Mahasiswa yang Mencandui Drama China Hingga Lupa Kesadaran

Sumber cnbcindonesia.com

Semenjak scroll konten jadi aktivitas yang paling produktif, kamar tidur adalah persembunyian paling nyaman. Apalagi ditambah mereka yang mencandui drama China (drachin), waktu mendadak kehilangan fungsi liniernya. Tugas bisa ditunda tanpa rasa bersalah, sebab yang mendesak justru nasib tokoh yang selama hidupnya bahkan tak pernah membelikan seblak atau kuota bagi penontonya.

Hampir setiap duduk di warung kopi: jeritan histeris, suara mendayu dan pujian mampir di telinga saya. Semuanya adalah mahasiswa yang sedang berkumpul, mungkin untuk menyelesaikan tugas. Namun, disela ada iklan yang tidak pernah absen, yakni perbincangan drama China.

Ada yang kagum menyoal fisik dna ada pula yang hanyut dengan ceritanya. Masing-masing menceritakan pengalaman dari penyelesaian tugas yang bernama tidak ingin terlambat. Memang sih, tidak dipungkiri, para pemeran dan alur cerita tidak diragukan menjerat rasa penasaran penonton.

Dan ending dari semua itu, memberantakkan jadwal yang sudah tertata. Meski begitu, kapok tidak kunjung menjadi guru, justru mengulanginya kembali. Memang, sensasi emosional terkadang menyesakkan, dan disisi lain candu. Untung tidak sampai sekarat.

Pemeran Drama China yang Mengekspektasi Mahasiswa

Pastinya, sosok-sosok dari negeri Tirai Bambu itu tampil nyaris tanpa cela: rambut tertata rapi, kulit bersih, dan hidup yang tampak selalu wangi. Hampir mustahil tak terpesona—hingga tanpa sadar, mahasiswa mulai berharap menemukan pasangan serupa di dunia nyata, lupa bahwa yang mereka kagumi adalah hasil kamera, naskah, dan pencahayaan, bukan paket cinta yang bisa diambil di kantin kampus.

Namun mereka lupa, jika peranakan Indonesia lebih dominan memiliki kulit sawo matang. Meski begitu, tak ayal mereka tetap ngotot bisa mendapatkannya. Saya mempunyai teman, Nuha, Namanya, dalam satu hari, atau akan melakukan aktivitas apapun lebih dulu melihat pemeran yang dikaguminya itu, alih-alih memberi semangat menjalani aktivitas keseharian.

Bukan uang, bukan hadiah, bukan kekayaan, tapi, ketampanan menghilangkan segalanya. Paradoks ini, menggeliat di setiap ekspektasi yang dirawat secara rapi dalam benak imajinasinya. Mahasiswa yang notabenya mereka sedang dalam masa eksistensial, tidak jarang memiliki ekspektasi begitu.

Wang An Yu, satu dari sekian banyak pemeran dalam drama China, yang memiliki fansbase (kelompok pendukung) melimpah ruah. Ia berhasil memainkan peran di beberapa drama China, misalnya; Twenty For Life your on (2020), Falling into you (2022), The last Immortal (2023), dll. Ia dianggap tak pernah gagal jika memainkan peran.

Beberapa Pelajaran yang Bisa Diambil Dari Drama China

Banyak juga yang menjadikan film drama China ini sebagai pembelajaran dalam finansial-ekonomi. Ada yang belajar motivasi. Kemudian tidak memandang rendah sesama manusia. Lalu, kegigihan dalam menggapai tujuan. drama China seakan mewujud sebagai panduan aktivitas sehari-hari.

Mahasiswa terkadang sampai bablas menirukan aktivitas pemeran yang digemarinya. Cara berpakaian. Cara berfikir dan bersikap. Ini berlaku bagi mereka yang hendak mencapai kesuksesan yang terdapat pada film drama China.

Bahkan soal cara mencari keuntungan pun drama China tampil meyakinkan: pasar modal, saham, dan grafik indeks digambarkan seolah tunduk pada kecerdikan tokohnya. Padahal pergerakan INDEKS tak pernah sesederhana dialog dramatis, sebab ia digerakkan oleh tarik-menarik politik, perang dagang, dan permainan pemodal besar—sesuatu yang tak bisa dikalahkan hanya dengan tatapan tajam dan satu keputusan heroik di menit terakhir.

Seperti Love is Sweet (2020) mengisahkan kisah kompetisi antar teman dalam meraup kemenagan investasi. Jiang Jun yang mendapat waris dari ayahnya, sedang Yuan Shui sebatang manusia tanpa kemewahan. Yang pada akhirnya dimenangkan oleh Yuan Shui. Kemenangan ini hasil dari kecerdasan dan logika yang cukup ciamik yang dimiliki Yuan Shui.

Drama China Bisa Menghilangkan Kesadaran Mahasiswa

Durasi yang tidak sebentar dan bahkan berepisode-episode. Sering satu-dua hari terkadang tak kunjung menuju akhir. Mahasiswa yang mencandui sering dikerangkeng dalam ikatan penasaran. Terkadang sampai mengelabui jika masih hidup di planet bumi yang sedang carut-marut politik lingkungan.

Bisa juga lupa kalau tulang masih dibalut daging. Penonton seolah mati rasa. Terlihat tenang, namun, sebenarnya tubuh meronta menghendaki asupan makanan dan olahraga. Yang terpenting tidak hilang kesadarang jika masih hidup.

Secara psikolgis memang ada beberapa kondisi yang berhasil menyadap kesadaran jika sedang dalam kondisi gembira, sakit dan penasaran. Kesadaran seakan tidak ingin beroperasi, sebaliknya tidur lelap. Namun, hanya berjalan sepersekiat menit saja.

Nah, dalam kasus ini ialah drama China yang berhasil menyingkirkan semua itu. Tidak jarang, penjadwalan yang sudah tertata rapi, seketika rapuh sampai bubrah karna episeode selalu memikat dan tidak ingin berpisah pada keberlanjutan cerita.

Munculkan kaum rebahan, jangan-jangan juga diunsuri oleh fenomena drama China ini. Meninabobokkan. Lupa kalau punya dapur. Kamar mandi. Ruang tamu. Dan jajanan ringan diluaran sana yang sedang digoreng dan mengenyangkan serta menghidupkan.

Dadang Wiratama
Dadang Wiratama

Lurah Cedak.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *