
Waktu Pintu Batu, sebuah buku puisi yang mengaburkan batas yang nyata dan yang tak nyata. Sejarah dan dongeng yang mengendap kemudian menjadi puisi, dan napas hidup orang-orang desa yang tenang.
Terdapat dua fragmen dalam buku yang bertema lokalitas ini: “Waktu Pintu Batu”, dan “Hujan Tanah Lumpur”. Pada fragmen pertama, penyair mencoba menggambar peristiwa-peristiwa masa lampau menjadi puisi-puisi yang judul-judulnya berawalan “Dongeng”, terlepas apakah peristiwa tersebut merupakan dongeng atau benar-benar pernah terjadi.
Syauqi, sebagai penulis yang lahir dan tinggal di Lamongan, menempatkan puisi “Dongeng Batu yang Menunggu” pada urutan pertama dalam buku ini. Di bawah judul puisi itu, juga ditulis “Tanjung Kodok” (sebuah batu di pantai utara Lamongan yang bentuknya menyerupai kodok).
Semacam isyarat bahwa puisi ini merupakan gambaran puitik penulis ketika memandang Tanjung Kodok sebagai sebuah peristiwa.
Dalam puisi ini, terdapat diksi-diksi yang menyusun subjudul (fragmen) pertama. Yakni waktu, pintu, dan batu. Seperti pada penggalan berikut: waktu batu diriku/waktu pintu dirimu//sebagai batu/aku kelam memanggil hujan/aku karang menjorok lautan/yang mengantar perjalanan//bersama debur dan terjang/menyepuh kesetiaan//entah, kapan dia kembali//tapi penantianku batu/tapi penantianmu pintu//.
Kesalehan yang Turun ke Tanah
Selain puisi di atas, dalam fragmen pertama, terdapat pula puisi berjudul “Dongeng, di Drajat”. Puisi ini cukup menarik karena merekam petuah yang diajarkan oleh Sunan Drajat. “Berikanlah payung pada orang yang kehujanan. Berikanlah makan pada orang yang lapar. Berikanlah pakaian pada orang yang telanjang. Berikanlah tongkat pada orang yang buta“.
Syauqi melakukan perbandingan antara tongkat Sunan Drajat dengan tongkat Nabi Musa yang mengalahkan sihir, juga dengan tongkat Sunan Bonang yang dijaga oleh Brandal Lokajaya di tepi sungai sampai akhirnya Sang Brandal mendapat julukan Sunan Kalijogo.
Pada perbandingan dalam puisi Syauqi, Sunan Drajat memberikan tongkatnya kepada orang biasa agar bisa pulang. Mencerminkan bahwa seseorang bisa berbuat baik (ibadah) dengan cara yang sederhana. Yakni, membantu orang lain.
Pada fragmen kedua (Hujan Tanah Lumpur) penyair menyajikan puisi-puisi yang tidak lagi berpusar pada peristiwa di masa lampau. Melainkan peristiwa sehari-hari yang begitu dekat dengan orang-orang desa. Hal-hal seperti pematang sawah, ritual bumi, dan anak-anak yang bermain di sawah berlumpur, menjadi subtema dalam fragmen kedua ini. Puisi-puisi yang menggambarkan hujan, juga tanah, lalu lumpur.
Puisi-puisi pada fragmen kedua menggambarkan kehidupan sehari-hari yang mengalir. Terdapat unsur religiusitas yang tenang dalam puisi-puisi A. Syauqi Sumbawi. Penyair melukiskan rahmat Tuhan lewat hujan yang menggemburkan tanah, sehingga padi tumbuh subur. Penyair cukup peka dengan hal-hal yang terlihat remeh tetapi merupakan rahmat.
Dunia Lampau ke Masa Kini
Hubungan antara manusia sebagai makhluk dengan sang pencipta tergambar dalam puisi-puisi Syauqi, terutama pada puisi-puisi yang yang mengangkat soal petani dan sosial budaya yang melingkupinya.
Penyair menunjukkan bahwa hubungan petani dengan Tuhan berbeda dengan profesi lain. Dialog petani dengan Yang di Atas adalah dialog langsung tanpa sekat-sekat. Hujan turun langsung dari langit. Bukan dari atasan atau pelanggan. Di situlah petani menampilkan kedekatan dengan Sang Pencipta.
Lokalitas, sejarah, dan religiositas merupakan unsur yang sublim dalam buku ini. Hal ini berhubungan dengan latar belakang penyair yang lahir dan tinggal di sebuah kabupaten di pesisir utara Jawa yang memiliki banyak kearifan lokal.
Selain itu, penyair juga pernah menjadi santri di dua pondok pesantren, dan juga alumni jurusan Sejarah Kebudayaan Islam di salah satu kampus di Yogyakarta.
Buku berisi 30 puisi ini membawa pembaca pada dunia lampau yang tergambar kabur karena melintasi zaman lewat mulut orang-orang tua dan sampai pada masa kini sebagai sebuah peristiwa yang semakin sulit dikenali nyata tidaknya. Semacam dongeng. Seakan-akan peristiwa sejarah mengalami distorsi dalam sistem distribusinya yang rumit itu.
Naskah buku ini menyabet juara 3 sayembara manuskrip buku puisi Dewan Kesenian Jawa Timur tahun 2021.
Judul: Waktu Pintu Batu
Penulis: A. Syauqi Sumbawi
Penerbit: Rumah Semesta Hikmah
Dimensi: 13x19cm.
Tebal: x+70 hlm.
Terbit: Januari, 2022



