
Sebetulnya, kami yang tinggal di Labuan Bajo bisa saja belanja online dengan cepat. Kami bisa memilih jasa pengiriman yang servisnya mampu memotong jarak dalam satu hari, bahkan satu jam. Namun, karena Labuan Bajo ada di bagian timur Indonesia, jadi berbeda.
Ada harga yang harus dibayar dari kecepatan tersebut. Harga yang jika dibandingkan dengan nilai barang yang kita pesan, bisa berkali-kali lipat nilainya. Sangat berbeda dengan di Jawa.
Di Jawa, kecepatan bukanlah komoditas, melainkan hak yang harus diterima dengan cuma-cuma. Telat sehari kita bisa komplain, jika lebih dari sehari kita bahkan dapat kompensasi.
Tapi kami yang tinggal di Labuan Bajo tidak mengeluh kok. Kami mencari akal. Mengakali hal tersebut, kami punya yang namanya jastip. Mekanismenya adalah paket dikirim ke lokasi jastip yang basenya di Surabaya, lalu dari Surabaya paket kami dikirim lewat laut ke Labuan Bajo.
Durasi pengiriman untung-untungan karena mengikuti jadwal layar kapal. Ada yang lima hari sudah sampai, seminggu, sepuluh hari, setengah bulan, ya seberuntungnya kita lah. Tiap kilonya dihargai 8-10 ribu, dan itu termasuk murah jika dibandingkan dengan jasa kirim yang berlabel kilat.
Mindfulness dan Sembilan Belas Hari
Secara pribadi, aku menikmati pola pembelian online dengan durasi yang lama ini. Hidupku jadi lebih mindful. Benar kata Maudy Ayunda, memang harus mindful, guys, supaya tidak overwhelmed. Bahkan dampak dari mindfulness ini, jangankan memberontak, kita malah jadi enjoy dengan keadaan.
Lihatlah, kini aku tidak lagi terburu-buru menunggu paket tiba. Aku jadi lebih mempertimbangkan kebutuhan sebelum membeli barang. Pengalaman belanja online mengajarkan saya untuk lebih menghargai setiap barang yang saya beli, sebab proses pengiriman sangat menguji kesabaran.
Aku sempat ikut haul semesta buku Gramedia beberapa bulan lalu, dan membutuhkan waktu kurang lebih sembilan belas hari dari paket terkirim untuk sampai di tanganku. Sudah tahu begitu, kenapa tidak ikut semesta buku offline saja kalau begitu kak?
Ah, itu dia! Di Labuan Bajo, tidak akan kita temukan toko buku satupun kecuali toko buku tulis. Toko buku baca? Jangan harap. Toko buku baca satu-satunya di Labuan Bajo terpendam dengan dingin di dalam gedung bandara internasionalnya, menjual buku-buku impor yang tidak hanya harganya yang tak terjangkau warga lokal, tapi aksesnya pun siapa yang bisa masuk, kecuali kita bawa boarding pass.
Aku suka mampir di toko buku yang dinamai Periplus itu, sekadar untuk beli post card lalu belakangnya kucoret-coret untuk mengabadikan momen sebelum naik pesawat. Lumayan, harganya hanya 7 ribu rupiah, dua kali lipat dari harga post card yang kubeli di Malaysia.
Mencari Toko Buku di Labuan Bajo
Awalnya aku biasa saja dengan ketiadaan toko buku di Labuan Bajo ini. Toh aku masih bisa membeli buku secara online, menunggu dengan mindful selama lebih dari setengah bulan, kemudian lanjut menikmati buku yang kupesan.
Tapi tunggu dulu. Harusnya buku adalah hak seluruh bangsa, kan? seluruh warga Labuan Bajo harusnya menikmati buku juga. Anak-anak kecil, remaja, orang-orang dewasa, bapak/ibu paruh baya, oma-opa, petani, dosen, penjaga warung, semuanya. Semuanya harusnya juga menikmati buku.Dan harusnya, jika ini adalah perkara buku yang jadi pilar pendidikan, warga tidak seharusnya menunggu.
Labuan Bajo ini destinasinya super prioritas, tapi di data Kemendikdasmen, ia masuk pada kategori 3T; tertinggal, terdepan, dan terluar. Untuk bisa keluar dari member 3T ini, harusnya kita difasilitasi melalui buku.
Minimal disediakan lah toko buku, supaya warganya jalan-jalan ga cuma ke pantai, laut, dan bukit. Setidaknya dibangunlah satu dua tiga empat toko buku, supaya warganya juga bisa merasakan kebelet berak bukan karena kebanyakan makan, tapi karena berlama-lama di toko buku.
Minimal dibangun lah toko buku, supaya warganya bisa merasakan bahwa yang bisa jadi home haven; tempat dimana ketenangan dan kedamaian muncul, tidak hanya bisa didapat dari rumah ibadat melainkan juga dari toko buku. Saya dukung.



