
Era modern selain menghadirkan kemegahan juga melahirkan kecemasan. Percepatan teknologi, tuntutan sosial dan derasnya arus informasi membuat manusia mudah kehilangan arah. Dari kalangan ilmuwan psikologi ada yang sudah membaca dan memprediksi, bagaiamana fenomena itu terjadi.
Manusia modern adalah individu yang bebas, kebebasan menghadirkan beban baru yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya. Beban itu berupa depresi, bernout (kelelahan) dan kehampaan.
Fenomena itu berhasil dirumuskan dalam karya Rollo May berjudul “Manusia Mencari Dirinya” (2020), Rollo coba mengidentifikasi kondisi manusia abad ke 20 yang dirundung kecemasan, kehampaan dan krisis identitas. Fakta ini diperoleh dari para kolega psikoanalis berdasarkan keluhan pasien selama kurun waktu tertentu.
Kebanyakan mereka menjalani rutinitas kehidupan tanpa melibatkan kesadaran diri. Seperti yang dikatakan Rollo bahwa “saya hanyalah sekumpulan cermin yang memantulkan apa yang orang lain harapkan” (Hal. 16). Disinilah awal ceruk hidup ketidakstabilan dan bergantung pada pandangan orang lain.
Sehingga lama-kelamaan akan kehilangan dan berakibat pada munculnya krisis identitas diri. Sebab, selalu tidak menghiraukan suara hati.
Manusia Modern Krisis Indentitas
Manusia modern hidup di tengah keramaian dunia yang bergerak serba cepat. Ditambah pula keinginan menjalani hidup serba instan. Namun, mereka tidak menyadari di balik semua itu, sehingga banyak dari mereka binggung tentang siapa dirinya sebenarnya. Inilah yang kemudian dapat disebut sebagai krisis identitas manusia modern.
Krisis identitas muncul ketika manusia tidak lagi memiliki pegangan yang jelas. Tentang nilai, tujuan dan makna hidup. Hal ini dikarenakan dalam menjalani hidup didasarkan pada pandangan orang lain; keluarga, lingkungan, bahkan algoritma media sosial. Akibatnya, hidup terasa penuh, tetapi kosong.
Manusia modern dituntut produktif, bahagia, dan sukses setiap saat. Namun, saat semua itu tidak menemui hasil, maka akan muncul rasa cemas, minder dan bahkan sampai kehilangan arah. Sebab, kegagalan tidak lagi dimaknai sebagai proses, melainkan harga diri.
Dalam pandangan psikologi eksistensial, melalui Rollo May, krisis identitas sebenarnya adalah tanda bahwa manusia sedang mencari makna. Rasa gelisah dan tidak puas bukan sesuatu yang sepenuhnya negatif, melainkan ada kebutuhan batin yang belum terpenuhi.
Sehingga, manusia harus memiliki keberanian untuk berhenti sejenak dan berdialog dengan diri sendiri. Dengan tujuan, mengenali diri sendiri, menerima keterbatasan dan memilih hidup secara sadar.
Kesadaran dan Pencarian Makna Hidup
Kesadaran menjadi pintu awal bagi manusia untuk memahami dirinya sendiri. Seseorang harus memulai menyadari bahwa hidup tidak sekedar berjalan dari rutinitas, tetapi memiliki arah dan tujuan.
Pencarian makna hidup menjadi sangat relevan yang bisa dimulai dari pengalaman hidup sehari-hari, baik yang menyenangkan maupun menyakitkan. Dari sanalah manusia dapat belajar bahwa makna hidup tidak selalu datang dari hal yang besar.
Sejalan dengan buku yang ditulis oleh Viktor Frankl “Man’s Search for Meaning” (2023) yang ditulis berdasar kisah nyata dirinya. Bagi Frankl pencarian makna hidup bukan sesuatu yang diberikan oleh dunia, tapi sesuatu yang harus ditemukan secara personal oleh setiap individu, bahkan melalui rasa sakit, kehilangan, dan keterbatasan.
Proses ini, bisa membantu seseorang mengenali nilai-nilai yang dianggap penting, dan menyingkirkan hal-hal yang kurang begitu membantu memberi makna. Sebab, setiap manusia memiliki jalan masing-masing.
Pada akhirnya, kesadara dan pencarian makna hidup adalah proses yang terus berlangsung. Deangan kesadaran yang terus diasah, manusia dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, damai, dan tidak mudah kehilangan arah.
Judul : Manusia Mencari Dirinya
Penulis : Rollo May
Terbitan : Basa Basi, 2020.
Tebal : 372 Hal.
ISBN : 978-602-5783-98-2




Relevan dengan apa yang terjadi hari-hari ini. Dan apa yang menjadi penutup esai ini, patut dicoba sebagai solusi kecemasan hari-hari ini.