai jalan di mana kendaraan tak bisa berhenti, sebab semua kendaraan berkecepatan tinggi sehingga sulit untuk menyebranginya.
Ada satu lagu di album ini yang agak berbeda. Baik dari beat maupun temanya. Lagu tersebut berjudul “Doa 1”. Secara garis besar lagu ini berkisah tentang kegagalan menjadi musisi terkenal yang nongol di TV setiap hari. Liriknya disajikan dengan nyinyir. Tapi justru di situlah kekuatannya. Bahkan Silampukau memakai lirik “Ah …” yang jika liriknya dibedah, dicincang-cincang memang merujuk pada “Ahmad Dhani”. Cukup frontal tapi seolah disajikan sambil tertawa cekikikan.
Silampukau dan Dari kota yang Nyata
Berbeda dengan album “Dosa, Kota, dan Kenangan”, album keduanya “Stambul Arkipelagia” merupakan album yang unik sebab memiliki dunianya sendiri. Tidak berpijak pada realitas melainkan dunia fiktif yang benar-benar dibuat dari awal. Apa yang kita lihat dan dengar seolah-olah Nusantara di masa lampau, atau Surabaya era kolonial, atau campur-baur yang kabur.
Hal itu bisa terjadi sebab Arkipelagia memang bukanlah Nusantara, apalagi Indonesia. Arkipelagia seperti Macondo dalam novel “Seratus Tahun Kesunyian” karya Gabriel Garcia Marquez, atau Halimunda dalam novel “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan. Ia berdiri sendiri dan membangun dirinya sendiri.
Awalnya saya mengira gagasan Silampukau untuk menyajikan “Arkipelagia” sebagai geografis fiktif sekadar untuk kabur dari delik ketika melancarkan kritik. Semacam menyebut “Konoha” sebagai kata ganti sebuah negara. Ternyata saya keliru. Arkipelagia lebih dari itu, dan Silampukau tak terlihat seperti mengejar-ngejar rezim otoriter dan lalim.
Album ini melampauinya dengan kesamarannya, dengan kabut lampaunya, membuat kata-kata dan penderitaan memiliki gema yang panjang. Lebih panjang dari periode jabatan kepresidenan. Bahkan lebih panjang dari umur suatu negara. Sebab isu-isunya memang universal dan timeless.
Dari kota yang nyata, menjadi negara-bangsa yang samar-samar. Penantian para penggemar selama lebih dari 10 tahun saya pikir tak sia-sia, sebab Silampukau memberikan hal yang benar-benar baru. Baru untuk grup musik mereka sendiri, dan juga baru untuk indusri musik Indonesia secara umum.
Cerita itu Tetap Memiliki Benang Merahnya
Kebaruan itu bisa dilihat dari konsep album kedua yang mirip dengan kumpulan cerpen. Tematik namun memiliki cerita masing-masing untuk tokoh masing-masing. Kesemua cerita itu tetap memiliki benang merahnya pada Arkipelagia sebagai latar geografisnya.
Lagu “Sejoli” yang mengisahkan percintaan liar dan hitam, “Paceklik Blues”, “In Memoriam”, runyam dan diikat oleh “Jurang Kemiskinan”. Tajam dan menggilas. Alih-alih terlihat sebagai kritik, album ini lebih terlihat seperti tangisan dan teriakan.
Pada volume 2, terdapat juga lagu yang menggunakan judul blues, “Blues Bunga Api”. Selain itu Silampukau juga menggunakan angka-angka pada lagu dan albumnya seolah bakal ada sekuelnya. Lagu “Doa 1” misalnya, apakah akan ada “Doa 2”? Tak semua kuping lantas suka dengan lagu-lagu Silampukau.
Jika menganalogikan lagu-lagu Silampukau sebagai buku sastra, maka posisinya seperti buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer; wajib dikoleksi. Pendekatan sastrawi dalam menggarap lagu maupun albumnya ini menjadi ciri khas tersendiri untuk Silampukau.



