
Lamongan, 03 Oktober 2025 Hadir kembali forum bedah buku yang diadakan oleh progresif institute. Masih di tempat yang sama, Kedai Megah Lamongan.
Malam itu kebetulan cuaca sedang cerah, menambah suasana cukup menarik perhatian peserta membincangkan buku karya Paulo Friere. Tidak lupa suguhan kopi dan jajanan ringan menambah keramaian isi meja.
Sebelum menuju acara inti, lebih dulu didendangkan sebuah petikan gitar sebagai semangat tersendiri untuk pemanis acara. Fijar menyanyikan lagu Iwan Fals, kemudian disusul Fahmi yang memilih garapan Ikhsan Skuter sebagai sumbangan untuk mengiringi dan menambah semangat serta ketulusan setiap manusia untuk tetap bangkit.
Bersama Alexi Candra Putra KN sebagai pembedah buku “Pendidikan Kaum Tertindas” dan sebagai moderator Dadang Wiratama memberikan pantikan ritme suasana bedah buku menjadi cukup tajam tentang urgensi pendidikan hadir untuk kaum tertindas.
Selanjutnya pembedah memulai membicarakan bagaimana Paulo Freire merajut gagasan selama mendekam dalam jeruji besi. Kejadian itu menimpa dirinya sebab, Gerakan yang dilakukan sangat mengusik dan membahayakan penjajah.
Pembedah menceritakan sejarah singkat Paulo Freire selama di Brazil yang lahir 19 September 1921 dan meninggal 2 Mei 1997. Kemudian, pembedah juga menggambarkan permasalahan sosial, politik dan kebudayaan. Melihat itu, Freire tergerak memberi penyadaran melalui pendidikan.
Mengawalinya, Freire membentuk sebuah tim yang dikhususkan membantu gerakan penyadaran ini. Lapisan masyarakat yang menjadi sasaran adalah petani. Lumrah terjadi, sebab, pada saat itu pertanian menjadi roda perekonomian para penjajah.
Akibat gerakan massif yang dilakukan, kolonialis merasa terusik dan wajib untuk menyingkirkan sebelum semakin parah. Freire akhirnya di jebloskan ke dalam jeruji besi, sebagai pertanda mengakhiri gerakan yang dicita-citakan.
Hadap-Masalah
Pendidikan adalah proses pembentukan, penyadaran dan mengenal jati diri. Harapannya, menciptakan generasi lebih baik. Namun pendidikan yang terjadi justru sebaliknya; membungkan dan menundukkan. Disebutnya sebagai pendidikan gaya bank.
Pendidikan gaya-bank dipahami bahwa seorang guru merupakan sumber kebenaran. Siswa hanya mendengar, menampung dan melaksanakan. Ruang dialog ditiadakan. Sehingga, kesadaran kritis mustahil tercipta.
Alex, menjelaskan, seharusnya seorang guru menjadi fasilitator, pemantik dan memberi permasalahan nyata yang terjadi di masyarakat. Kemudian, siswa diajak untuk memberikan solusi, inilah yang dinamainya sebagai hadap-masalah. Selain itu, mengajarkan berfikir kritis dan memberikan penyadaran pada suatu hal yang dekat.
Di Indonesia misalnya, guru masih sangat jarang memberikan ruang dialog. Ia merasa sebagai penentu kebenaran. Model pembelajaran semacam ini dalam pandangan Freire tidak akan mampu menciptakan penyadaran kritis. Lebih dari itu, guru disibukkan dengan kegiatan monoton dan administratif.
Krisis Identitas
Para penjajah tidak jarang memaksakan budaya untuk diterapkan di semua lini kehidupan. Menyingkirkan budaya asal. Dan, berakibat pada krisis identitas. Fenomena ini, sangat dikecam oleh Freire, menurutnya, tidak semua harus digantikan, namun, mengelaborasi.
Penyadaran atas penjagaan sebuah identitas perlu digelorakan. Sebagai alatnya melalui pendidikan. Namun perlu juga berhati-hati, sebab, dunia pendidikan merupakan produsen terbesar atas pengenalan budaya asing.
Mulai dari busana, bahasa, sikap dan cara berfikir. Alex, menegaskan pentingnya kesadaran menyoal tentang budaya khas Indonesia. Hal itu pernah diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa muatan pendidikan harus menaruh budaya lokal.
Pengenalan ini, bertujuan agar menghindari krisis identitas. Seseorang atau sebuah bangsa patut percaya diri atas kekayaan yang diberikan, diwariskan dan dirawat para pendahulu. Ini menunjukkan kesadaran sejati tentang keberadaan asal-muasal.
Pada sesi akhir, Dadang sebagai moderator memberi ruang dialog kepada peserta. Acara terkesan meriah dan membangun. Hampir semua peserta memberi pendapat masing-masing. Tidak lupa, di penghujung acara, sebagai penutup ada sesi foto. Sebagi bentuk kenangan bahwa progresif institute masih dan akan terus berada di jalur literasi.



