Musik dalam Laut

Laut Bercerita
Sumber laksmimutiara.com

Kisah penculikan di Indonesia dulu tak terbendung. Peristiwa ini menghantui mereka yang mencita-citakan demokrasi. Berbagai cara mengusik kenyamanan penguasa coba dilakukan. Namun, selalu berujung gagal. Situasi politik tersebut berhasil banyak memikat berbagai lapisan masyarakat untuk dikenang.

Buku garapan Leila S. Chudori berjudul “Laut Bercerita” terbitan KPG dapat mewakili melihat pengkisahan pergerakan mahasiswa melawan pemerintahan Orde Baru. Para aktivis banyak yang dihilangkan dan tentu meninggalkan kesedihan mendalam. Berbagai pelipur lara, keluarga Laut memilih lagu-lagu untuk sekedar menentramkan kepiluan jiwa.

Kehadiran musik, dapat memberikan kekuatan secara psikis. Buku karya Djohan berjudul “Psikologi Musik” (2005) mencoba menyumbang definisi bahwa seni dapat membantu menemukan “siapa kita’ dan “apa potensi kita”. Musik dapat menggerakkan pendengar, ia berhasil mejadi juru selamat untuk memperkenalkan diri dan menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Selian itu, musik dapat memberi petunjuk keluar dari keterpurukan.

Musik perlawanan selalu dinyanyikan saat melakukan aksi demonstrasi. Coba saya nukilkan sepenggal lirik lagu, Darah Juang; Mereka dirampas haknya// tergusur dan lapar// bunda, relakan darah juang kami//membebaskan rakyat// padamu kami berjanji//. Lagu yang sopan. Sebelum berjuang dan melawan, ia tidak melupakan kasih seorang bunda untuk meminta do’a dan keselamatan dalam memperjuangkan rakyat yang tertindas, miskin dan lapar.

Sudah berbulan-bulan tidak mendapat kabar kepastian keberadaan anak. Organisasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mewadahi aspirasi meraka yang tiada mendapat keadilan. Pendirian organisasi sedikit mengancam aparatur atas tindakan yang pernah dilakukan kepada para aktivis. Setiap malam kamis, diiringi musik dan teriakan di depan Gedung DPRD menyuarakan penuntutan untuk segera dikembalikan dan dipenjarakan orang-orang yang bersalah.

Sempat hadir aktivis perempuan di Argentina dan Chile datang ke Indonesia. Mereka bersimpati atas perjuangan yang mereka inginkan untuk mengembalikan dan menuntut memberikan hukuman. Sebab inilah solidaritas mereka buktikan hingga datang ke Indonesia dan bergabung dalam aksi.

Dari puluhan aktivis yang dapat kembali hanya 8 orang. Sisanya masih dalam pencarian. Berbagai Kerjasama dilakukan dengan para pakar dan beberapa kawan yang berhasil kembali, agar dapat diketemukan jasadnya. Sisa aktivis yang tidak dapat kembali salah satunya Biru Laut. Seseorang yang tidak banyak bicara, cerdas, dan sangat idealis.

Laut, Meninggalkan kenangan, kesedihan dalam keluarga. Lirik lagu Blackbird dari The Beatles : Blackbird singging in the dead of nitgh // take these broken wings and learn to flay//..(hlm. 33).  “All your life/ you were only waiting for the moment to arise//(hal. 34).  Lirik lagu ini sering diputar dengan harap dapat mengganti kehadiran Laut.

Selain itu, musik tidak pernah absen menemani saat mereka sedang makan tengkleng bersama dihari minggu. Sebuah ritual dalam keluarga Asmara dan Laut Biru. Bermaksud pula untuk menggembirakan kesedihan. Lagu itu juga berulang kali dibunyikan, saat sedang berada dikamar membersihkan debu-debu yang menempel pada buku, kasur, dan menyapu kamar.

Sungguh, lagu seakan terdapat memanggil Biru dan menjemakan wijud dia saat mendengar. Berharap seketika Laut hadir menyentuh dan duduk disampingnya. Kemudian lagu yang tidak kalah menarik gubahan Joan baez, “here’s to you, Nicola and bart/ rest forever here in our heart/the last and final moment is yours/ that agonys your triumph” (hal. 290). Musik yang girang seakan menghapuskan kesedihan yang selama ini dirasakan.

Alex dan Anjani saat sedang berkunjung, secara bersamaan akan berjoget bersama seperti berkunjung ke club malam dengan lampu-lampu kermelip. Beban-beban copot sedikit-demi sekidikt dengan sendirinya.

Asmara jati, adik yang kini sudah dewasa dan dapat berfikir cerdas. Ia bertanggung jawab penuh dalam pencarian kakaknya, ia pula yang meredakan kesakitan jiwa Anjani dan kedua orang tua.  Lagu yang selalu diingatnya adalah “in the wind we heart their laugter/ in the rain we see their tears/ hear their heartbeat/ we hear their hearth// (hal.341). Lagu itu menyimpan kenangan dalam pada diri Asmara, keterpisahan begitu membekas olehnya. Terasa meraka seperti angin, air,udara. Kehadiran memebrikan kehiduan yang penuh dan komplit.

Asmara Jati yang dulu tidak begitu menyukai soal perjuangan. Ia menganggap bahwa kegiatan itu berbahaya dan tidak menghasilkan. Kejadian telah membalikkan pikiran Asmara, setiap hari hampir kesibukannya dihabiskan mengurusi kasus penghilangan para aktivis. Buku-buku yang terdapat dalam rak kamar Laut, sering dibacanya, untuk menambah wawasannya.

Judul : Laut Bercerita

Penulis : Leila S Chudori

Terbitan : KPG, Cet. ke-2, 2017

Tebal : 379 Hal

ISBN : 978-602-424-694-5

Dadang Wiratama
Dadang Wiratama

Lurah Cedak.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *