
Ketika membaca karya sastra, sering kali kita tergoda untuk mendatangi latar tempat karya yang kita baca itu. Semacam napak tilas. Merasakan suasana dan segala macam peristiwa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh di dalamnya. Lebih dekat dan lebih intens. Hal itu terjadi dalam novel berjudul Jagat Rajawali karya Eko Darmoko.
Novel ini seperti arak-arakan sastrawan dunia. Di dalamnya disebut Haruki Murakami, Samuel Beckett, Pramoedya Ananta Toer, dan Gabriel Garcia Marquez, bahkan James Joyce. Penyebutan nama-nama itu tidak sekadar tempelan. Mereka berperan dalam menjalankan alur novel ini. Seperti yang dilakukan oleh tokoh bernama Rena dan Taufan yang melakukan perjalanan ke sebuah tempat yang dianggap mirip dengan latar naskah drama Menunggu Godot karya Samuel Beckett. Selain Menunggu Godot, mereka juga napak tilas ke latar novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.
Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer berlatar Surabaya. Eko Darmoko juga merupakan pengarang asal Surabaya. Kedekatan latar Eko Darmoko sebagai pengarang asal Surabaya ini mempengaruhinya untuk menyinggung karya prosa lain yang juga berlatar Surabaya.
Singgungan itu berupa fragmen napak tilas tokoh-tokohnya ke tempat tinggal Minke di jalan Kranggan dan Wonokromo sebagai tempat tinggal Nyai Ontosoroh. Akhirnya yang terjadi adalah suasana semacam déjà vu.
Hewan-Hewan di Kepala dan Arus Kesadaran
Novel ini sendiri berkisah tentang seorang bocah SMP bernama Taufan yang memelihara tiga hewan di kepalanya. Hewan itu berupa rajawali, lumba-lumba, dan harimau. Dengan penceritaan yang surealis, hewan-hewan itu terkadang muncul di depan matanya, dan kembali melesap ke dalam kepalanya.
Ketiga hewan tersebut merupakan konsekuensi imajinatif ketika tokoh Taufan mulai belajar menulis prosa. Imajinasi liarnya tak tertahankan sehingga hewan – hewan yang berada dalam kepalanya menjadi semacam hewan peliharaan, atau bahkan sahabat.
Dalam proses belajar menulisnya, Taufan dibimbing oleh seseorang yang dijuluki Bajul. Taufan memanggilnya Paman Bajul. Orang inilah yang mengenalkan Taufan pada jagat sastra dunia. Paman Bajul merupakan seorang pelaut. Ia juga seorang poliglot sehingga ia mampu menerjemahkan banyak karya sastra dunia ke dalam Bahasa Indonesia. Sebenarnya tokoh Paman Bajul ini memiliki karakter yang sangat kuat. Namun sayangnya ia mati di tengah- tengah novel.
Tokoh ini barangkali sebanding dengan Jiraiya pada anime Naruto. Kematiannya sangat disayangkan oleh penggemar, dan pembaca selalu berharap bahwa di akhir cerita tokoh ini akan dihidupkan lagi dengan sebuah kejutan plot twist. Tapi sayang, hal itu tak pernah terjadi.
Kematian tokoh penting di tengah cerita meninggalkan lubang sebagai sesuatu yang tak selesai. Meski begitu, lubang itu justru menjadi gema panjang. Seperti kematian Annelies dalam Bumi Manusia.
Novel ini juga menyebut Stream of Consiousness yang dilakukan oleh James Joyce. Arus Kesadaran. Istilah ini digunakan dalam ranah sastra untuk menggambarkan penggambaran aliran pikiran, perasaan, dan kesadaran yang berkelanjutan dari suatu karakter, yang seringkali tidak diatur secara logis atau naratif. Eko Darmoko memanfaatkannya sebagai rel bagi kereta yang berisi hewan-hewan di kepala Taufan.
Ending dari novel Jagat Rajwali karya Eko Darmoko ini memiliki nuansa yang sunyi, datar, dan asing sekaligus familiar seolah tak ada habisnya. Sebuah nuansa yang sama seperti ketika kita mengalami déjà vu.
Judul : Jagat Rajawali
Penulis : Eko Darmoko
Terbitan : Kepustakaan Populer Gramedia, 2025
Tebal : v + 247 hal
ISBN : 978-623-134-371-0



